Ketua MPR Tolak Impor Beras
Selasa, 27 Sep 2005 16:04 WIB
Jakarta - Tidak hanya kenaikan harga BBM saja yang mendapat penolakan keras, rencana impor beras juga menuai kritik yang tidak kalah pedasnya. Ketua MPR Hidayat Nurwahid termasuk salah satu pihak yang keberatan dengan rencana tersebut."Kebijakan itu seharusnya dilakukan pada saat kondisi darurat. Sekarang kan tidak darurat. Lagi pula produksi masih cukup," tandas Hidayat di sela seminar Politik Membasmi Korupsi di Hotel Sahid, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (27/9/2005).Hidayat lalu mengungkapkan, berdasarkan data yang dimilikinya dari Deptan, hingga hari ini tidak ada impor beras. Sebab wacana impor beras diputuskan saat Mentan tidak berada di Indonesia. "Saya setuju pemerintah harus lebih berpihak kepada rakyat Indonesia yang sebagian besar petani," katanya.Pembatalan impor beras diyakininya bisa meningkatkan produktivitas petani dan memproteksi petani agar mereka bangga sebagai petani. Jika upaya itu dilakukan, maka Indonesia tidak perlu lagi mengimpor beras. Sebab petani merasa diuntungkan dengan harga gabah yang sesuai."Saya salah satu orang yang tidak setuju dengan impor beras. Impor beras tidak diperlukan karena stok masih cukup dan petani masih bisa diberdayakan," katanya.Sekadar diketahui, Presiden SBY telah merestui rencana impor beras Bulog sebanyak 250 ribu ton beras pada Oktober nanti. Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi bulan Ramadan dan Idul Fitri. Impor ini juga untuk menjaga agar stok beras Bulog tetap di kisaran 1,2 juta ton hingga akhir tahun nanti.
(umi/)











































