detikNews
Sabtu 06 April 2019, 23:00 WIB

Round-Up

Geramnya Erdogan Gegara AS Nimbrung Hasil Pilkada Istanbul-Ankara

Tim detikcom - detikNews
Geramnya Erdogan Gegara AS Nimbrung Hasil Pilkada Istanbul-Ankara Erdogan/Foto: DW (News)
Ankara - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bisa dibilang sedang geram dua kali lipat. Partai pendukungnya kalah di dua kota utama Turki, Istanbul dan Ankara. Sudah begitu, Amerika Serikat dan Eropa turut campur pula.

Kendati Partai Adalet ve Kalkınma (AK) memperoleh suara terbanyak secara nasional, mereka kalah di Istanbul, Ankara, dan Izmir. Presiden Erdogan, tampaknya, belum siap melepas Istanbul - pusat ekonomi Turki sekaligus kota asalnya, tempat ia sendiri pernah menjadi walikota. Kekalahan di Ankara, Istanbul, dan beberapa kota lainnya menjadi pukulan telak bagi Erdogan dan bisa menjadi titik balik setelah 16 tahun berkuasa.

Erdogan tidak melepas begitu saja hasil Pilkada ini. Pemerintah Turki telah memprotes hasil di Istanbul dan menuntut penghitungan suara ulang.

Tak hanya itu, Partai AK menuduh adanya "suara tak sah dan pelanggaran di sebagian besar dari 12.158 tempat pemungutan suara di Ankara". Sekjen Partai AK, Fatih Sahin, mengatakan lewat Twitter: "Kami akan menggunakan hak-hak sah kami semaksimal mungkin, dan kami tidak akan membiarkan keinginan warga negara diubah di Ankara." Partai yang berkuasa itu juga menyatakan akan mempersoalkan hasil pemungutan suara di Provinsi Igdir.

Di tengah dinamika yang tengah memanas itu, dunia internasional memberikan sorotan pada apa yang terjadi di Turki. Pada intinya negara barat meminta Erdogan dan partai AK untuk legowo saja menerima kekalahan di dua kota utama. Tak perlu ada gerakan penolakan terhadap hasil Pemilu.



Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Robert Palladino mengatakan "pemilihan yang bebas dan adil adalah penting bagi demokrasi, dan ini berarti menerima hasil pemilihan yang sah adalah penting." Senada dengan Palladiono, Juru bicara Uni Eropa Maja Kocijancic juga mengatakan bahwa Uni Eropa mengharapkan para pejabat lokal yang terpilih bisa "melaksanakan mandat mereka secara bebas dan sesuai dengan prinsip-prinsip Dewan Eropa yang mana Turki tentunya menjadi anggotanya."

Komentar-komentar negara barat ini membuat Erdogan gerah. Dia meminta AS dan Eropa untuk bisa tahu diri, tidak mencampuri urusan negara lain.

"Amerika dan Eropa mencampuri urusan dalam negeri Turki," ujar Erdogan kepada para wartawan seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (6/4/2019).

"Turki memberikan pelajaran demokrasi kepada seluruh dunia," imbuh Erdogan.
(fjp/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed