"Jangan sampai peran ulama dan umat Islam Indonesia yang sangat besar dalam terbentuknya NKRI tercederai dengan berbagai stereotipe keliru, seperti radikalisme, anti-Pancasila, terorisme, dan lainnya. Masyarakat dan generasi milenial sangat perlu mempelajari sejarah bangsanya sendiri dengan benar," katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (3/4/2019).
Saat pemaparan Sosialisasi Empat Pilar MPR di hadapan sekitar 200 lebih peserta Kajian Fiqsos Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) bertema '69 Tahun Mosi Integral Mohammad Natsir, Kekuatan Politik Islam Pembentuk NKRI', di Gedung DDII, Jakarta, Hidayat mengungkapkan bahwa fakta sejarah tak bisa terabaikan. Ulama-ulama seperti Hadratussyekh KH Hasyim Asya'ari dengan fatwa jihadnya melawan penjajah sampai Mohammad Natsir dengan Mosi Integralnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu, Hidayat melanjutkan, pesan fenomenal yang pernah dikatakan Bung Karno, yakni 'jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah' atau Jas Merah harus disandingkan dengan 'Jas Hijau' atau jangan sekali-kali hilangkan jasa ulama.
"Sebab, relevansi dan keterkaitan antara Jas Merah dan Jas Hijau sangat kuat dan saling mengisi serta melengkapi," tutur Hidayat.
Baca juga: HNW Bicara Sejarah RIS ke NKRI |
Hal tersebut, menurut Hidayat, sangat penting untuk disampaikan bahkan diviralkan, di mana sering terjadi berbagai pendegradasian peran Islam dalam NKRI hanya karena beberapa kejadian kecil yang mengarah ke perbuatan kriminal yang membawa-bawa nama Islam.
"Padahal, dalam fakta sejarah Indonesia, peran dan kiprah serta sumbangan umat Islam Indonesia sangatlah besar sehingga terbentuk NKRI hingga kini. Jadi, tidaklah mungkin umat Islam Indonesia bertolak belakang dengan NKRI," pungkasnya. (ega/ega)











































