Kisah Nenek Kaissing, Tinggal di Rumah Bocor dan Urus 2 Anak Gangguan Jiwa

Abdy Febriady - detikNews
Jumat, 29 Mar 2019 21:56 WIB
Nenek Kaissing di rumahnya di Polewali Mandar, Sulbar. (Abdy/detikcom)
Polewali Mandar - Kisah pilu dijalani Kaissing (65) di Sulawesi Barat. Selain dibalut kemiskinan, Kaissing harus mengurus dua anaknya yang menderita gangguan jiwa sejak usia sekolah dasar.

Kaissing merupakan warga Dusun Panggalo, Desa Katumbangan, Kecamatan Campalagian, Polewali Mandar. Dua anaknya yang menderita gangguan jiwa adalah Darwis (35) dan Lappas (29).

"Lihat sendiri kondisinya, Nak, keduanya tidak bisa apa-apa, walau sudah pernah dibawa ke rumah sakit jiwa dengan bantuan pemerintah, dengan harapan penyakitnya bisa sembuh, tetapi sampai sekarang kondisinya masih sama," kata Kaissing saat dijumpai di rumahnya, Jumat (29/3/19).


Kaissing mengaku bingung. Pasalnya, dengan usianya yang sudah tidak lagi muda, dia kesulitan menghadapi Darwis dan Lappas yang kerap mengamuk tanpa alasan yang jelas.

"Masih mending kalau seperti sekarang keduanya bisa tenang, tapi kalau penyakitnya kambuh lagi, tidak jarang mereka mengamuk membuat saya kebingungan, mau dibawa ke rumah sakit tapi tidak ada biaya," sambung Kaissing lirih.

Wanita yang sudah lama menjanda ini sebenarnya masih memiliki 3 anak lainnya. Namun semuanya telah berkeluarga dan tinggal di daerah lain.

Sehari-hari, Kaissing dan kedua anaknya tinggal di rumah semipermanen bantuan pemerintah dari program bedah rumah. Sebagian dinding rumah Kaissing telah menggunakan batu, tapi tidak sedikit yang masih menggunakan papan seadanya.

Kisah Nenek Kaissing, Tinggal di Rumah Bocor dan Urus 2 Anak Gangguan JiwaNenek Kaissing di rumahnya di Polewali Mandar, Sulbar. (Abdy/detikcom)

Tidak jarang Kaissing dan kedua anaknya harus tidur dalam kondisi kedinginan, bahkan kehujanan. Sebab, masih ada dinding yang belum tertutup karena kekurangan bahan.

Agar bisa mendapatkan sedikit uang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Kaissing rela bekerja apa saja. Termasuk membantu warga di sekitar tempat tinggalnya dengan upah seadanya.

"Kalau musim panen biasanya saya ikut jadi buruh atau mengais sisa padi yang terbuang bersama ampasnya, biasa juga saya ikut bantu warga menjahit atap rumbia dengan upah Rp 500 per atap, dalam sehari saya bisa menjahit 10 atap rumbia," ujar Kaissing dengan mata berkaca-kaca.


Dengan kondisi saat ini, Kaissing mengaku mengandalkan hidup dari belas kasih warga karena semakin sulitnya mengumpulkan sisa padi untuk ditukar jadi uang. Serta, sudah sangat jarang warga yang membutuhkan tenaganya menjahit atap dari daun rumbia karena semuanya telah beralih menggunakan atap seng.

Kendati hanya bisa pasrah dengan kondisi hidup yang dijalaninya, Kaissing selalu mendoakan kedua anaknya sembuh agar kelak mereka dapat berjuang sendiri melanjutkan hidup.

"Itu yang ku pikir karena saya ini sudah tua, semoga Darwis dan Lappas bisa sembuh supaya nanti keduanya bisa mengurus diri masing-masing," harap Kaissing. (idh/idh)