detikNews
Sabtu 13 April 2019, 18:44 WIB

Minta Pendukung Optimistis Indonesia Maju, Ini Pidato Lengkap Jokowi di GBK

Zunita Putri, Faiq Hidayat, Ray Jordan - detikNews
Minta Pendukung Optimistis Indonesia Maju, Ini Pidato Lengkap Jokowi di GBK Capres petahana Jokowi di Konser Putih Bersatu di Stadion GBK (Foto: Pradita Utama/detikcom)
Jakarta - Capres petahana Joko Widodo (Jokowi) menutup kampanye akbar dengan Konser Putih Bersatu yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK). Dalam pidatonya, Jokowi mengajak masyarakat Indonesia untuk tetap menjaga persatuan dan memupuk optimisme.

"Tidak ada satu pun negara yang maju kalau rakyatnya terpecah belah, negara maju rakyatnya pasti bersama-sama membangun negara. Tidak ada negara maju di manapun yang rakyatnya pesimis. Negara yang maju di manapun pasti rakyatnya optimis. Betul? Oleh sebab itu modal besar untuk Indonesia maju adalah rasa optimis yang besar," kata Jokowi di GBK, Sabtu (13/4/2019).


Dalam pidatonya itu, Jokowi menggambarkan kondisi Indonesia di tengah terjangan krisis ekonomi, sosial, politik yang dihadapi negara lain. Dia mengatakan Indonesia sudah ada di jalur yang benar.

Jokowi mengatakan Indonesia punya tantangan besar untuk menuju bangsa yang lebih maju. Dia menegaskan, bersama Ma'ruf Amin jika menang Pilpres 2019, akan berusaha membuat Indonesia lebih baik berdasarkan kebutuhan dari masyarakat.


Setelah bersama Jusuf Kalla (JK) dan Kabinet Kerja fokus pada pembangunan infrastruktur, di lima tahun ke depan dia akan fokus pada pembangunan sumber daya manusia (SDM). Di bagian akhir pidatonya, Jokowi mengajak masyarakat untuk berbondong-bondong datang ke TPS untuk menyalurkan hak politiknya.

"Oleh sebab itu tanggal 17 April 2019 marilah kita mengajak teman-teman kita, rekan-rekan kita, saudara, tetangga-tetangga kita sekampung sedesa untuk berbondong-bondong ke TPS, untuk Indonesia Maju, ayo kita pilih 01. Saya mengajak, saya mengajak tanggal 17 April 2019 kita datang ke TPS dengan baju putih. Tapi, kalau nggak punya baju putih juga nggak apa," tuturnya.


Berikut pidato lengkap Jokowi:

Angkat jarinya! Angkat jempolnya!

Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sore hari ini saya sangat berbahagia sekali. memang negara kita ini adalah negara besar, bangsa besar yang terdiri dari suku berbeda, agama berbeda, tradisi dan budaya berbeda-beda. Dari Sunda mana? Sampurasun. Dari Jawa, pripun? Jawa Timur apa kabare, rek? Dari Aceh peue haba? Dari Riau dan Sumbar, Jambi, apo kabar? Dari Sumut horas. Juga saya ingin menyapa yang ada di Sulawesi apa kareba? Yang di Sulut dan yang di Kalimantan, di Kalimantan. Dari Bali. Dari Papua, apa kabar Pace, Mace? Wa wa wa.

Apa kabar semuanya? Baik. Apa kabar Indonesia? Baik. Inilah sekali lagi perbedaan-perbedaan keragaman keragaman yang kita miliki, kebhinnekaan yang kita miliki, yang harus terus kita rawat dan jaga bersama. Sanggup? Perlu kita ingat, perlu kita ingat bahwa dasar negara kita, ideologi kita, Pancasila, NKRI, bhinneka tunggal ika, UUD 1945 sudah final! Harga mati dan tidak bisa diganggu gugat.

Siapa yang setuju tunjuk jari. Siapa yang setuju angkat jempol.

Bapak-Ibu saudara sebangsa dan setanah air, rakyat Indonesia yang saya cintai, jelas bahwa komitmen kita, komitmen kita semuanya terus menjaga dan merawat nilai luhur Pancasila. Dan tentu saja program-program yang bertumpu dan berpihak kepada rakyat, apapun daerah dan dari mana asalnya, tanpa terkecuali, sekali lagi semua yang kita kerjakan untuk negara, untuk rakyat Indonesia.

