Cemas Kerusuhan, Warga Palembang pun Antre BBM
Kamis, 29 Sep 2005 02:10 WIB
Palembang - Meskipun stok BBM cukup, masyarakat tampaknya panik dengan rencana pemerintah menaikan BBM pada 1 Oktober mendatang. Bahkan, sebagian khawatir adanya aksi besar-besaran yang berbuntut kerusuhan. Mereka pun ramai-ramai antre membeli bensin, solar dan minyak tanah."Saya percaya BBM masih ada. Tapi, kita tidak tahu situasinya besok. Saya dengar akan ada aksi besar-besaran di jalan menjelang kenaikan BBM. Ya, hitung-hitung ini sebagai cadangan atas kemungkinan yang tidak diinginkan," kata Adi, warga Kenten, kepada detikcom, saat mengantre membeli bensin di salah satu SPBU di Jalan R Sukamto Palembang, Rabu (28/9/2005).Adi yang mengaku memiliki dua kendaraan roda empat, mengatakan sudah mengisi penuh tangki bensin mobilnya. "Besok ke kantor saya menggunakan motor saja," katanya.Adi adalah salah satu warga Palembang yang antre membeli BBM di sejumlah SPBU diPalembang. Suasana antrean ini sebetulnya mulai terasa mulai Selasa (27/9/2005) kemarin. Meskipun sebenarnya tidak satu pun SPBU yang tutup lantaran stok terbatas. "Stok banyak, kok. Tapi, mungkin masyarakat cemas," kata Susilo, petugas SPBU di Jalan Radial Palembang.Antrean pembelian minyak tanah juga tampak di kampung-kampung yang mempunyai pengecer. Sementara bila warga yang di lokasi tempat tinggalnya tidak ada pengecer, terpaksa membeli ke pengecer di kampung lain atau membeli minyak tanah di warung dengan harga cukup mahal."Ya, lebih baik antre, dari pada beli di warung yang dijual Rp1.700 per liter. Di pengecer kan cuma Rp1.400. Ini juga buat tambah stok," kata Rosa, warga Kenten.Sementara para pengecer mempunyai kebijakan mengutamakan pembeli yang sekampung saja. "Kalau dari kampung lain, tetap kita layani tapi hanya tiga liter," kata Mirah, pengecer di Seduduk Putih, Kenten.Ibu-ibu yang antre minyak tanah ini pun mengkhawatirkan akan adanya aksi besar-besaran yang berbuntut kerusuhan menjelang kenaikan BBM. "Saya dengar ada massa yang siap merusak dan merampas pertokoan seperti peristiwa Mei 1998 lalu, jika BBM tetap dinaikan. Kami kan khawatir. Presiden harus benar-benar memikirkan soal ini," kata Rosa.Sementara warga di Bentung, Banyuasin, Sumatra Selatan, atau sekitar 80 kilometer dari Palembang, selama tiga hari ini terpaksa harus berhemat BBM atau harus ke Palembang atau ke Sekayu sekitar 60 kilometer dari Betung untuk membeli BBM. Sebab satu-satunya SPBU di kota itu tutup selama tiga hari."Sudah tiga hari ini SPBU di Betung mereka katakan kehabisan stok BBM. Ya, mau apa lagi, terpaksa membeli ke Palembang," kata Mahmud, warga Betung yang turut antre membeli bensin di SPBU di Jalan R Sukamto.
(ahm/)











































