Herannya Ma'ruf pada Narasi Kebocoran yang Diulang

Round-Up

Herannya Ma'ruf pada Narasi Kebocoran yang Diulang

Tim detikcom - detikNews
Senin, 08 Apr 2019 19:07 WIB
Herannya Maruf pada Narasi Kebocoran yang Diulang
Cawapres Ma'ruf Amin (Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta - Calon presiden Prabowo Subianto kerap kali memakai istilah 'kebocoran' dalam orasi politiknya. Istilah tersebut dikritik calon wakil presiden KH Ma'ruf Amin.

Istilah bocor yang dimaksud Prabowo adalah larinya peredaran uang di Indonesia ke luar negeri. Narasi ini juga dipakai Prabowo saat menyinggung adanya markup anggaran.

"Saya percaya, insyaallah nanti kalau semua petugas kehidupannya bagus, kita makmur, uang beredar di Indonesia, tidak ke luar negeri. Kalau semua cukup uang, untuk apa kita ribut-ribut?" ujar Prabowo dalam pidato kebangsaan di Grand Ballroom Hotel PO Semarang, Jawa Tengah, Jumat (15/2).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Tidak tanggung-tanggung, Prabowo menyebut ada triliunan rupiah uang negara yang bocor. Prabowo mengatakan, jika terpilih sebagai presiden, ia akan menyelesaikan masalah tersebut.

"Saya katakan Rp 1.000 triliun uang negara bocor. Tapi setiap saya bicara begitu, para elite banyak yang kebakaran jenggot. Buktinya mana? Saya ditanyai. Saya jawab, 'Tanya pemerintah. Kenapa tanya gue? Kalau gue presiden, gue tanggung jawab,'" katanya saat kampanye di Lapangan Karang Pule, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (26/3).


Yang terbaru, Prabowo mengklaim ada Rp 2.000 triliun uang yang bocor. Data ini disebut Prabowo berasal dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Tapi elite Indonesia selalu tidak membantah, tidak menyanggah, tapi mengejek. Ditanya, mana buktinya? Tahu-tahu 3 hari lalu KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dia mengatakan yang bocor Rp 2.000 triliun. Selama ini Prabowo mengatakan Rp 1.000 triliun hilang, KPK mengatakan Rp 2.000 triliun hilang," ujar Prabowo saat kampanye akbar di Stadion Utama GBK, Jakarta, Minggu (7/4).

Menanggapi narasi yang disampaikan Prabowo, Ma'ruf menyebut istilah bocor merupakan narasi tidak jelas yang selalu diulang-ulang Prabowo. Ma'ruf tidak sepakat dengan pernyataan Prabowo.

"Iya itu kan narasi yang tidak jelas, diulang-ulang, supaya orang jadi percaya bahwa ada bocor. Nah, kalau ditanya, bocornya di mana ente?" ujar Ma'ruf di kediamannya, Jl Situbondo nomor 12, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (8/4).


Ma'ruf mengaku masih heran terhadap narasi yang sering dikampanyekan Prabowo itu. Menurutnya, jika Prabowo menemukan kejanggalan, Ma'ruf mempersilakan dia membawa bukti kebocoran dana ke KPK sehingga bisa segera diproses.

"Kalau namanya bocor, itu kalau sudah diterima terus keluar, itu namanya bocor. Ini yang dimaksud bocornya yang mana? Bocornya di mana, kan mesti jelas. Tinggal dikejar saja sama KPK," kata Ma'ruf.

Kritik serupa disampaikan calon presiden Joko Widodo (Jokowi). Jokowi meminta Prabowo menunjukkan buktinya.

"Kalau bocor, ya laporkan saja ke KPK yang bocor di sebelah mana, bocornya di keran mana, di sektor apa, jumlahnya berapa, bawa bukti-bukti, 'nih KPK, tangkap itu, tangkap itu' jangan dari dulu sampai sekarang bocar, bocor, bocar, bocor, yang mana bocornya? Tunjukkan," kata Jokowi kepada wartawan di ICE BSD, Tangerang Selatan, Minggu (7/4).
Halaman 2 dari 2
(dkp/haf)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads