Kompensasi BBM di Bali Dibagi Usai Hari Raya Kuningan

Kompensasi BBM di Bali Dibagi Usai Hari Raya Kuningan

- detikNews
Selasa, 27 Sep 2005 20:50 WIB
Denpasar - Keluarga miskin di Bali yang akan mendapat jatah kompensasi menyusul kenaikan harga BBM sebanyak 118.447 KK. Dana kompensasi Rp 100 ribu per KK akan dibagikan usai Hari Raya Kuningan, 15 Oktober 2005. Demikian disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Bali Ida Bagus Komang Wisnu kepada wartawan di kantornya Jalan Puputan Raya Renon, Selasa (27/09/2005).Usai kenaikan harga BBM per 1 Oktober, umat Hindu di Bali merayakan dua hari raya besar, yaitu Hari Raya Galungan pada tanggal 4-6 Oktober 2005 dan Hari Raya Kuningan pada tanggal 15 Oktober 2005. "Dana kompensasi itu akan kita bagikan usai Hari Raya kuningan," katanya.Jadwal pembagian dana kompensasi ini mundur beberapa hari dari jadwal yang ditetapkan oleh pemerintah. Mundurnya pembagian jatah kompensasi ini karena pembagian kartu miskin mengalami kemunduran jadwal. Kartu miskin kemungkin besar baru akan dibagikan usai hari raya Galungan dan Kuningan. Wisnu mengatakan, pembagiannya kartu miskin tersebut akan dilakukan di Balai Banjar bekerja sama dengan desa adat setempat. Sementara penukaran kartu miskin tersebut dilakukan di Kantor Pos dan Bank Rakyat Indonesia. Kartu miskin saat ini telah berada di kabupaten/kota se-Bali. Sebelum dibagikan Kartu Miskin itu akan periksa kembali untuk memastikan kondisi ekonomi KK yang akan mendapatkan dana kompensasi.Wisnu mengatakan, pihaknya merekomendasikan sebanyak 119.187 kepala keluarga atau kepala rumah tangga untuk mendapatkan kartu miskin. Namun yang lolos verifikasi di tingkat BPS pusat hanya 118.447 KK. Penduduk Bali sebesar 3,37 juta jiwa pada tahun 2005 ini.Jumlah KK miskin di Bali terdapat di Kabupaten Buleleng sebanyak 36.171 KK disusul Karangasem 32.328 KK dan terkecil di Kota Denpasar 3.639 KK. "Buleleng dan Karangasem mendapat jatah paling banyak karena jumlah penduduk di darah itu memang paling besar dan taraf hidup mereka paling rendah," jelasnya. Sementara beberapa penduduk miskin pendatang di Denpasar ternyata tercecer dan tidak masuk yang didaftar BPS. Seperti sekitar 300 pemulung yang ada di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Pesanggaran Suwung. (mar/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads