DetikNews
Jumat 12 April 2019, 12:01 WIB

Polisi akan Panggil Pihak Taman Safari Terkait Perdagangan Satwa

Audrey Santoso - detikNews
Polisi akan Panggil Pihak Taman Safari Terkait Perdagangan Satwa Bareskrim Polri (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Polisi akan memanggil kurator Taman Safari Indonesia (TSI) terkait kasus perdagangan satwa liar yang sedang ditangani. Polisi menduga ada oknum TSI yang bekerja sama dengan sindikat perdagangan ilegal hewan-hewan yang dilindungi.

"Permintaan keterangan terhadap pihak TSI. Tentunya mungkin pada level kurator. Sejauh ini diduga begitu (ada keterlibatan dengan sindikat perdagangan satwa liar)," kata Kanit V Subdit I Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri AKBP Sugeng kepada detikcom, Jumat (12/4/2019).


Ditanyai kapan akan memanggil pihak TSI, Sugeng menjawab pihaknya belum menentukan jadwal pemeriksaan. Namun dia memastikan pemanggilan akan dilakukan guna mengusut tuntas perkara sindikat perdagangan hewan dilindungi ini.

Sugeng menceritakan terbongkarnya komunikasi antara diduga oknum TSI dengan sindikat perdagangan satwa liar ilegal berawal dari pengembangan kasus atas nama tersangka DR, yang kedapatan menjual monyet Yaki di Bandung, Jawa Barat, pada Januari 2019 lalu.

"Pengembangan penyidikan ini dari jaringan Saudara DR kemudian ada yang namanya AH. Dia yang diduga kuat dia ada jalinan kerja sama dengan oknum TSI atas nama IP," jelas Sugeng.


Sugeng menuturkan jalinan komunikasi antara AH dan oknum TSI soal urusan satwa liar sudah terkonfirmasi melalui pemeriksaan polisi terhadap AH, rekan DR yang menyediakan tempat penampungan satwa liar yang hendak diperdagangkan di wilayah Jawa Barat.

"Kami sudah periksa AH dan juga periksa saksi-saksi yang lain. (Hasil pemeriksaan) terkonfirmasi (adanya komunikasi dengan TSI terkait satwa liar)," ucap Sugeng.

Polisi menduga keterlibatan oknum TSI dalam hal membeli satwa liar di pasar ilegal dan 'memutihkan' asal usul satwa liar hasil perburuan hingga akhirnya berstatus satwa yang legal.


"Masih diduga (oknum TSI membeli dan memutihkan satwa liar yabg dijual di pasar gelap), masih kami kembangkan lebih lanjut bagaimana pola transaksinya, proses apakah ada proses perbankan, itu yang kami dalami," terang Sugeng.

Sugeng sebelumnya menerangkan hasil pemeriksaan digital forensik barang bukti yang disita dari DR menguak seluruh komunikasinya dengan para pedagang satwa liar ilegal. Jual-beli hewan dilindungi dilakukan secara online dan menggunakan rekening bersama.


"Pemeriksaan forensik komunikasi Saudara DR mengembang ke bermacam-macam modus yang semuanya bermuara pada penjualan ilegal satwa liar secara online. Di situ juga ter-update adanya penggunaan rekening bersama yang sebenarnya berupa rekening biasa tapi dipakai penjual dan pembeli untuk meningkatkan saling percaya," tutur Sugeng.

Dari penangkapan DR, polisi kembali mengungkap 8 laporan yang diterima pihaknya terkait perdagangan gelap komodo, kemudian orang utan, burung, dan reptil.



Tonton juga video Ular Viper, Kura-kura Mesir Coba Diselundupkan di India:

[Gambas:Video 20detik]


(aud/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed