PDIP soal 'Diplomasi Nice Guy': Prabowo Tak Percaya Bangsa Sendiri

PDIP soal 'Diplomasi Nice Guy': Prabowo Tak Percaya Bangsa Sendiri

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Minggu, 31 Mar 2019 20:25 WIB
PDIP soal Diplomasi Nice Guy: Prabowo Tak Percaya Bangsa Sendiri
Foto: Jokowi-Prabowo saat debat semalam (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Jakarta - PDIP mengkritik sikap capres Prabowo Subianto yang tidak percaya dengan kemampuan bangsa Indonesia dalam kancah internasional. Sikap yang ditunjukkan saat debat semalam itu menurut PDIP, tidak layak ditunjukkan seorang capres.

"Saya sedih dan kecewa Prabowo tidak percaya diri pada kemampuan bangsa sendiri. Kata Prabowo kita dianggap 'nice guy' dalam diplomasi, padahal faktanya kita sangat dihormati dalam pergaulan internasional," ujar politikus PDIP, Charles Honoris kepada wartawan, Minggu (31/3/2019).


Charles mengatakan, peran Indonesia dalam kancah internasional saat ini sudah semakin diakui. Baik perannya sebagai salah satu negara muslim terbesar di dunia, maupun dalam mewujudkan perdamaian dunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Seperti kata Presiden Jokowi, RI memainkan peran sebagai negara mayoritas muslim terbesar di dunia. Misalnya, peran RI yang terus konsisten memperjuangkan kemerdekaan dan membantu rakyat Palestina, dan juga peran RI dalam meredakan konflik di Rakhine State, Myanmar, sebagaimana diminta oleh PBB," katanya.

Bahkan, kata Charles, diplomasi ekonomi Indonesia di bawah pemerintahan Jokowi juga menorehkan pencapaian yang mengagumkan. Indonesia telah mampu memberi kontribusi bagi perekonomian negara.

PDIP soal 'Diplomasi Nice Guy': Prabowo Tak Percaya Bangsa SendiriFoto: Charles Honoris (Nur Azizah Rizki/detikcom)


"Misalnya ekspor 250 kereta api oleh PT INKA ke Bangladesh dengan nilai kontrak sekitar USD 100,9 juta dan berikutnya Filipina yang sudah meneken kontrak sebesar USD 52,8 juta. Belum lagi ekspor bus yang juga mulai dilakukan ke negara tetangga," ujar Charles.

"Keberhasilan Presiden Jokowi dalam diplomasi internasional juga dibuktikan dengan kembali terpilihnya RI menjadi Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB. Ini merupakan salah satu bentuk pengakuan internasional terhadap peran dan kontribusi diplomasi Indonesia di era Presiden Jokowi," sambung dia.

Karena itu, menurut anggota DPR Komisi I itu, debat semalam menunjukkan perbedaan sikap dan pendekatan dalam hubungan internasional yang mencolok antara Jokowi dan Prabowo. Jokowi lebih mengedepankan diplomasi dan multilateralisme. Sedangkan Prabowo mengedepankan hard power dan militerisme.

"Pendekatan hard power dan militerisme cenderung diambil oleh negara-negara diktator dan fasis seperti Nazi Jerman, dan sebagainya. Tentu pendekatan diplomasi hard power ini sudah ketinggalan zaman," kata Charles.


Sebelumnya, dalam debat semalam, Prabowo menyoroti soal diplomasi. Menurut Prabowo, diplomasi punya inti ketimbang sekadar bertemu lalu senyum-senyum. Dia tidak mau RI hanya jadi nice guy atau cuma senyum-senyum dengan negara lain.

"Tetapi diplomasi tidak bisa hanya dengan menjadi mediator, itu penting. Tetapi ujungnya diplomasi itu harus bagian dari upaya mempertahankan kepentingan nasional inti sebuah negara dan, untuk itu, diplomasi hanya bisa dan harus di-back-up oleh kekuatan," kata Prabowo dalam debat keempat Pilpres 2019, yang diselenggarakan di Hotel Shangri-La, Jakarta, Sabtu (30/3).

"Pak, diplomasi kalau hanya senyum-senyum, menjadi nice guy, ya... begitu-begitu saja, Pak. Kalau ada armada asing masuk ke laut kita, apa yang bisa kita buat?" imbuhnya. (mae/rvk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads