DetikNews
Jumat 29 Maret 2019, 23:20 WIB

Pantai di Desa Tawa Berair Panas, Kok Bisa?

Danu Damarjati - detikNews
Pantai di Desa Tawa Berair Panas, Kok Bisa? Pantai Tawa (Agung Pambudhy/detikcom)
Labuha - Ini adalah Pantai Tawa. Pantai ini unik karena air di pantai terasa panas. Telur mentah bisa matang bila ditaruh di lubang karang. Kok bisa?

Pantai ini berada di Desa Tawa, Kecamatan Bacan Timur Tengah, Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Lokasinya berjarak sekitar 45 menit dari Pelabuhan Babang, Pulau Bacan, Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara.

Mobil dapat berkendara di atas aspal mulus melewati perkampungan dan perbukitan. Gunung Sibela terlihat dari kejauhan. Bila beruntung, Anda bisa bertemu monyet yakis (Macaca nigra) yang muncul dari rimbunnya tanaman di kanan-kiri jalan.

Tim detikcom sampai di Pantai Tawa, Sabtu (9/3/2019). Jalan setapak mengantarkan kami ke indahnya pemandangan di sini. Anak-anak kecil berlarian di pantai yang bersih dari sampah. Lautan tanpa ombak dipercantik dengan bukit menghijau di seberang.


Pantai di Desa Tawa Berair Panas, Kok Bisa?Pantai Tawa yang berair panas. (Danu Damarjati/detikcom)


Saat kaki mencebur ke air laut, ternyata benar, rasanya memang panas. Suhunya setara dengan air yang digunakan untuk mandi hangat, namun bila terus berjalan ke selatan, air terasa semakin panas menyengat.




Air terasa lebih panas bila mendekati titik berbatu di pinggir daratan. Bila berjalan ke tengah laut, air akan terasa lebih dingin. Ternyata sumber air panas ada di daratan. Asap mengepul dari celah batu-batu karang.

"Ambil telur mentah sudah, taruh di karang itu, nanti dia matang dari dalam," kata pengelola Pantai Tawa bernama Yesaskar Madifo (45).

Kami diamkan telur mentah itu di aliran air bawah bebatuan yang berasap. Setengah jam kemudian, telur menjadi matang. Uniknya, telur ini matang dari dalam. Kuning telurnya lebih keras ketimbang putih telurnya. Rasanya menjadi sedikit asin seperti air laut.


Pantai di Desa Tawa Berair Panas, Kok Bisa?Merebus telur di Pantai Tawa, matang dari dalam, bukan dari luar. (Danu Damarjati/detikcom)


Pengunjung juga bisa memandang laut sambil 'bersauna' memanfaatkan uap-uap yang muncul dari celah karang. Yesaskar mengantar saya ke atas bukit, tempat orang-orang biasa bersauna. Pengunjung biasa duduk di atas lubang berasap sambil menyelimuti badan dengan sarung. Asap dan air hangat yang keluar dari celah bebatuan sama sekali tidak berbau belerang.

"Orang datang ke sini biasanya berendam di air hangat pantai, kemudian sauna di sini. Ini bisa bakar lemak, menurunkan kolesterol, dan mengeluarkan racun dalam tubuh. Ada yang asam urat? Berendam dan mandi uap saja di sini dua kali sepekan. Pasti sembuh," kata Yesaskar.




Cukup bayar Rp 5 ribu untuk dewasa dan Rp 3 ribu untuk anak-anak, pengunjung bisa menikmati pemandangan indah dan air panas di pantai ini.

Yesaskar mengatakan tempat ini ramai pengunjung pada akhir pekan. Berbicara di antara pepohonan, dia mengaku sudah setahun mengelola kawasan yang dia beri nama Grascilia ini, artinya 'anugerah'. Anugerah ini bakal dia kelola tanpa harus meminggirkan masyarakat desa.


