Pakai Sistem Kupon, Pangkalan Minyak Tanah Tetap Diserbu
Senin, 26 Sep 2005 14:40 WIB
Jakarta -
Warga Cipete, Jakarta Selatan masih berebut membeli minyak tanah. Karena kesulitan mendapatkan minyak tanah, mereka pun menyerbu pangkalan minyak tanah. Pemilik pangkalan minyak tanah pun memberlakukan sistem kupon.Ini terjadi di pangkalan minyak tanah milik Slamet di Jl. Saba, Cipete Utara, Jakarta Selatan. Sebenarnya, pangkalan minyak tanah Slamet sudah diserbu warga sejak beberapa hari lalu. Namun, sepekan terakhir, warga yang menyerbu ke pangkalannya semakin membludak. Menurut Slamet kepada detikcom, Senin (26/9/2005), dirinya terpaksa memberlakukan sistem kupon kepada warga demi pemerataan distribusi minyak tanah. "Kalau tidak menggunakan sistem kupon ini, satu orang bisa-bisa membawa 10 anggota keluarganya ke sini, sehingga distribusi minyak tidak sampai pada masyarakat di sekitar sini," kata Slamet.Untuk mendapatkan kupon tersebut, setiap warga diwajibkan menyerahkan fotokopi kartu keluarga yang nantinya akan didata dan diverifikasi. "Hingga saat ini, sudah ada 400 kartu keluarga yang terdaftar di sini," kata dia. Pembagian kupon itu dilakukan satu hari sebelum pembagian minyak tanah. Pertamina memasok minyak tanah ke pangkalan Slamet selama tiga kali dalam seminggu, yaitu hari Selasa, Kamis, dan Sabtu. Hari ini, Senin (26/9/2005) misalnya, telah dilakukan pembagian kupon untuk pengembalian minyak tanah pada Selasa (27/9/2005) besok. "Tadi pagi kami sebar 167 kupon. Nanti setiap warga akan mendapat jatah maksimal 5 liter minyak tanah," kata Slamet. Saat pembagian kupon, antrean warga tampak panjang. Bahkan, sejumlah warga tampak kecewa karena tidak mendapatkan kupon. Slamet mengaku setiap satu kiriman Pertamina, dirinya dipasok 5.000 liter minyak tanah. Namun, dia mengaku tidak bisa menjual seluruhnya kepada warga. Dirinya hanya bisa menjual secara langsung kepada warga sebanyak 1.100 liter. "Sisanya kami jual lewat tukang dorong saya. Saya punya 9 orang yang menjajakan minyak ke masyarakat," kata Slamet. Slamet baru memberlakukan sistem kupon mulai Sabtu (24/9/2005) lalu. Suripto, salah seorang warga yang tidak mendapat kupon mengaku dirinya memilih langsung datang ke pangkalan minyak tanah, karena harganya masih murah. "Kalau di tukang dorong, harganya Rp 1.500 per liter. Sedangkan di sini hanya Rp 900," kata Suripto. Selain itu, kata Suripto, beli minyak tanah di tukang dorong hanya dijatah 2 liter. "Tukang dorong lebih mementingkan pelanggannya. Kalau saya langsung beli ke sini, bisa dapat 5 lilter," kata Suripto yang masih tetap ingin mendapatkan kupon dari Slamet ini.
(asy/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