Suasana di Konser Putih BersatuSuasana di Konser Putih Bersatu (Foto: pool)

Sore hari ini kita berkumpul bersama dalam rapat umum rakyat adalah dalam rangka berjuang memajukan Indonesia. Saya melihat di sini tidak ada rasa pesimis. Betul? Tidak ada kata pesimis setuju? Bapak-Ibu dan saudara sekalian, tidak ada satu negara pun, negara maju yang tidak memiliki infrastruktur yang baik. Negara maju pasti memiliki infrastruktur yang baik, benar. Tidak ada satu pun negara maju yang tidak punya SDM yang unggul dan berkualitas. Oleh sebab itu kia selalu lima tahun fokus infrastruktur, dan lima tahun ke depan berfokus kepada pembangunan kualitas SDM.

Dan tidak ada satu pun negara yang maju kalau rakyatnya terpecah belah, negara maju rakyatnya pasti bersama-sama membangun negara. Tidak ada negara maju di manapun yang rakyatnya pesimis. Negara yang maju di manapun pasti rakyatnya optimis. Betul? Oleh sebab itu modal besar untuk Indonesia maju adalah rasa optimis yang besar. Sebab itu saya ajak pada sore hari ini, jangan sampai ada rasa pesimis. Yang terus kita kobarkan rasa optimis. Optimis untuk maju! Betul?

Bapak-Ibu dan saudara-saudara sekalian, kita ini sudah masuk negara G20, negara dengan ekonomi terkuat. 20 negara dengan ekonomi terkuat. Bahkan menurut proyeksi, dan perkiraan, negara kita di tahun 2045 akan menjadi ekonomi terkuat empat besar di dunia. Oleh sebab itu kita harus menyiapkan, kita harus menghadapi tantangan dan rintangan yang di hadapan kita. Jangan sampai kita merasa pesimis, merasa lemah, rendah karena bangsa ini adalah banga besar, negara ini adalah negara besar.

Negara besar, bangsa besar yang memiliki masa depan yang baik, dan memiliki hajat orang lebih baik. Siapa yang setuju tunjuk jari!

Saya sore hari ini sangat bersemangat, optimis. Meskipun saya tahu Bapak-Ibu saudara sekalian sudah sejak pagi, sudah sejak siang, sejak kemarin berada di GBK ini. Oleh sebab itu saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya.

Kita, kita masih memerlukan pekerjaan-pekerjaan besar karena di depan kita banyak tantangan yang harus kita hadapi. Tapi perbaikan negara sebesar Indonesia, yang kta lakukan demi kesejahteraan masyarakat, kita harus tahu apa yang dibutuhkan rakyat, apa yang diinginkan rakyat. Oleh sebab itu kenapa saya selalu terus turun ke bawah, turun ke desa, turun ke kampung, turun ke daerah-daerah. Karena saya ingin mengecek mengontrol langsung bahwa program-program yang kita lakukan itu berjalan di lapangan. Jangan sampai ada program yang mangkrak di tengah jalan. Setuju?

Dalam angka-angka yang sudah kita miliki, kita tahu bahwa angka kemiskinan sudah berada pada angka satu digit yang sebelumnya dua digit. Ini kita harus syukuri.

Angka pengangguran juga turun dari 5,9 menjadi 5,3 persen ini juga harus kita sukuri. Di tengah ekonomi global yang sulit, di tengah ekonomi global yang terus menerus kita tahu negara kita bisa bertahan dengan pertumbuhan ekonomi di atas angka 5. Ini juga kita harus syukuri. Kita harus bersyukur pada Allah SWT. Jangan sampai kita tidak bersyukur. Jangan sampai kita kufur nikmat. Benar?

Seluruh rakyat Indonesia yang saya cintai, Bapak-Ibu yang hadir di GBK. Saya dan Profesor Kiai Haji Ma'ruf Amin telah sepakat mewakafkan diri kami berdua untuk kesejahteraan hidup rakyat Indonesia. Kita memastikan lima tahun ke depan negara kita akan lebih kuat ekonominya. Untuk petani, untuk para nelayan, untuk para guru, buruh, untuk para dokter, untuk para PNS, TNI, Polri, seniman, pekerja kreatif, pengusaha kecil menengah, besar, baik anak muda ibu-ibu, bapak-bapak. kita harus pastikan hidup ini lebih baik dari hari ini. Kami bertekad tidak akan ada lagi rakyat yang teringgal di bawah garis kemskinan. Semuanya kita harus maju. Setuju?

Tapi Bapak-Ibu saudara yang saya hormati, menakhodai kapal besar seperti negara kita yang sudah penduduknya 269 juta orang tidaklah mudah, membutuhkan pengalaman menakhodai 269 juta negara besar sekali lagi membutuhkan pengalaman. Saya alhamdulillah bersyukur mengawali karir politik pemerintahan dimulai dari yang terkecil sebagai wali kota, dua periode kemudian naik sebagai gubernur di DKI Jakarta. Kemudian naik lagi sebagai presiden yang berjalan 4,5 tahun. Pengalaman seperti ini sangat perlu dalam rangka menakhodai negara sebesar Indonesia.

