Tolak Kenaikan Harga BBM, SBY Dituntut Mundur
Selasa, 27 Sep 2005 14:57 WIB
Yogyakarta - Sekitar seratus mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesa (PMII) Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar aksi demo menolak kenaikan harga BBM yang akan diberlakukan 1 Oktober 2005. Dalam aksi itu, mereka juga menuntut agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mundur dari jabatannya karena terbukti tidak mampu bekerja.Aksi tersebut diawali dari Jl. Diponegoro, Tugu Yogyakarta melewati Jl. Mangkubumi, Malioboro, gedung DPRD DIY dan berakhir di Kantor Pos Besar Yogyakarta. Gerakan Mahasiswa (Gema) Pembebasan DIY ini berkumpul di Bunderan kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Bulaksumur, Yogyakarta. Dalam aksi itu, mereka juga membawa beberapa buah bendera merah putih dan bendera PMII.Satu buah spanduk warna hitam bertuliskan 'tolak kenaikan BBM' ditempakan di depan barisan. Sedangkan para mahasiswi membawa poster, antara lain bertuliskan 'SBY boneka kapitalis, tolak kenaikan BBM, SBY mana janjimu.'Salah satu koordinator aksi M. Arief dalam orasinya di perempatan Tugu Yogyakarta mengatakan SBY patut diturunkan dari jabatannya karena telah melanggar UUD 45 dengan menaikkan harga BBM. Dinaikkannya harga BBM 1 Oktober nanti menunjukkan bahwa SBY tidak lagi berpihak kepada rakyat seperti yang pernah dijanjikan saat kampanye pilpres. BBM naik, justru rakyatlah yang akan menjadi korban karena pemerintah lebih mengutamakan kepentingan asing. Kebijakan menaikkan harga BBM adalah bukti nyata tidak berfungsinya negara dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya untuk menyejahterakan rakyat. Pemerintah menaikkan harga BBM itu merupakan kebijakan yang sarat dengan kepentingan asing, yakni agenda neo-liberalisme yang ingin bermain di Indonesia.Dia mengatakan, yang pertama kali merasakan dampak dari kenaikan BBM adalah rakyat karena harga-harga kebutuhan pokok sudah naik sebelumnya. Penghapusan subsidi BBM itu adalah bukti lemahnya Indonesia dalam menghadapi kepentingan asing yang ingin meliberalkan perekonomian Indonesia. "Janji-janji akan memberikan dana kompensasi sebagai pengganti subsidi BBM adalah omong kosong, subsidi BBM harus dikembalikan pada rakyat," kata Arief disambut yel-yel turunkan SBY berkali-kali.Seusai berorasi, massa kemudian melanjutkan long march menuju gedung DPRD DIY. Ketika melewati kantor Pertamina Unit IV Pemasaran Yogyakarta, massa sempat mengecam sambil menuding ke arah kantor Pertamina yang dianggap sebagai biang kerok keruwetan dan berbagai kasus penyelewengan BBM saat ini. Sepanjang berlangsungnya aksi, massa terus meneriakkan yel-yel turunkan SBY sekarang juga.
(asy/)











































