DetikNews
Jumat 05 April 2019, 12:06 WIB

BPN soal Medsos Pendukung Prabowo Diretas: Ini Kemunduran Demokrasi

Ibnu Hariyanto - detikNews
BPN soal Medsos Pendukung Prabowo Diretas: Ini Kemunduran Demokrasi Andre Rosiade (Foto: Ari Saputra-detikcom)
Jakarta - Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno bicara soal peretasan akun media sosial sejumlah pendukung Prabowo. BPN pun meminta peretasan ini harus diungkap karena dianggap sebagai kemunduran demokrasi.

"Penting untuk diungkap ini. Saya sengaja ungkap hal ini kepada teman-teman. Ini bahaya, kemunduran terhadap demokrasi sudah mulai cara-cara otoriter. Bayangkan Whatsapp orang diambil alih, lalu setelah Mbak Imelda diambil alih lalu di blasting isi Whatsapp-nya jelekan Ferdinand atau Twitter Ferdinand diretas diambil alih lalu adu domba dengan yang lain. Ini menunjukkan ada yang kalap, ada yang takut kalah, siapa? tentu kekuatan luar biasa, bisa meretas meng-kloning pihak kami," kata Jubir BPN Andre Rosiade di kantor Dewan Pers, Jakarta Pusat, Jumat (5/4/2019).



Andre kemudian menyebut sejumlah akun medsos pendukung Prabowo-Sandiaga yang diretas. Akun medsos itu antara lain milik Jubir BPN Faldo Maldini, hingga Direktur Media dan Komunikasi BPN Hashim Djojohadikusumo.

"Tadi malam saya mendapat informasi twitternya Faldo diretas, ya tiba gak bisa masuk, logout gitu email masuk twitter. Tapi alhamdulilah sudah bisa di ambil lagi Twitter-nya. Ferdinand juga diretas, Imelda sari WA-nya juga diretas orang ya. Lalu ring 1 Pak Prabowo banyak dikloning hp-nya, ini luar biasa. Pak Hashim juga sempat diretas, semua banyak diretas Pak Prasetyo juga diretas jadi banyak," ujarnya.

Menurut Andre, tindakan itu merupakan bentuk dari kekalapan dari suatu kelompok terhadap para pendukung Prabowo-Sandi. Ia juga menduga peretasan itu dilakukan oleh kelompok yang memiliki dana besar dan kekuatan yang luar biasa.

"Jadi saya menunjukan ada orang yang kalap, ada organisasi tidak dikenal yang punya kekuatan luar biasa, ya punya kekuatan luar biasa, punya duit luar biasa kemudian bisa meretas, bisa mengkloning," sebutnya.

Sebelumnya, akun Twitter milik Kadiv Hukum dan Advokasi Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean, @Ferdinand_Haean sempat menampilkan foto-foto tak senonoh. Selain itu, akun tersebut menuding Partai Gerindra akan membuat hancur Indonesia. Dituliskan juga nama Waketum Gerindra Arief Poyuono dalam kicauan tersebut.



"Partai @gerindra, Arief Poyuono @bumnbersatu pny agenda hancurkan Indonesia. Prtemuan Arief dgn keduanya di Hotel Dharmawangsa, Jakarta pd 21 Maret 2019. Mrka niat bkin rusuh di Indonesia. Barbara Kappel antek Uni Eropa penghancur sawit Indonesia," tulis @Ferdinand_Haean, seperti dilihat detikcom, Selasa (2/4).

Ferdinand pun telah datang ke Bareskrim untuk melaporkan peretasan akunnya. Ferdinand juga memastikan video yang menampilkan foto-foto tak senonoh adalah editan.

Menurut Ferdinand, dugaan unsur politik yang kental dalam kasus peretasan akun ini bukan tanpa dasar. Sejumlah akun lain yang mendukung pasangan calon 02 pun turut dibajak.

"Akun Twitter dan e-mail saya diretas oleh pihak yang saya duga sama pelakunya dan beredar foto-foto tidak senonoh yang dibuat dalam video pendek, saya nyatakan itu tak benar, editan," kata Ferdinand saat dihubungi.


Saksikan juga video 'Rachmawati: Kenapa Pendukung Prabowo Selalu Jadi Target Operasi?':

[Gambas:Video 20detik]


(ibh/haf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed