Kendati Partai Adalet ve Kalkınma (AK) memperoleh suara terbanyak secara nasional, mereka kalah di Istanbul, Ankara, dan Izmir. Presiden Erdogan, tampaknya, belum siap melepas Istanbul - pusat ekonomi Turki sekaligus kota asalnya, tempat ia sendiri pernah menjadi walikota. Kekalahan di Ankara, Istanbul, dan beberapa kota lainnya menjadi pukulan telak bagi Erdogan dan bisa menjadi titik balik setelah 16 tahun berkuasa.
Erdogan tidak melepas begitu saja hasil Pilkada ini. Pemerintah Turki telah memprotes hasil di Istanbul dan menuntut penghitungan suara ulang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tengah dinamika yang tengah memanas itu, dunia internasional memberikan sorotan pada apa yang terjadi di Turki. Pada intinya negara barat meminta Erdogan dan partai AK untuk legowo saja menerima kekalahan di dua kota utama. Tak perlu ada gerakan penolakan terhadap hasil Pemilu.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Robert Palladino mengatakan "pemilihan yang bebas dan adil adalah penting bagi demokrasi, dan ini berarti menerima hasil pemilihan yang sah adalah penting." Senada dengan Palladiono, Juru bicara Uni Eropa Maja Kocijancic juga mengatakan bahwa Uni Eropa mengharapkan para pejabat lokal yang terpilih bisa "melaksanakan mandat mereka secara bebas dan sesuai dengan prinsip-prinsip Dewan Eropa yang mana Turki tentunya menjadi anggotanya."
Komentar-komentar negara barat ini membuat Erdogan gerah. Dia meminta AS dan Eropa untuk bisa tahu diri, tidak mencampuri urusan negara lain.
"Amerika dan Eropa mencampuri urusan dalam negeri Turki," ujar Erdogan kepada para wartawan seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (6/4/2019).
"Turki memberikan pelajaran demokrasi kepada seluruh dunia," imbuh Erdogan. (fjp/fjp)











































