Anak Eks Gubernur Bali Buka Suara Soal Pengakuan Ketua Kadin Bali

Aditya Mardiastuti - detikNews
Jumat, 12 Apr 2019 11:32 WIB
Anak Agung Ngurah Alit Wiraputra (Foto: ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
Jakarta - Ketua Kadin Bali Anak Agung Ngurah Alit Wiraputra mengklaim menyetorkan sebagian duit Rp 16 miliar hasil penipuan ke anak Eks Gubernur Bali I Made Mangku Pastika, Putu Pasek Sandoz P. Sandoz pun buka suara soal tudingan tersebut.

"Mohon maaf saya baru balas WA-nya, saya sudah memberikan kepada penyidik, terima kasih," kata Sandoz lewat pesan singkat kepada detikcom, Jumat (12/4/2019).



Sebelumnya diberitakan, saat digiring menuju tahanan Alit menyebut Sandoz mendapat jatah duit 50 persen dari total Rp 16 miliar, sementara sisanya dibagikan ke tiga orang. Alit menyebut perjanjian kerja sama antara pelapor Sutrinso Lukito Disastro ini mulanya dilakukan dengan Sandoz. Alit mengaku hanya sebagai pengganti.

"Saya tidak tahu, karena awal perjanjian ini adalah Sutrisno Lukito dan Sandoz. Awal kesepakatan ini adalah kesepakatan antara Sutrisno Lukito dan Sandoz bukan dengan saya, saya diminta sebagai pengganti, menggantikan posisi Sandoz. Karena beliau anak gubernur saat itu, maka saya diminta untuk menggantikan posisi beliau," ujar Alit saat digiring masuk ke tahanan Mapolda Bali kemarin.



Dalam kasus ini Alit mengaku menyetor duit ke Sandoz senilai Rp 7,5 miliar dan USD 80 ribu (senilai Rp 800 juta); Made Jayantara senilai Rp 1,1 miliar; dan Candra Wijaya senilai Rp 4,6 miliar. Kepada polisi, Alit mengaku mendapat jatah Rp 2,2 miliar.



Polisi mengatakan sudah memeriksa ketiga nama yang disebut Alit sebagai saksi. Polisi masih mendalami peran dan keterangan dari masing-masing saksi.

"Tidak tahu, dia (Sandoz) sebagai saksi. Kata tersangka, Saudara S itu juga mendapat aliran dana. Menurut Alit, saya menyerahkan dana itu ke S untuk kapasitas dia (S) memberi saran, petunjuk, arahan pihak-pihak mana saja yang berkompeten mengurus perizinan ini," kata Dirkrimum Polda Bali Kombes Andi Fairan.

Kasus penipuan yang melibatkan Anak Agung Ngurah Alit Wiraputra berawal pada Januari 2012. Saat itu pelapor, Sutrisno Lukito Disastro, berminat berinvestasi di pengembangan di kawasan Pelabuhan Pelindo Benoa.

Dalam kesepakatan itu, disetujui Sutrisno menyetorkan biaya operasional senilai Rp 30 miliar. Pembayaran pun sudah dilakukan dua termin dengan total Rp 16 miliar. Setelah uang itu dikeluarkan, izin tak juga keluar dari gubernur. Padahal uang Rp 16 miliar sudah dikucurkan dan sudah berjalan 6 bulan.

"Kami sudah melakukan pemeriksaan Pelindo III sebenarnya. Dari Pelindo mengatakan kami itu hanya tempat diadakan pengembangan, misal reklamasi dan sebagainya, tapi proyeknya di Kementerian Perhubungan di pusat. Mereka mengatakan di tahun 2012 kami tidak ada mau kerja sama dengan pihak ketiga, kami BUMN ada dana negara sendiri. Kami berpikir mungkin saja itu proses penipuannya, seakan-akan bisa bekerja sama dengan Pelindo tapi Pelindo tidak menginginkan bekerja sama dengan pihak ketiga. Buktinya pengembangan sudah berjalan dan proses lelang sudah berjalan di Kementerian," tutur Dirkrimum Polda Bali Kombes Andi Fairan.



Tonton juga video Ketua Kadin Bali Ditahan Gegara Kasus Penipuan Hingga Rp 16 M:

[Gambas:Video 20detik]

(ams/knv)