DetikNews
2019/04/11 06:07:52 WIB

Round-Up

Geger Pengakuan Bowo Sidik Pangarso Terima Duit dari Menteri

Tim detikcom - detikNews
Halaman 1 dari 2
Geger Pengakuan Bowo Sidik Pangarso Terima Duit dari Menteri Tersangka kasus suap Bowo Sidik Pangarso mengenakan rompi tahanan KPK warna oranye sesaat sebelum menjalani pemeriksaan (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Bowo Sidik Pangarso kembali bermanuver. Tersangka kasus suap terkait amplop 'serangan fajar' yang sebelumnya menyebut nama Nusron Wahid itu kini menyeret sosok menteri.

Dalam dua hari terakhir Bowo menjalani pemeriksaan di KPK. Dalam dua hari terakhir itu pula Bowo membuat kejutan.

Pada Selasa, 9 April kemarin, Bowo yang menuntaskan pemeriksaan di KPK tiba-tiba menyebut sosok Nusron sebagai orang yang memintanya mengumpulkan uang demi 'serangan fajar' itu.



"Saya diminta oleh partai menyiapkan 400 ribu.... Nusron Wahid meminta saya untuk menyiapkan 400 ribu (amplop). Diminta oleh Nusron Wahid untuk menyiapkan itu," kata Bowo, kemarin.

Bowo terus berjalan ke arah mobil tahanan yang menunggunya. Ketika dicecar wartawan mengenai kaitan amplop-amplop itu dengan Pilpres 2019, Bowo tidak menjawab gamblang.

"Yang jelas, partai kita dukung 01," kata Bowo menjawab pertanyaan soal tujuan menyiapkan amplop.

Selepas itu pengacara Bowo, Saut Edward Rajagukguk, memberikan penjelasan. Dia menyebut Nusron turut menyiapkan amplop sebanyak 600 ribu demi kemenangan sebagai anggota legislatif dari daerah pemilihan (Dapil) Jawa Tengah II. Bowo dan Nusron memang diketahui tercatat sebagai caleg dari dapil tersebut.

"Bahkan katanya yang 600 ribu yang menyiapkan Wahid. Dia (Bowo Sidik) 400 ribu amplopnya," kata Saut Edward.
Selain itu dia menyebutkan tentang 'cap jempol' pada amplop yang telah diungkap KPK sebelumnya sebagai penanda semata. Sebab, menurut Saut Edward, ada pengalaman dari Bowo dan Nusron bila amplop 'serangan fajar' tidak sampai pada tujuan.

"Cap jempol memang dibuat karena supaya tahu bahwa amplop ini sampai atau nggak nanti. Sebagai tanda saja. Mereka punya pengalaman bahwa amplop itu tidak disampaikan kepada yang bersangkutan. Nah, untuk menghindari itu (tidak sampai), dibuat tanda cap jempol," imbuhnya.

Dari pengakuan itu, Nusron langsung membantahnya. Nusron mengaku tidak tahu menahu tentang urusan tersebut.

"Tidak benar," kata Nusron singkat.
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed