DetikNews
Senin 15 April 2019, 20:27 WIB

Selain Apartemen, Siesa Darubinta Ditanya Soal Aliran Duit Bowo Sidik

Haris Fadhil - detikNews
Selain Apartemen, Siesa Darubinta Ditanya Soal Aliran Duit Bowo Sidik Foto: Siesa Darubinta (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - KPK memeriksa Siesa Darubinta sebagai saksi kasus dugaan suap Bowo Sidik Pangarso. Ada dua hal yang dicecar penyidik kepada Siesa dalam pemeriksaan hari ini.

"Penyidik juga bertanya atau mendalami lebih lanjut sejauh mana pengetahuan dari saksi terkait dengan informasi-informasi aliran dana," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah di gedung KPK, jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Senin (15/4/2019).


Selain soal keberadaan Bowo di apartemen saat operasi tangkap tangan (OTT), Siesa juga dicecar terkait informasi aliran dana kepada politikus Golkar itu. Siesa sendiri diperiksa sebagai saksi untuk tersangka lain di kasus ini, yaitu Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) Asty Winasti.

"Kedua penyidik juga bertanya atau mendalami lebih lanjut sejauh mana pengetahuan dari saksi terkait dengan informasi-informasi aliran dana," ujarnya.

Siesa merupakan salah satu saksi yang sempat diamankan KPK saat OTT terhadap Bowo dari apartemen di bilangan Permata Hijau, Jakarta Selatan, pada Rabu (27/3) malam. Bowo sendiri tak diamankan dari apartemen itu karena disebut sudah pergi dari lokasi saat tim KPK sedang berupaya masuk ke apartemen.

Selain Siesa, sopir Bowo diamankan dari apartemen tersebut. Saat itu, keduanya dibawa ke gedung KPK untuk menjalani pemeriksaan, meski kemudian dilepas.

Bowo ditetapkan KPK sebagai tersangka karena diduga menerima suap dari Asty Winasti lewat Indung. Suap itu diduga terkait upaya membantu PT HTK sebagai penyedia kapal pengangkut distribusi pupuk dari PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog).


KPK menduga ada 7 kali pemberian suap dari Asty untuk Bowo, termasuk uang Rp 89,4 juta yang diterima Bowo melalui Indung saat OTT. Sementara itu, 6 penerimaan sebelumnya disebut KPK sebesar Rp 221 juta dan USD 85.130 atau sekitar Rp 1,5 miliar.

Bowo, yang merupakan anggota Komisi VI DPR, juga diduga menerima gratifikasi Rp 6,5 miliar dari pihak lain. Total dugaan suap dan gratifikasi yang diterima Bowo berjumlah Rp 1,6 miliar dari PT HTK dan Rp 6,5 miliar dari pihak lainnya alias Rp 8 miliar yang kemudian ditemukan dalam 400 ribu amplop yang diduga untuk 'serangan fajar' Pemilu 2019.
(haf/mae)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed