Di Rutan, Ayu Poliandri Jadi 'Guru' Salon untuk Sesama Napi

Aditya Mardiastuti - detikNews
Rabu, 03 Apr 2019 14:38 WIB
Ayu Poliandri (Foto: Dita/detikcom)
Ayu 'Poliandri' (Foto: Dita/detikcom)
Denpasar - Komang Ayu Puspa Yeni alias Ayu pasrah menjalani hukuman 3 tahun bui karena kasus penipuan dengan modus poliandri. Dia mengisi hari-harinya dengan berbagi keahlian salonnya untuk sesama napi perempuan.

"Paling itu ngajarin rebonding sama temen-temen. Apa yang bisa saya perbuat, saya bisa nyalon itu yang saya berikan. Teman-teman baik-baik, saya ajarin mau, 'oh iya, siapa tahu nanti saya bebas nyalon," kata Ayu di Rutan Negara, Jl Wijayakusuma, Negara, Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa (2/4/2019).

Ayu menyebut keahlian menyalon tersebut dia pupuk dari otodidak sampai mengikuti aneka kursus kecantikan.

Menurut Ayu, sebagian duit yang dia terima dari suami keduanya, I Gede Arya Sudarsana, digunakan untuk mengikuti kursus perawatan kecantikan hingga sulam alis.

"Karena skill itu mahal, ratusan (juta) loh, dari ngeriasnya, sekolahnya mahal harus bersertifikat, nggak bisa orang sembarangan buka salon karena punya modal karena harus bersertifikat. Habis facial ternyata mukanya rusak bisa kita dituntut masuk lagi ke polisi," candanya.

Ayu mengaku santai mengajari teman-temannya di Rutan Kelas II-B Negara. Tak cuma rebonding, Ayu mengaku juga mengajarkan teknik massage.

"Nggak, mereka santai kok. Cepet (diajarinnya), semua saya ajarin massage, kadang juga saya pijet mereka, he-he...," ujarnya.

Ayu lalu tertawa geli. Dia teringat ketika masih menjadi Bhayangkari memberikan pelatihan salon bagi para tahanan di lapas.

"Kadang saya berpikir dulu saya ngasih pelatihan narapidana di Lapas Ngawi, waktu jadi Bhayangkari. Ke lapas untuk ngasih ke para ibu-ibu narapidananya ngasih skill sekarang saya di sini," ujarnya terkekeh.

Ditemui terpisah, Karutan Negara Purniawal menyebut Ayu memberikan pelatihan menyalon sejak tinggal tiga bulan di lapas. Kegiatan itu mnejadi salah satu pembinaan bagi warganya untuk pemasyarakatan.

"Jadi dia melatih di dalam rutan. Jadi pembinaan pemasyarakatan tidak memandang narapidana tapi pemasyarakatan. Awal masuk setelah lewat asesmen dia punya skill salon, saya bilang bantu temen-temen," tutur Purniawal. (ams/aan)