detikNews
Kamis 04 April 2019, 07:10 WIB

Round-Up

Larangan Internet untuk Pendukung Teror di NZ

ABC Australia - detikNews
Larangan Internet untuk Pendukung Teror di NZ Foto: Pria Adelaide Pendukung Serangan Teror Christchurch Tetap Dilarang Akses Internet. (ABC Australia)
Adelaide - Chad Rolf Vinzelberg, pria asal Adelaide, Australia Selatan, resmi tidak diizinkan menggunakan internet. Keputusan ini merupakan akibat Chad Rolf Vinzelberg menyatakan dukungan atas serangan teroris di Christchurch.

Teror penembakan itu terjadi dia dua masjid di Christchurch, New Zealand pada 15 Maret 2019 lalu. Sedikitnya 50 orang tewas dalam teror masjid itu, dengan lebih dari 40 orang di antaranya tewas di Masjid Al Noor.

Chad Rolf Vinzelberg membuat unggahan di media sosiall terkait teror itu. Dilansir ABC Australis, Rabu (3/4/2019), Chad Rolf Vinzelberg dituduh mengunggah materi di media sosial yang mendukung pembantaian di Christchurch.

Pria berusia 37 itu juga dituduh memiliki senjata tanpa izin setelah polisi menggeledah rumahnya di pinggiran Adelaide bulan lalu. Penggeledahan ini dipicu serangkaian komentar yang dilontarkan Vinzelberg di media sosial yang intinya mendukung pembantaian jamaah masjid di Christchurch. Dia memuji teroris yang bertanggung jawab atas serangan itu.

Pengadilan Adelaide mengungkap, foto profil daringnya menunjukkan Vinzelberg memegang senjata dan selama penggeledahan polisi menemukan senjata berisi peluru di bawah kasurnya, sebuah tongkat serta dua pisau lipat. Senjata palu gada abad pertengahan dan panah otomatis juga turut ditemukan di rumahnya.

Vinzelberg diberikan jaminan tahanan luar oleh pengadilan sebelumnya dengan syarat dia tidak menggunakan internet.

Pada hari Selasa (2//4/2019), dia tampil di persidangan dan meminta pengadilan mengubah persyaratan itu. Dia berdalih punya usaha pertukangan dan menyebutkan telah kehilangan pekerjaannya.

"Saya sangat membutuhkan internet untuk mencari pekerjaan karena media telah memberitakan kejadian ini. Mereka menuduh saya sehingga saya kehilangan pekerjaan," katanya.

"Saya satu-satunya yang bekerja untuk menghidupi keluarga. Saya punya istri dan tiga anak serta masih mencicil rumah," tambahnya.

Hakim Brett Dixon menolak permintaan terdakwa. Usai persidangan, Vinzelberg menyerang media dengan menyebut mereka "binatang".

"Anda semua binatang yang membuat saya kehilangan pekerjaan karena membesar-besarkan masalah ini," katanya.

"Saya butuh pekerjaan. Bisakah saya mengirim resume ke kantor kalian?" ujarnya.

Dalam sidang sebelumnya, polisi menuduh Vinzelberg sebagai orang yang membahayakan keselamatan masyarakat. Pengacaranya saat itu beralih senjata yang ditemukan di rumah terdakwa hanya hiasan dan dipajang di tempat penyimpanan pribadi.

Vinzelberg tidak didakwa sehubungan dengan dugaan materi yang diunggah ke internet. Kasus ini akan disidangkan kembali pada Desember mendatang.

Secara terpisah Asisten Komisaris Polisi Australia Selatan Noel Bamford mengatakan pihaknya terus memantau kelompok dan individu yang memiliki pandangan ekstrim. Dia juga menambahkan polisi kini lebih meningkatkan pengamanan terhadap masjid-masjid yang ada.

"Ada kelompok paling kiri dan paling kanan di Australia Selatan," kata Bamford kepada ABC.
(idh/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed