Wacana Hoax Dijerat UU Terorisme Dikritik, Wiranto: Jangan-jangan Mereka Panik

Adhi Indra Prasetya - detikNews
Kamis, 28 Mar 2019 14:34 WIB
Menko Polhukam Wiranto Foto: Adhi Indra Prasetya/detikcom
Jakarta - Menko Polhukam Wiranto dikritik sejumlah kalangan karena mewacanakan menjerat pelaku penyebar hoax atau berita bohong dengan UU Terorisme. Wiranto mengatakan, jangan-jangan ada yang panik tidak bisa lagi meneror karena wacana tersebut dia angkat.

Wiranto mengungkap hal tersebut dalam pidatonya di seminar nasional Forum Nasional Mahasiswa Anti Penyalahgunaan Narkoba 2019 di Auditorium Harun Nasution, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jalan Ir Juanda, Ciputat, Tangerang Selatan, Kamis (28/3/2019).

Wiranto cerita banyak hal mulai soal persatuan dan kesatuan bangsa, hingga bagaimana generasi muda dihancurkan oleh narkoba dan apa saja upaya yang dilakukan pemerintah untuk menghentikan. Selain itu dia juga bicara soal ancaman-ancaman yang bisa menghambat Indonesia jadi negara besar di tahun 2045.


"Ancamannya banyak. Apakah kita diserang negara lain? Nggak ada. Tak mungkin sekarang negara lain menyerang negara lain. Mahal, dikutuk, nggak mungkin bisa. Ancaman apa yang ada sekarang, pertama terorisme. Terorisme masih bisa menjadi ancaman nomor satu dunia saat ini. Lalu radikalisme, masih ada di zaman kita," kata Wiranto.

Wiranto juga menyampaikan, Presiden RI pertama Sukarno pernah mengatakan 'Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri'. Ucapan Bung Karno itu menurutnya saat ini jadi realita.

"Sekarang kenyataannya betul. Kita mau Pemilu, saling tonjok-menonjok, saling menghina, saling ejek-mengejek, saling fitnah-memfitnah. Terjadi pengelompokkan masyarakat. Oleh Islam sendiri pun ada kelompok-kelompok tersendiri. Ini kan bangsa sendiri, mengapa pemilu kita sampai begini?," ujarnya.


[Gambas:Video 20detik]



Wiranto menyatakan, pemilu adalah persoalan memilih pemimpin yang terbaik. Tidak perlu saling bertempur antara pihak-pihak yang berbeda pilihan.

"Karena memilih itu kan kayak memilih rektor, kan gitu kan. Rektor dijejer calonnya, dipilih yang terbaik, kualitasnya, dedikasinya, integritasnya, pengalamannya, track recordnya, kompetensinya. Kita nggak usah yang lain. Pilihan boleh beda, tapi kebersamaan jangan tergoda," ucapnya.

"Tapi sekarang kenyataan hiruk pikuk kan. Apalagi hoax. Pak Wiranto lemparkan hoax identik dengan terorisme yang sudah mengancam dan sebagainya, maka UU Terorisme. Wah ribut, "Pak Wiranto ngawur'. Yang ngomong itu jangan-jangan panik karena nggak bisa neror lagi," sambungnya.

Wiranto sebelumnya sudah bicara soal adanya kritikan sejumlah pihak terkait dirinya yang mewacanakan menjerat pelaku penyebar hoax dengan UU Terorisme. Dia menyebut, semua pihak boleh-boleh saja mengkritik namun juga harus memberi solusi.

Wiranto menyatakan wacana yang dia lontarkan ini sudah didiskusikan dengan dengan berbagai kalangan. Wacana ini dia lempar agar ahli hukum ikut berpikir dan mencari solusi untuk menuntaskan hoax.

"Perlu ada terobosan. Saya lemparkan wacana itu. Silakan. Saya ngerti bahwa sekarang tidak serta-merta UU Terorisme itu mampu untuk meng-counter itu. Tapi kan perlu ada terobosan. Kalau nggak setuju, ya solusinya apa? Bukan hanya mencela, nggak setuju, katanya Pak Wiranto nggak tahu hukum, terlalu berlebihan. Boleh, komentar itu boleh. tapi tolong solusinya," katanya di kantor Kemenko Polhukam, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (26/3).


593.812 Personel TNI-Polri Siap Amankan Pemilu 2019, Simak Videonya:

[Gambas:Video 20detik]

(hri/fjp)