detikNews
Sabtu 06 April 2019, 12:38 WIB

BPN Minta Polisi Usut Tuntas Peretasan Akun Medsos Pendukung Prabowo

Farih Maulana - detikNews
BPN Minta Polisi Usut Tuntas Peretasan Akun Medsos Pendukung Prabowo Diskusi di d'Consulate Resto & Lounge (Farih/detikcom)
Jakarta - BPN Prabowo-Sandiaga meminta polisi untuk mengusut tuntas kasus peretasan akun media sosial terhadap sejumlah tokoh. BPN berharap aktor utama pembajakan akun tersebut bisa diungkap.

"Tentu kami berharap pihak kepolisian melakukan penindakan secara cepat. Karena hal ini sesuatu yang tidak mungkin dikejar. Dan kami berharap pelaku terutama dalang dalam peretasan ini bisa diungkap. Dan sebenarnya ini bukan hal yang mudah, setidaknya yang saya ketahui 2017 lalu juga ada tindakan-tindakan peretasan dan pelakunya bisa didapatkan. Saya rasa Polri punya kemampuan itu, regulasi kita UU ITE memberi ruang kewenangan untuk bisa melakukan penindakan terhadap tindakan semacam ini. Dalam pasal 30 misalnya atau pasal 32 terkait dengan peretasan ini, hukumannya juga tidak ringan bisa jadi pasal berlapis bisa dikenakan. Beberapa pasal bisa dikenakan terhadap tindakan ini," kata anggota BPN, Indra, di d'Consulate Resto & Lounge, Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Sabtu (6/4/2019).



Indra mengatakan peretasan akun media sosial merupakan persoalan yang sangat serius. Menurut Indra, peretasan itu dimaksudkan untuk mengadu domba dan mendiskreditkan Prabowo-Sandiaga.

"Buat kami persoalan serius. Seriusnya, pertama, berarti ada pihak-pihak yang memiliki kemampuan dan tidak bertanggung jawab menggunakan fasilitas kemampuan yang dimilikinya untuk menghalalkan segala cara mengambil meretas beberapa orang-orang tertentu," tuturnya.

"Pertama, seriusnya karena membuat image fitnah, citra yang tidak benar. Kedua, yang lebih berat bukan sekadar dampak bahwasanya terkesan adanya menjelekkan mendiskreditkan atau hoax kepada kandidat kami Prabowo-Sandi," sambung Indra.



Namun Indra tidak mau menduga-duga terkait siapa yang berada di balik peretasan akun media sosial sejumlah anggota BPN itu. Dia menyerahkan sepenuhnya kasus tersebut kepada pihak kepolisian.

"Tentu kita merujuk mengarah siapa pelaku dan siapa dalam di balik ini. Tentu karena kita negara hukum, biarkan Mabes Polri yang bertindak. Tapi setidaknya dari kami merasa dirugikan karena konten-konten yang muncul dalam peretasan tadi ada bernuansa politik dan mendiskreditkan capres 02. Kalau siapa yang diuntungkan publik juga bisa menjawab. Tapi kami tidak mau mendahului hukum oleh karena itu supaya tidak ada sangka, tentu kami berharap kepolisian Bareskrim untuk bisa menindak ini secara cepat. Kalau bisa sebelum pemilu saya pikir punya kemampuan untuk melakukan itu. Sehingga asumsi liar mungkin juga praduga-praduga tidak merugikan pihak yg lain," bebernya.

Sebelumnya, akun Twitter milik Kadiv Hukum dan Advokasi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean, @Ferdinand_Haean, sempat menampilkan foto-foto tak senonoh. Selain itu, akun tersebut menuding Partai Gerindra akan membuat hancur Indonesia. Dituliskan juga nama Waketum Gerindra Arief Poyuono dalam kicauan tersebut.

"Partai @gerindra, Arief Poyuono @bumnbersatu pny agenda hancurkan Indonesia. Prtemuan Arief dgn keduanya di Hotel Dharmawangsa, Jakarta pd 21 Maret 2019. Mrka niat bkin rusuh di Indonesia. Barbara Kappel antek Uni Eropa penghancur sawit Indonesia," tulis @Ferdinand_Haean, seperti dilihat detikcom, Selasa (2/4).

Ferdinand pun telah datang ke Bareskrim untuk melaporkan peretasan akunnya. Ferdinand juga memastikan video yang menampilkan foto-foto tak senonoh itu adalah editan.

Selain Ferdinand, akun Twitter Haikal Hassan diretas pihak tak bertanggung jawab. Haikal merasa difitnah lewat cuitan yang ditampilkan oleh hacker di akun media sosialnya.
(knv/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed