Pamor SBY Turun Drastis

Riswandha:

Pamor SBY Turun Drastis

- detikNews
Rabu, 28 Sep 2005 18:01 WIB
Yogyakarta - Pengamat politik UGM, Prof Dr Riswandha Imawan mengatakan dampak dari rencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), pamor dan akuntabilitas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dipastikan turun drastis. Bahkan bila digelar pemilihan presiden hari ini, SBY juga pasti akan kalah."Dampak kenaikan harga BBM bagi rakyat luar biasa besar. Akibatnya, legitimasi pemerintahan SBY turun drastis," kata Riswandha Imawan menjawab pertanyaan wartawan seusai menghadiri acara pengukuhan guru besar Fisipol Prof Dr Yahya Muhaimin di Balai Senat, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Rabu (28/9/2005).Lebih lanjut Riswandha menilai pemerintah saat ini sangat aneh dalam mengambil kebijakan menaikkan harga BBM. Pemerintah lebih tergantung kepada masyarakat internasional dibandingkan dengan masyarakat sendiri. Sebab kenaikan BBM saat ini adalah tuntutan masyarakat internasional agar harga BBM sama dengan harga di pasaran internasional tanpa mempertimbangkan daya beli masyarakat."Akuntabilitas masyarakat terutama terhadap pemerintah SBY pasti akan turun drastis. Bila diadakan pemilu hari ini, saya yakin SBY pasti kalah. Sudah pasti hancur-hancuran karena dia menaikkan harga BBM di saat harga-harga sudah mulai merambat dan naik mendekati puasa dan lebaran," ujarnya.Guru besar Fisipol UGM ini berpendapat sepertinya SBY diumpankan oleh wapresnya karena dalam keadaan kritis seperti ini, wapres justru pergi ke Afrika untuk sebuah tujuan yang tak ada kaitannya dengan penanggulangan krisis di Indonesia. Seharusnya SBY itu sensitif dan menyadari bahwa dia itu sudah dua kali dikerjain oleh wapresnya. Pertama saat pergi ke Cina. "Jadi kalau kita lihat siapa yang paling memaksakan menaikkan harga BBM itu, ya tim ekonominya yang dipimpin wapres," katanya.Ia menambahkan ke depan pemerintahan SBY tidak akan berjalan efektif. Contohnya koordinasi antara tim ekonomi dengan tim politik dan hukum sudah tidak kompak. Bahkan diantara internal tim ekonominya juga terlihat sudah tidak kompak lagi.Riswandha menyebutkan saat ini SBY sudah tak bisa lagi mengelak atau mengatakan hubungannya dengan wapres itu harmonis. Namun ada something wrong atau ada sesuatu yang salah. Kalau SBY tetap dengan sikap seperti ini, lanjut Riswandha, maka SBY hanya jadi tameng penanggungjawab terhadap inovasi-inovasi liar di luar kontrol. "Jadi SBY tak usah ragu-ragu segera lakukan reshuffle," tegas Riswandha. (jon/)


Berita Terkait