Itulah yang dinamakan rekam jejak. Orang harus lihat rekam jejak seperti apa, pengalaman seperti apa, prestasinya seperti apa. Dan saya ini tidak memiliki beban masa lalu, nggak ada! Saya ulangi, saya tidak memiliki beban masa lalu, tidak ada.

Perlu saya tegaskan pada sore hari ini, juga perlu saya tegaskan bahwa negara Indonesia, negara kita Indonesia ini tidak akan bubar. Kita sekarang ini sudah berada pada jalan yang benar. Berada pada trek yang benar. Memang kadang-kadang ada kesulitan, memang kadang-kadang ada sedikit kepahitan. Tapi itulah sebuah bangsa besar menuju sebuah Indonesia maju. Jangan semua minta instan, jangan semua minta dadakan. Tidak ada dalam negara sebesar Indonesia itu tidak ada. Percaya saya. Oleh sebab itu dengan trek yang sudah betul, dengan jalan yang sudah benar, kita optimis negara kita Indonesia ke depan akan lebih maju.

Bapak-Ibu saudara sekalian yang saya cintai, yang saya banggakan, pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih telah hadir bersama menjadi bagian dari sejarah bangsa Indonesia. Pada hari ini saya ingin sampaikan terima kasih kepada seluruh koalisi partai. Terima kasih PDIP, Bu Mega terima kasih. Terima kasih kepada Partai Golkar, Pak Airlangga terima kasih. Terima kasih kepada Partai NasDem, Bang Surya Paloh terima kasih. Terima kasih kepada partai PKB, Pak Muhaimin terima kasih. Terima kasih kepada PPP, Pak Monarfa terima kasih. Terima kasih kepada Partai Hanura, Pak OSO terima kasih. Terima kasih kepada PKPI, Pak Diaz terima kasih. Terima kasih kepada Perindo, Pak Hary Tanoe terima kasih. Terima kasih juga kepada PSI, partai koalisi Ibu Grace terima kasih. Serta juga saya ucapkan terima kasih kepada PBB, Prof Yusril terima kasih.

Dan tentu saja saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh relawan yang hadir, relawan-relawan, alumni-alumni, simpul relawan, relawan generasi milenial yang hadir. Hati-hati.

Dan wabilkhusus saya ingin sampaikan terima kasih kepada para alim, para ulama, habaib, kiai, santri ustaz seluruh pemuka agama, pemuka masyarakat, tokoh masyarakat yang banyak hadir di sini, terima kasih atas dukungan, doanya. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih. Hati-hati. Semuanya kita bersatu disini untuk Indonesia maju. Angkat jarinya, angkat jempolnya.

Terakhir, Bapak-Ibu saudara sekalian, bangsa Indonesia, rakyat Indonesia hari Rabu 17 April 2019 ini akan memberikan suara yang menentukan arah ke depan bangsa ini. Arah ke depan negara kita Indonesia lima tahun ke depan. Oleh sebab itu pilihlah pemimpin yang tahu dan peduli dan tahu kebutuhan rakyat. Pilihlah pemimpin yang datang dari rakyat dan untuk rakyat. Pilihlah pemimpin yang selalu mengedepankan kepentingan rakyat sebagai kepentingan nomor 1.

Oleh sebab itu tanggal 17 April 2019 marilah kita mengajak teman-teman kita, rekan-rekan kita, saudara, tetangga-tetangga kita sekampung sedesa untuk berbondong-bondong ke TPS, untuk Indonesia maju, ayo kita pilih 01. Saya mengajak, saya mengajak tanggal 17 April 2019 kita datang ke TPS dengan baju putih. Tapi, kalau nggak punya baju putih juga nggak apa.

Saya mengajak memakai baju putih, karena yang akan dicoblos bajunya? Putih. Dan juga saya tekankan jangan ada yang takut pergi ke TPS. Karena TNI dan Polri kita akan menjaga keamanan seluruh pemilih yang datang ke TPS.

Atas nama cinta, atas nama cinta, betapa sebetulnya saya ingin menyalami Bapak-Ibu semuanya. Memeluk saudara-saudara semuanya, dalam sebuah pelukan satu Indonesia. Terima kasih, terima kasih juga saya ucapkan spesial kepada Bapak Jusuf Kalla yang telah 4,5 tahun mendampingi saya, dalam kesulitan, dalam menghadapi tantangan-tantangan, sehingga sampai hari ini negara berjalan dengan baik. Dan akhir kata saya tutup. Terima kasih wassalamualaikum warrahmatullahi wabarokatuh.

Angkat jarinya. Angkat jempolnya. Waktu saya berikan kepada Kiai Haji Ma'ruf Amin.


Simak Juga "GBK Menggelora, Ini Suasana Kemeriahan Konser Putih Bersatu":

[Gambas:Video 20detik]



(jbr/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com