Panitera PN Jaktim Didakwa Jadi Perantara Suap Hakim PN Jaksel

Faiq Hidayat - detikNews
Kamis, 11 Apr 2019 16:41 WIB
Foto: Faiq Hidayat-detikcom
Jakarta - Panitera Pengganti PN Jakarta Timur M Ramadhan didakwa menjadi perantara suap kepada hakim PN Jakarta Selatan, R Iswahyu Widodo dan Irwan. Uang tersebut bertujuan untuk mempengaruhi putusan gugatan pembatalan perjanjian akuisisi antara CV Citra Lampia Mandiri dan PT Asia Pasific Mining Resources.

"Melakukan atau turut serta melakukan beberapa perbuatan yang ada hubungannya sedemikian rupa sehingga dipandang sebagai perbuatan berlanjut, memberi atau menjanjikan sesuatu kepada hakim," kata jaksa KPK Kiki Ahmad Yani saat membacakan surat dakwaan dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta, Kamis (11/4/2019).



Dalam dakwaan itu, Ramadhan disebut menerima uang Rp 30 juta dari Direktur CV Citra Lampia Mandiri (CLM) Martin P Silitonga. Sedangkan R Iswahyu Widodo dan Irwan menerima Rp 150 juta dan SGD 47 ribu dari Martin melalui pengacara Arif Fitrawan.

Kasus ini bermula, ketika Arif Fitrawan berdiskusi dengan Martin dan Direktur CV CLM Isrullah Achmad untuk mengusulkan 'mengurus' kepada majelis hakim. Untuk 'mengurus' tersebut, Arif meminta bantuan M Ramadhan yang pernah berkerja di PN Jaksel.

Kemudian M Ramadhan menemui Iswahyu dan Irwan di rumah makan di Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan. Dalam pertemuan itu, Irwan bertanya pada Ramadhan mengenai jumlah uang.

"Irwan bertanya Ramadhan, duitnya berapa? Lalu Ramadhan menjawab putusan sela ada uang Rp 150 juta, di mana Arif yang akan mengatur semuanya," kata jaksa.

Atas pertemuan itu, jaksa mengatakan kedua hakim menyetujui permintaan Arif untuk membantu memenangkan penggugat dengan syarat menyiapkan uang. Dengan rincian uang Rp 150 juta untuk majelis hakim, uang Rp 10 juta untuk panitera dan uang Rp 40 juta untuk Ramadhan dan Arif.

"Sedangkan untuk putusan akhir harus disiapkan uang Rp 500 juta," kata jaksa.



Permintaan uang itu juga disanggupi Martin dengan mengirimkan uang kepada Arif sebesar Rp 210 juta. Dari uang tersebut, Ramadhan menyerahkan Rp 150 juta untuk Irwan saat bertemu di parkiran masjid STPDN Cilandak, Jalan Ampera, Jakarta Selatan. Uang sisanya Rp 40 juta diserahkan kepada Iswahyu.

"Selanjutkan Ramadhan menemui Irwan menyerahkan uang Rp 150 juta yang kemudian disampaikan Arif uang itu sudah diserahkan kepada hakim," ucap dia.

Menjelang putusan akhir, jaksa mengatakan Ramadhan minta Arif menyiapkan uang Rp 500 juta untuk mengurus perkara itu yang disanggupi Martin. Ramadhan juga meminta uang enterntaint buat dirinya dan dikirim Rp 10 juta dari Arif.

"Setelah itu Arif berkomunikasi dengan Martin dan Isrullah Achmad (Direktut CV CLM) terkait biaya entertaint tersebut, sehingga pada keesokan harinya Martin mentranster Rp 20 juta ke rekening Arif," jelas dia.

Dua hari sebelum dibacakan putusan, Arif bersama Resa Indrawan mencairkan uang Rp 500 juta yang sebelumnya dikirim oleh Martin. Uang itu ditukar dalam bentuk dolar singapura 47 ribu. Selanjutnya diserahkan kepada Ramadhan dirumahnya, namun saat itu mereka diamankan petugas KPK.

Atas perbuatan itu, Ramadhan dikenakan Pasal 12 huruf c Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Pasal 55 ayat (1) ke-1, Pasal 64 ayat 1 KUHP. (fai/haf)