Selama Bulan September 13 Pasien DBD Meninggal di Riau
Rabu, 28 Sep 2005 19:54 WIB
Pekanbaru - Selama bulan September 2005 , wabah demam berdarah dengue (DBD) kembali mewabah di Riau. Dilaporkan 13 orang pasien meningal dunia yang sebagian besar anak-anak dibawah usia 12 tahun.Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Ekmal Rusdy mengungkapkan hal itu kepada wartawan, Rabu (28/09/2005) di ruang kerjanya, Jl Cut Nyak Dien, Pekanbaru. Selama bulan September, lanjut Ekmal, terjadi peningkatan penyebaran demam berdarah di Riau. Dari 13 pasien meninggal dunia, 8 pasien di antaranya berada di Pekanbaru. Tingginya tingkat kematian dalam sebulan ini, menjadikan kota Pekanbaru dinyatakan dalam kondisi luar biasa (KLB)."Sejak September ini, kota Pekanbaru kita tetapkan terjadi KLB. Dalam sebulan ini jumlah pasien mencapai 160 orang dengan 8 pasien meninggal dunia. Sedangkan untuk di Riau dengan 11 kabupaten sudah mencapai 1.000 kasus DBD," katanya.Ekmal mengakui, penyebaran DBB menjadi penyakit rutin menyerang warga dalam setiap tahun. Sosialisasi program pemberantasan jentik dan nyamuk Aedes Aegepty pembawa virus DBD itu, sudah didengungkan sejak awal tahun. Mengingnat saat ini musim hujan sangat memungkikan wabah DBD kembali menyebar."Sejauh yang kita pantau, aksi penanggulangan tetap belum dirasakan maksimal baik dari pemerintah sendiri dan masyarakat. Itu bisa dibuktikan dengan jumlah penderita DBD di Riau yang terus meningkat. Kurangnya usaha pencegahan memicu jatuhnya banyak korban jiwa hingga mencapai 13 orang," kata Ekmal.Data Diskes Pemprov Riau, diketahui korban meninggal DBD di Pekanbaru, yakni, Muhammad Arif Rahman (7 bulan), Zaira (8 bulan), Wahyuni (19), Rosniawati (27 ), Rahmat Putra (2), Fradil Yoritama (5), Adinda Anggeli (7). "Satu pasien lagi kita belum diketahui namanya. Sedangkan lima korban BDB lainnya berada di kabupaten," kata Ekmal.Ekmal menjelaskan, sebagian besar korban BDB yang meningal dunia masuk ke rumah sakit dengan kondisi sudah kritis. Anak-anak terserang DBD itu terindikasi kurang mendapat perawatan sehingga sulit untuk tertolong. Biasanyanya, korban mengalami kritis setelah masa inkubasi selama lima hari."Jika korban DBD itu mendapat perawatan selam masa kritis, kemungkinan secara medis masih bisa diselamatkan. Tapi bila sudah terjadi pendarahan baru di bawa kerumah sakit, pertolongan secara medis sudah sulit kita lakukan," kata Ekmal.Penyakit DBD ini, lanjut Ekmal, sangat mudah terjangkit pada anak-anak balita karena daya tubuhnya paling lemah. Penyebarannya juga terindikasi lebih marah diperkotaan karena berkaitan lingkungan yang kumuh.
(jon/)











