"Ini sudah ditawar orang Malaysia, 1 hektare dihargai Rp 1 miliar. Saya tidak kasih. Kalau saya kasih ke mereka, orang sini nanti tidak bisa berendam ke sini (karena jadi resor yang terlalu mahal)," kata Yesaskar.

Pantai di Desa Tawa Berair Panas, Kok Bisa?Pengelola Pantai Tawa bernama Yesaskar Madifo (Danu Damarjati/detikcom)

Ini adalah tanah warisan keluarganya. Dia paham betul sejarah tempat ini yang dulu disebut Padopado. Pulau di seberang disebut Gamjaha yang artinya 'kampung yang tenggelam'.

Legenda Gamjaha di sini mirip dengan legenda Gamjaha di Danau Tolire, Ternate. Dikisahkan, kampung itu ditenggelamkan karena ada penduduk yang inses menghamili putri kandungnya sendiri.

"Kalau dilihat, Pulau Gamjaha itu memiliki bentuk seperti tiga sisir yang menancap di rambut seorang putri. Putri itulah yang berasal dari kampung yang tenggelam. Begitu menurut legenda," kata Yesaskar mendongeng.




Dia tak ingin keindahan alam, kearifan legenda, dan manfaat ekonomi Pantai Tawa sirna dari penduduk desa. Maka dia menjaga tempat ini agar bisa terus diakses oleh khalayak umum, namun tetap tak merusak alam. Supaya pantai tetap bersih, dia melarang kapal untuk sandar di pantai. "Kalau ada kapal, nanti minyak solarnya tumpah, mata orang yang main air bisa pedih. Maka kami melarang kapal langsung ke sini," kata Yesaskar.

Pantai di Desa Tawa Berair Panas, Kok Bisa?Pantai Tawa (Agung Pambudhy/detikcom)


Sumber air panas

Ahmad Zarkasiy dan Yuanno Rezky dari Pusat Sumber Daya Geologi, Bandung, pernah meneliti kawasan ini. Penelitian itu berjudul 'Model Sistem Panas Bumi Berdasarkan Data Gravity Pada Daerah Songa-Wayaua'. Desa Tawa termasuk menjadi objek penelitian itu.

Penelitian itu diterbitkan di Buletin Sumber Daya Geologi Volume 6 Nomor 1 Tahun 2011. Penelitian itu menjelaskan bahwa proses geologi memainkan peran penting memunculkan panas bumi di kawasan itu. Kemunculan air panas adalah salah satu hasil yang langsung nampak dari kandungan panas bumi.

Dari daerah Songa sampai Desa Tawa, panas bumi berkisar antara 45 sampai 103,5 derajat Celcius. Di sebelah selatan dijumpai mata air panas di Pantai Wayaua antara 65 sampai 69 derajat Celcius.

Sumber panas diperkirakan berasal dari batuan vulkanik muda. Di kawasan ini ada Gunung Bibinoi yang merupakan gunung berapi istirahat. Ada pula Gunung Lansa dan Gunung Songa yang masih satu rangkaian.




Sri Widodo dan Bakrun dari Kelompok Penelitian Panas Bumi, juga menyelidiki potensi geolostrik di sini. Dari hasil penelitian yang diakses dari situs Badan Geologi Kementerian ESDM, penelitian itu menyebut suhu fluida bawah permukaan daerah Songa adalah 160 hingga 260 derajat Celcius, sedangkan di daerah Wayaua berkisar antara 112 sampai 175 derajat Celcius.

"Prospek panas bumi Songa tersebar di sepanjang pantai timur antara Desa Tawa dan Songa yang mencapai luas 15 km persegi. Zona ini diduga sebagai zona akumulasi panas (reservoar) yang kedalaman puncak lapisannya bervariasi antara 400 sampai 950 meter," demikian tulis Sri Widodo dan Bakrun.

Baca berita lainnya mengenai Teras BRI Kapal Bahtera Seva di Ekspedisi Bahtera Seva.



(dnu/dnu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed