Tudingan itu pertama kali dilontarkan eks Kasum TNI Letjen TNI (Purn) JS Prabowo lewat akun Twitter @marierteman. Dia menyebutkan ada tiga jet tempur yang melintas saat pesawat Prabowo akan lepas landas menuju Purwokerto pada Senin (1/4).
"Info, saat akan menuju Purwokerto (1/4) pswt yg ditumpangi @prabowo aborted take off krn saat akan take off diujung runway melintas 3 jet tempur. Pengaduan resmi + CVR akn disampaikan kpd dirjen perhubungan udara," cuit JS Prabowo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Luntur Isu Prabowo Dihalangi Jet Tempur |
Menepis tudingan itu, Kasubdispenum Dispenau Kolonel Sus M Yuris mengatakan tak mungkin pihaknya menghalangi pesawat Prabowo. Sebab, selama ini TNI AU selalu menjunjung tinggi profesionalitas dan netralitas dalam setiap pemilihan umum.
"Tidak ada tendensi politik apa-apa. Jadi murni hanya profesionalisme kami kepada prajurit TNI AU menjelaskan kepada masyarakat, ini lo kejadian sebenarnya. Mohon tidak ada asumsi atau persepsi macam-macam kepada TNI AU menghalang-halangi salah satu kandidat. Tidak ada sama sekali perintah dari atasan kami sampai ke bawah itu yang memerintahkan menghalang-halangi. Terlalu naif kalau saya bilang, terlalu jauh. Karena komitmen netralitas ini kan luar biasa sudah sampai ke prajurit ke bawah sudah menyadari, sudah mematuhi semua apa yang diperintahkan Panglima TNI maupun kepala Staf AU," ujar Yuris di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat (5/4/2019).
"Jadi semua prajurit, mulai prajurit perwira tinggi sampai prajurit tingkat tamtama, sudah mengerti apa itu komitmen netralitas TNI. Ada 9 poin yang tidak diperkenankan, artinya dilarang anggota TNI untuk terlibat dalam proses atau tahapan pemilu ini. Jadi itu kami menggunakan semua saluran informasi baik internal kami, kami berikan selebaran dan sebagainya bahwa inilah yang tidak boleh. Ada buku saku kecil juga dibagikan kepada prajurit TNI AU biar bisa dibaca apa sih yang boleh dan tidak boleh dilakukan prajurit TNI dalam proses pemilu di tahun ini. Mungkin tidak pemilu tahun ini saja, tapi pemilu yang akan datang. Netralitas TNI adalah harga mati bagi kami," sambung dia.
Yusril lantas menceritakan sebab-musabab pesawat capres nomor urut 02 itu aborted take off atau batal lepas landas. Bukan dicegat oleh tiga jet tempur seperti tudingan awal, pesawat Prabowo batal lepas landas pada Senin (1/4) lantaran Kalong Flight, pesawat angkut sedang yang lepas landas sebelum pesawat 9HNYC yang ditumpangi eks Danjen Kopassus itu belum dalam kondisi aman.
"Dia ini pesawat ini (Kalong Flight) take off di depannya, kemudian climbing, baru di 1.500 feet, kemudian pesawat yang di belakangnya sudah open power dari ATC, kemudian menyadari itu pesawat ini belum bank ke kiri. Harusnya safety-nya itu setelah tidak ada lagi pesawat yang segaris lurus dengan pesawat yang akan take off berikutnya, nah itu makanya diperintahkan untuk close power lagi kemudian kembali ke line up untuk take off. Nah, seperti itu kejadiannya," tutur Yuris.
"Jadi bukan Sukhoi yang menghalangi, dan Kalong Flight ini pun tidak menghalangi karena dia kan cuma terbang saja, sudah diatur oleh ATC. Seperti itu kejadiannya," sambung dia.
Karena itu, air traffic controller (ATC) terpaksa menahan release take off pesawat sang capres. Yuris pun menegaskan tindakan membatalkan lepas landas pesawat Prabowo itu sudah sesuai dengan aturan dan demi keselamatan.
"Jadi semua yang terjadi di mana pun, bandara mana pun di dunia ini, semuanya dikendalikan oleh air traffic control (ATC), tower bandara masing-masing. Nah, kalau dibilang menghalangi, sebenarnya kami sudah menjelaskan melalui Kadispen AU di media maupun di akun media sosial kami di Twitter @_tniau bahwa sequence landing atau pendaratan pesawat kemudian take off pesawat itu sudah sesuai dengan sequence yang ditentukan oleh air traffic control," ujar Yuris.
Begitu pula dengan peristiwa kembali terhambatnya pesawat Prabowo Subianto untuk lepas landas pada Selasa (2/4). Yuris mengungkapkan, tak ada keterlibatan jet tempur Sukhoi dalam peristiwa tersebut. Tertahannya pesawat Ketum Partai Gerindra itu untuk lepas landas lantaran adanya pesawat Wings Air dengan nomor penerbangan 0ne-1721 yang akan mendarat.
"Ini tidak mungkin kita cancel, orang yang final itu artinya sudah dekat sekali dengan ujung landasan. Nah ujung landasan ini tidak mungkin kita ATC mau memerintahkan untuk balik lagi, akhirnya dia landing dulu Wings Air ini, kemudian setelah itu baru pesawat yang ditumpangi oleh Bapak Prabowo masuk line up. Setelah take off menuju Padang 10.23, tujuh menit kemudian baru 3 pesawat Sukhoi. Jadi 10.30 tiga pesawat Sukhoi landing di Halim, jadi tidak ada yang menghalangi, Sukhoi ini pesawat tempur yang dibilang pesawat tempur itu tidak ada yang menghalangi karena jauh jaraknya, jauh jarak waktunya. Dua itu mendahului, 3 Sukhoi belakangan setelah pesawat itu," jelas Yuris.
Sementara itu, terkait tiga pesawat Sukhoi yang mengudara saat itu, Yuris menegaskan jarak landing ketiga jet tempur itu jauh dari posisi take off pesawat Prabowo. Pesawat Prabowo take off menuju Padang pukul 10.23 WIB. Sedangkan tiga Sukhoi yang tengah mengudara mendarat ke Halim pada pukul 10.30 WIB.
"Setelah take off menuju Padang 10.23, tujuh menit kemudian baru 3 pesawat Sukhoi. Jadi 10.30 tiga pesawat Sukhoi landing di Halim, jadi tidak ada yang menghalangi, Sukhoi ini pesawat tempur yang dibilang pesawat tempur itu tidak ada yang menghalangi karena jauh jaraknya, jauh jarak waktunya. Dua itu mendahului, 3 Sukhoi belakangan setelah pesawat itu," katanya.
Yuris pun mengingatkan bahwa ada aturan yang harus dipatuhi di setiap bandara. Termasuk mematuhi instruksi ATC. Selain itu, Yuris mengingatkan bahwa Bandara Halim Perdanakusuma masih berstatus pangkalan militer di mana penerbangan militer lebih diutamakan ketimbang penerbangan sipil.
"Jangan lupa, Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma masih berstatus pangkalan militer. Artinya memang yang utama di sini adalah penerbangan militer. Jadi kira-kira terbayangkan nggak ada pesawat tempur kita mau mengejar pesawat tapi kita harus menunggu dulu ada airline mau take off. Kira-kira masuk akal tidak? Mana yang harus didahulukan? Kedaulatan negara atau waktu Bapak-Ibu nunggu di dalam pesawat. Jadi begitu kira-kira," pungkas Yuris.
Tonton juga video Klarifikasi TNI AU yang Dituding Halangi Pesawat Prabowo:
Halaman 2 dari 2











































