Tolak Digusur, PKL dan Mahasiswa Nyaris Bentrok dengan Forkabi
Selasa, 27 Sep 2005 17:59 WIB
Jakarta - Bentrok massal nyaris terjadi antara Pedagang Kaki Lima (PKL) di pertigaan Jalan Salemba Raya yang didukung mahasiswa UKI dengan massa Forum Komunikasi Anak Betawi (Forkabi), Selasa (27/9/2005). Bentrokan dipicu aksi penggusuran PKL di kawasan itu.Larangan jualan bagi PKL yang biasa berdagang di depan Fakultas Kedokteran UI itu sudah berlangsung sejak Senin (26/9/2005). Mereka dilarang berdagang dengan alasan telah mengotori kawasan tersebut.Untuk menghindari PKL, akhirnya di trotoar depan kampus tersebut dijaga sekitar 100 aparat keamanan, termasuk polisi, Hansip, polisi Pamong Praja, Tramtib, dan massa Forkabi.Karena kawasan tersebut dijaga ketat, pedagang yang hendak mengais rezeki akhirnya mencoba pindah ke trotoar di depan Gedung Persatuan Gereja-gereja Indonesia (PGI). Sardi, pedagang rujak, menjadi orang pertama yang menaikkan gerobak rujaknya ke atas trotoar tersebut. Namun aksi Sardi dihentikan aparat kepolisian. Polisi meminta Sardi menurunkan gerobaknya, namun permintaan itu ditolak mentah-mentah.Prihatin dengan nasib para PKL, sekitar 60 mahasiswa UKI mencoba melakukan pendampingan dan melobi aparat agar PKL diizinkan berjualan. Mereka juga mencabut spanduk yang bertuliskan "Warga Kenari mendukung penertiban". Sebagai gantinya, mahasiswa UKI memasang spanduk bertuliskan "Pedagang Kaki Lima dan mahasiswa menolak penggusuran". Sayangnya lobi yang dilakukan mahasiswa berjalan alot. Bahkan terjadi perdebatan seru yang memicu emosi PKL dan massa Forkabi."Saat lobi itu kita minta agar PKL diizinkan berjualan. Tapi massa Forkabi sudah ada yang berteriak mengajak ribut. Tapi kita tetap coba berdialog dengan aparat dan koordinator Forkabi sampai teman-teman PKL dan massa Forkabi berhasil ditenangkan," papar Sapta, mahasiswa UKI yang terlibat dalam dialog tersebut, kepada detikcom.Massa Forkabi dan aparat pada pukul 13.00 WIB akhirnya bergeser ke arah Pasar Kenari dan mahasiswa berangsur-angsur ke kampusnya. Setelah situasi tenang, akhirnya sekitar pukul 15.00 WIB, para PKL bermunculan di trotoar Gedung PGI untuk menggelar dagangannya. Aksi penggusuran itu membuat Rachmat hanya bisa mengelus dada. Pedagang sate itu mengaku tidak bisa berdagang selama dua hari ini. Ia juga tidak habis pikir dengan perlakuan aparat dan massa Forkabi terhadap para PKL."Padahal kita ini selalu bayar ke petugas kelurahan. Belum lagi jatah rokok dua bungkus untuk mereka tiap hari, tapi kita tetap saja digusur," katanya.
(umi/)











































