DetikNews
Rabu 03 April 2019, 11:30 WIB

Membaca Persepsi Publik Terkait Skandal Foto Bugil di Tengah Pemilu

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Membaca Persepsi Publik Terkait Skandal Foto Bugil di Tengah Pemilu Firman Kurniawan (Foto: Istimewa)
Jakarta - Skandal foto bugil politikus menjadi fenomena klasik yang terus berulang di tahun pemilu. Foto bugil tersebut disebar dengan tujuan mendegradasi karakter personal si politikus.


Pakar komunikasi digital, Firman Kurniawan, mengatakan penyebaran foto bugil itu diduga sangat berpengaruh kuat untuk membentuk persepsi masyarakat Indonesia yang dikenal religius. Masyarakat yang biasanya hanya melihat politik dari latar saja kini bisa melihat karakter politikus tanpa ada polesan citra.

"Penyebaran foto bugil, skandal seksual atau asusila memang dimaksudkan untuk membunuh karakter personal yang ada di dalam foto. Dalam konteks Indonesia yang masyarakatnya nyaman dengan identitas sebagai warga yang religius, foto-foto dengan tema di atas diduga sangat manjur untuk menjatuhkan personal tertentu, lebih-lebih yang bersaing dalam ajang politik. Ruang-ruang gelap yang terlindungi bedak citra terkuak lebar tanpa polesan lagi," kata Firman mengawali analisisnya kepada detikcom, Rabu (3/4/2019).


Namun, sambung Firman, penyebaran foto bugil di media sosial itu tak lantas membuat politikus gagal mencapai tujuan politiknya. Sebagian politikus yang tersandung kasus tersebut malah tetap melenggang tanpa ada cela.

Ada beberapa penjelasan yang disampaikan oleh Firman untuk memahami fenomena tersebut. Setiap masyarakat, kata Firman, mempunyai titik rujukan masing-masing dalam memahami setiap peristiwa.

"Bahwa dalam menangkap pesan setiap khalayak memiliki point of reference. Menurut teori Social Judgement yg dipopulerkan oleh Muzafeer Sherif, ada 3 kemungkinan titik yang diduduki: latitude of acceptance, latitude of non-commitment, dan latitude of rejection," jelas Firman.


Firman menerangkan, publik yang berada di posisi latitude of acceptance akan menganggap 'pantas' tokoh yang dituduh dalam skandal foto bugil sebagai pelaku meskipun foto tersebut belum tentu benar. Namun sebaliknya, masyarakat yang berada di posisi latitude of rejection akan tetap menolak diyakinkan kebenaran isi foto sekalipun wajah yang ditampilkan atau peristiwa dalam foto memang benar.

"Maka, untuk tokoh politik yang pernah terguncang isu skandal namun bisa melenggang terpilih dan tetap menjabat, itu artinya memang tokoh tersebut dianggap tak 'layak' terlibat skandal. Khalayak ada di posisi latitude of rejection terhadap gorengan isu," terang Firman.


Firman kemudian menjelaskan mengenai tabungan memori masyarakat terhadap foto bugil yang disebarkan di media sosial. Masyarakat, kata Firman, akan merekam secara perlahan citra dari informasi yang terkumpul mengenai politikus tersebut.

"Apa yang membentuk point of reference? Tabungan memori terhadap tokoh yang diisukan dalam foto: riwayat pernah terlibat skandal, opininya terhadap free sex atau toleransinya terhadap perbuatan asusila, membentuk posisi penilaian khalayak. Artinya, tak ada sesuatu yg bersifat tiba-tiba dan langsung membentuk penilaian khalayak. Disebut tabungan memori karena pengumpulan citranya sedikit demi sedikit," ujar dia.

Sebelumnya, foto Staf Ahli Kedeputian IV Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin tersebar lewat jejaring media sosial. Warganet ramai membicarakan foto yang menampilkan seorang pria tanpa baju dan celana itu.

Dia tak ingin berprasangka buruk soal motif yang melatarbelakangi penyebaran foto itu. Dia hanya berharap publik tidak memandang buruk kepadanya hanya karena beredarnya foto itu.

"Itu sebabnya saya juga harus kasih tahu supaya publik tidak merasa bahwa, jangan mereka memberi penilaian macam-macam terkait diri Bang Ali," kata Ngabalin, Senin (1/4/2019).

Sehari sesudahnya, foto politikus Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean tersebar di Twitter. Anehnya, penyebar foto itu adalah akun @Ferdinand_Haean sendiri. Usut punya usut, akun itu ternyata sudah diretas. Begitulah pengakuan si pemilik akun. Akun itu menampilkan foto Ferdinand tanpa baju serta foto seorang perempuan. Ada juga video yang beredar berisi kompilasi foto dan tangkapan layar percakapan pesan tertulis.

"Memang ada foto saya yang asli yang saya simpan, yang mukanya tergores, disimpan di e-mail saya sebagai barang bukti pernah laporan kekerasan kala itu. Tapi foto-foto seperti video itu segala macam saya pastikan fitnah hoax, editan, itu bukan foto saya," kata Ferdinand.


Ramai di Medsos Foto Mirip Ngabalin Berpose Setengah Bugil, Simak Videonya:

[Gambas:Video 20detik]


(knv/knv)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed