DetikNews
Kamis 11 April 2019, 11:41 WIB

JK: Novel Baswedan Kecewa Wajar Saja, tapi Cari Bukti Bukan Pekerjaan Mudah

Muhammad Fida Ul Haq - detikNews
JK: Novel Baswedan Kecewa Wajar Saja, tapi Cari Bukti Bukan Pekerjaan Mudah Tim Blak blakan mewawancarai Wakil Presiden RI M Jusuf Kalla. (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta - Hari ini genap 2 tahun kasus teror penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan tidak kunjung terungkap. Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengakui tidak mudah mengungkap kasus ini.

JK mengatakan dirinya juga ikut prihatin teror terhadap Novel ini tidak kunjung terungkap. Dia mengakui Polri belum mencapai hasil yang maksimum.

"Ya mudah-mudahan setelah habis pemilu ini bergerak lagi," kata JK saat diwawancarai tim Blak Blakan detikcom di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (10/11/2019).

"Kita juga prihatin. Bahwa novel kecewa itu wajar saja. Tapi mencari bukti-bukti juga kan bukan pekerjaan yang mudah," sambung JK.


JK menilai pengungkapan kasus ini memang tidak mudah. Namun dia meyakini Polri bekerja profesional. "Walaupun pekerjaan yang sulit, kalau kita lihat Densus yang sulit-sulit pun dapat ditangkap. Mudah-mudahan ini juga bisa dapat," ucapnya.

Selain teror terhadap Novel, sejumlah mantan dan pimpinan KPK lainnya juga pernah mengalami teror. Namun semua kasusnya juga sama, hingga kini belum terungkap. Apa kata JK soal ini?

"Ya mudah-mudahanlah.... Tapi itu bukan hanya di Indonesia. Justru kalau di Hong Kong antara polisi dan KPK-nya yang baku tembak," ucap JK.

Novel saat diwawancarai tim Blak Blakan detikcom sebelumnya berharap Presiden Joko Widodo (Jokowi) membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Sebab, bila cuma Tim Gabungan seperti yang dibentuk Kapolri Jenderal Tito Karnavian awal Januari lalu, dia meragukan integritas dan independensinya. Sebab, di dalam tim itu bercokol beberapa penyidik asal kepolisian yang oleh Komnas HAM telah direkomendasikan melakukan abuse of process.

"Pak Kapolri sudah membiarkan selama dua tahun, masa Pak Kapolri yang terus disuruh menyelesaikan," kata Novel saat ditemui detikcom di kediamannya, Senin (8/4) malam.

Ia menyebut serangan-serangan atau teror kepada KPK semakin lama semakin meningkat. Tujuannya melemahkan KPK dan menghambat penanganan perkara-perkara. "Ini berbahaya, karena itu sangat beralasan ketika saya menyampaikan, Bapak Presiden mestinya bersikap, tidak boleh diam saja," ujarnya.


Novel menegaskan dirinya terus menyuarakan hal ini, terutama di masa kampanye, untuk memberikan kesempatan kepada Presiden Jokowi menunjukkan komitmen dan keberpihakannya kepada KPK dalam memberantas korupsi. Sebab, berkaca dari keberhasilan lembaga-lembaga antikorupsi di banyak negara, selalu ada sokongan yang kuat dari pemerintahnya. "Pasti di situ kepala negaranya mendukung penuh," ujarnya.

Novel disiram air keras pada 11 April 2017 seusai salat Subuh di Masjid Al-Ihsan, yang berjarak sekitar 4 rumah dari rumah Novel. Rumah Novel berada di Jalan Deposito T Nomor 8 RT 03 RW 10, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara.


Saat itu, Novel mengikuti salat Subuh berjemaah pukul 04.39 WIB di Masjid Al-Ihsan. Ketua RT 03 saat itu, Wisnu Broto, mengatakan Novel pulang lebih dulu seusai salat Subuh.

Pukul 05.10, Novel disebut meninggalkan masjid untuk kembali ke rumah. Tak lama kemudian, terdengar suara teriakan yang membuat jemaah yang masih berada di masjid berhamburan keluar. Warga kemudian menolong Novel dan membawanya ke RS Mitra Keluarga Kelapa Gading. Novel pun menjalani perawatan intensif di Singapura.


Saksikan juga video 'Dear Capres, Janji Tuntaskan Kasus Teror Novel Baswedan?':

[Gambas:Video 20detik]


(hri/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed