Panic Buying BBM, Antrean di SPBU di Medan Juga Panjang

Panic Buying BBM, Antrean di SPBU di Medan Juga Panjang

- detikNews
Selasa, 27 Sep 2005 20:22 WIB
Medan - Menjelang kenaikan harga BBM 1 Oktober 2005, terjadi panic buying pada hampir seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Medan. Hingga Selasa (27/9/2005) malam, antrean panjang kendaraan terlihat pada sejumlah SPBU.Antrean itu misalnya terlihat di SPBU Coco yang dioperasikan PT Pertamina Unit Pemasaran (UPms) I Medan di Jalan Yos Sudarso dan di Jalan Merak Jingga. Selain itu antrean juga terlihat di SPBU Jalan Sudirman dan SPBU Karya Jasa. Di Medan sendiri ada 50 SPBU dan di Sumut sebanyak 187 SPBU.Panjangnya antrean menyebabkan arus lalu lintas menjadi macet pada beberapa titik. Namun sejumlah petugas polisi dan aparat dari Dinas Perhubungan Kota Medan terlihat membantu memperlancar arus lalu lintas, seperti di Jalan Yos Sudarso.Data yang diperoleh dari Djoko Sasonoputranto, Kepala Hubungan Pemerintahan dan Masyarakat (Hupmas) PT Pertamina Unit Pemasaran (UPms) I Medan menyebutkan, terjadinya antrean kendaraan untuk mengisi BBM terutama karena terjadinya panic buying. Konsumen khawatir dengan kemungkinan tingginya kenaikan harga."Rata-rata jumlah pasokan perhari BBM jenis premium di Medan dan sekitarnya berjumlah 2.300 kiloliter (kl). Indikasinya terlihat pada data yang diperoleh dari Intalasi Labuhan Deli pada tanggal 26 September, penyaluran sudah mencapai 2.339 kl," kata Djoko di kantornya, Jalan Yos Sudarso Medan. Untuk mengantisipasi kemungkinan semakin meningkatnya permintaan, kata Djoko, pihak UPms I sudah menyiapkan cadangan yang lebih dari cukup hingga masa kemungkinan naiknya harga BBM 1 Oktober mendatang. Stok premium yang tersedia di Instalasi Labuhan Deli Medan hingga hari ini mencapai 28.000 kl. Kalau BBM jenis solar stok mencapai 38.000 kl. Satu kilo liter setara dengan 1.000 liter.Begitu pun, kata Djoko, pihaknya akan mempertimbangkan permintaan kenaikan pasokan yang diajukan pihak SPBU. Jika selama ini rata-rata sebuah SPBU menyalurkan 10 kl, tiba-tiba minta 40 kl tentu akan dipertimbangkan tingkat kewajarannya. Karena dalam situasi seperti ini, maka berapa pun BBM yang dipasok pasti habis. Selain itu pengendalian BBM dilakukan untuk mencegah terjadinya penimbunan yang dilakukan pihak-pihak tertentu. "Kami berusaha memenuhi permintaan SPBU sesuai dengan rata-rata realiasi dengan mempertimbangkan tingkat kebutuhan," kata Djoko. (asy/)


Berita Terkait