DetikNews
Kamis 28 Maret 2019, 18:26 WIB

Wiranto Bilang SBY Tanya 'Ambil Alih' Saat '98, PD: Kok Baru Keluar Sekarang?

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Wiranto Bilang SBY Tanya Ambil Alih Saat 98, PD: Kok Baru Keluar Sekarang? Jansen Sitindaon dan SBY (Foto: Dok. Pribadi)
Jakarta - Menko Polhukam Wiranto bercerita saat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang dulu menjadi anak buahnya di TNI, bertanya apakah dia akan mengambil alih kepemimpinan pada masa tragedi 1998. Partai Demokrat menganggap cerita Wiranto itu aneh.

"Rasanya sih terbalik itu pernyataan Pak Wiranto ya. Dan anehnya sesudah beberapa puluh tahun kok baru keluar sekarang," ujar Ketua DPP PD Jansen Sitindaon kepada wartawan, Kamis (28/3/2019).


Jansen pun enggan menanggapi lebih jauh pernyataan Wiranto tersebut. Termasuk kebenaran di balik cerita yang disampaikan Wiranto soal ketumnya itu.

"Namun yang bisa saya sampaikan, coba saja mari kita lihat peran Pak SBY dalam proses reformasi, sejak menjadi Kassospol dan juga Ketua Fraksi ABRI. Semuanya mendorong ke arah reformasi. Soal bagaimana persisnya dialog itu, biar Pak SBY mungkin nanti yang menjawab ya," tuturnya.

Cerita soal SBY itu bermula dari pernyataan Wiranto yang mengatakan bahwa dia bukanlah orang yang 'gila kekuasaan'. Dia mengatakan, jika mau, dia bisa saja jadi presiden ketika tragedi 1998 pecah.


[Gambas:Video 20detik]


Wiranto mengatakan, dengan semangat persatuan dan kesatuan itulah bangsa Indonesia bisa selamat dari perpecahan, termasuk dari pemberontakan PKI. Dia juga bercerita bagaimana Indonesia selamat dari tragedi 1998 ketika terjadi konflik nasional dan ada upaya untuk menggulingkan pemerintahan yang sah.

Wiranto bercerita, saat itu Presiden Soeharto menandatangani Surat Perintah Instruksi Presiden Nomor 16/1998 yang mengangkat Panglima ABRI sebagai Panglima Komando Operasi Kewaspadaan dan Keselamatan Nasional. Lewat instruksi presiden tersebut, ada sejumlah tambahan kewenangan yang dimiliki Wiranto sebagai Panglima TNI dan Komando Operasi.

"Saya mendapat Instruksi Presiden Nomor 16, dia memberikan kewenangan untuk membuat kebijakan tingkat nasional. Semua menteri, pemerintah pusat dan daerah membantu keputusan saya. Kalau saya gila kekuasaan, seperti di Thailand, langsung ambil alih saja, umumkan darurat militer, ambil alih, saya sudah jadi presiden waktu itu. Tetapi waktu saya bertanya kepada staf saya, kalau saya ambil alih, gedung DPR MPR kita bersihkan dari mahasiswa yang mati berapa kira-kira? Asisten intelijen saya bilang, 'Pak kira-kira 200 mahasiswa mati'. Waduh, mahal sekali harganya. Setelah itu, pasti akan ada perang saudara. Makanya tidak diambil alih," beber Wiranto.

"Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) itu anak buah saya dulu, sekarang presiden kita dua periode. Dulu kepala staf saya, kepala staf sospol, beliau nanya pada saya, 'Bapak Panglima, bagaimana, besok kita ambil alih? Saya katakan tidak, kita antarkan besok pergantian kepemimpinan dari presiden kepada wakil presiden. Itu yang saya lakukan. Alhasil, kita bisa melaksanakan reformasi dengan selamat sampai sekarang," sambungnya.



Tonton juga video Dipimpin Wiranto, TNI-Polri Apel Pengamanan Pemilu 2019:

[Gambas:Video 20detik]


(mae/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed