DetikNews
Rabu 10 April 2019, 06:15 WIB

Sanksi Skors 3 Bulan untuk Guru Pembanting Murid Dinilai Tidak Cukup

Danu Damarjati - detikNews
Sanksi Skors 3 Bulan untuk Guru Pembanting Murid Dinilai Tidak Cukup Tangkapan layar video viral yang memperlihatkan duel murid vs guru di Bojonegoro.
Jakarta - Guru berinisial AS yang membanting muridnya dikenai sanksi skors dilarang mengajar selama tiga bulan. Menurut pemerhati pendidikan, sanksi itu kurang berat.

Kejadian pembantingan siswa oleh guru honorer pengampu bimbingan kesiswaan (BK) terjadi di SMA Negeri I Tambakrejo, Bojonegoro, Jawa Timur. Menurut Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur di Bojonegoro, Adi Prayitno, siswa yang dibanting itu memang dablek alias sulit dinasihati.

Insiden berawal ketika murid dinasihati guru berinisial AS di depan ruang kelas. Siswa itu dipanggil karena sering tidak ikut kegiatan Pramuka dan berambut 'gondrong'. Namun, saat dinasihati, siswa laki-laki itu menjawab gurunya. Guru emosi dan mencekik leher siswa tersebut. Siswa tidak terima, terjadilah dorong-dorongan. Duel ini dipungkasi dengan bantingan guru terhadap siswa.

"Guru seharusnya lebih bijak dalam menghadapi masalah. Kalau guru emosional, bagaimana mungkin murid mengeluhkan masalahnya ke guru? Guru itu seharusnya juga menjadi tempat curhatnya murid-murid, maka dia perlu punya kematangan jiwa," kata pemerhati pendidikan, Darmaningtyas, berpendapat, Rabu (10/4/2019).


Adapun soal sikap siswa yang dablek, nakal, atau bengal, itu tidak lantas menjadi pembenaran untuk guru melakukan kekerasan terhadap siswa, misalnya mencekik. Perlu ditelisik latar belakang bagaimana anak itu menjadi agresif, dan upaya ini hanya bisa berhasil bila dilakukan lewat dialog tanpa emosi, tanpa cekikan, dan tanpa bantingan. Lewat penelitiannya, Darmaningtyas mendapati banyak siswa-siswa agresif berlatar belakang 'yatim-piatu semu', yakni mereka yang secara formal punya orang tua namun hidup bukan dengan orang tua kandung. Atau bisa pula siswa-siswa itu berasal dari lingkungan yang keras, atau keluarga yang sudah bercerai dan tak lengkap lagi.

Penulis buku Pendidikan Rusak-rusakan ini percaya, murid dablek bisa ditangani dengan kelembutan. "Tentu anak itu merasa tersinggung bila dinasihati di depan siswa-siswa lain di dalam kelas. Maka guru perlu bijaksana. Kalau menangani satu siswa, jangan di depan siswa-siswa lain. Dia harus dipanggil ke ruang BP, diajak bicara, dicari tahu apa masalahnya. Kalau dinasihati di depan murid-murid yang lain tentu saja anak itu malu," kata Darmaningtyas.

Dia merujuk pada informasi bahwa siswa di Bojonegoro itu dinasihati di depan kelas sebelum akhirnya terjadi insiden bantingan. Menurut dia, tak ada pembenaran penggunaan cara-cara kekerasan untuk menangani siswa. Di negara-negara maju, memegang fisik siswa bahkan tidak boleh dilakukan karena dianggap bagian dari kekerasan. Kini, kultur pendidikan sudah menjauh dari kekerasan. Guru-guru juga perlu menyesuaikan diri dengan zaman dan tak bisa lagi menerapkan cara-cara lama dalam mengajar siswa.


Menurutnya, pembantingan itu sudah menunjukkan bahwa guru tidak bisa mengendalikan emosi dalam menunaikan kewajibannya. Maka sanksi tiga bulan tidak mengajar dirasanya tidak cukup untuk membayar kesalahan tersebut.

"Skorsing tiga bulan tidak cukup. Menurut saya, mending dipecat karena dia tidak pantas jadi guru," kata Darmaningtyas.


Segitiga Kasih Sayang Guru-Murid

Relasi antara guru dan murid digambarkan berbentuk segitiga. Relasi pendidikan ini terdiri atas guru-murid-pengetahuan. Dua titik dari guru dan murid terhubung ke atas, yakni ke titik pengetahuan. Dua titik dari guru dan murid terhubung secara mendatar.

"Relasi ini harusnya relasi afektif (berdasarkan kasih sayang). Perlu ditelisik, apakah anak tidak puas dengan relasi ini, " kata pakar pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Jimmy Philip Paat, menanggapi peristiwa yang viral lewat media sosial internet itu.


Master sosiologi pendidikan ini menekankan pentingnya aspek saling percaya yang mendasari relasi guru dan murid. Dia menduga ada rasa saling tidak percaya antara guru dan murid yang memicu kekerasan di antara keduanya. Bagaimanapun, cara-cara kekerasan tidak boleh dilakukan oleh siapapun, termasuk oleh guru.

"Cara kekerasan saya sebut primitif, tidak dibenarkan. Bagaimana terjadi relasi yang baik bila ada kekerasan? Relasi guru dan murid ini harus afektif," kata Jimmy.

Dia percaya anak nakal bisa ditertibkan tanpa kekerasan, syaratnya adalah relasi antara guru dan murid dilandasi rasa kasih sayang (afektif). Indikator keberhasilan relasi guru-murid adalah munculnya rasa saling percaya. Bila siswa sudah sering mencurahkan isi hatinya atau menceritakan masalahnya ke guru secara sukarela, itu tanda siswa sudah punya kepercayaan ke gurunya.

"Kasus seperti ini terjadi karena relasi pedagogis tidak terbangun," kata Jimmy.



Tonton video Viral! Guru Banting Siswa di Bojonegoro:

[Gambas:Video 20detik]


Sanksi Skors 3 Bulan untuk Guru Pembanting Murid Dinilai Tidak Cukup

(dnu/azr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed