BBM Makin Langka, Antrean di SPBU Jatim Makin Panjang

BBM Makin Langka, Antrean di SPBU Jatim Makin Panjang

- detikNews
Senin, 26 Sep 2005 19:21 WIB
Surabaya - BBM terutana jenis solar makin langka di beberapa daerah di Jawa Timur (Jatim). Antrean kendaraan di SPBU-SBU di sejumlah kota di Jatim tampak memanjang, mencapai lebih 3 KM. Atas kelangkaan ini, Pertamina menduga ada panic buying oleh masyarakat. Sejumlah kota yang mengalami kelangkaan BBM yang sangat parah ini, antara lain sebagian besar Madura, Ponorogo, Madiun, Malang, Kediri, Bojonegoro, Tuban, dan Trenggalek. Akibat antrean kendaraan yang sangat panjang, jalan-jalan juga menjadi macet. Aparat kepolisian mengamankan setiap SPBU yang diantre itu. Kelangkaan BBM ini sudah terjadi sejak beberapa hari lalu, setelah pemberitaan tentang kenaikan harga BBM beredar di media massa. Namun, kondisinya makin parah pada Senin (26/9/2005) sebagai respons atas kepastian bahwa harga BBM akan dinaikkan 1 Oktober 2005. Sementara di Surabaya sebagai ibukota Jawa Timur tampak normal-normal saja. Pantauan detikcom, Senin (26/9/2005), SPBU-SPBU di Surabaya tidak mengalami lonjakan pembeli. Antrean kendaraan juga tidak terlihat. Diduga Panic BuyingMengapa BBM di beberapa kota di Jatim ini langka? Humas Pertamina Unit Pemasaran (UPms) V Surabaya, Saiful Bahri, tidak mengetahui secara pasti penyebab kelangkaan BBM ini. Sebab, pihaknya tidak mengurangi pasokan BBM ke semua kota di Jatim. Tiap harinya, pihaknya memasok 4.500 kilo liter premium dan 4.700 kilo liter solar ke semua kota di Jatim. "Kelangkaan ini bukan karena pasokan. Pasokan kita wajar, masih seperti biasanya. Juga tidak ada keterlambatan pasokan," kata Saiful saat dihubungi detikcom. Karena itu, Saiful menduga kelangkaan ini terjadi akibat panic buying masyarakat. Menurut dia, masyarakat tersihir oleh pernyataan pemerintah yang akan menaikkan harga BBM 1 Oktober 2005. "Masyarakat merespons dengan berlomba-lomba membeli BBM dalam jumlah besar, untuk persediaan," ungkap dia. Panic buying ini, menurut Saiful, memiliki kerawanan yang sangat tinggi. "Jadi, berapa pun dikirim, BBM itu akan tetap habis. Kondisi ini sudah tidak seperti hari biasa," keluh dia. (asy/)



Berita Terkait