DetikNews
Selasa 26 Maret 2019, 17:42 WIB

Penjelasan Peneliti soal Survei Elektabilitas Capres yang Berbeda

Eva Safitri - detikNews
Penjelasan Peneliti soal Survei Elektabilitas Capres yang Berbeda Foto: Eva/detikcom
Jakarta - Para peneliti lembaga survei menilai perbedaan angka elektabilitas dari tiap lembaga sebagai hal yang wajar. Teknik pengambilan sampel yang berbeda dinilai akan menghasilkan angka yang berbeda juga.

"Wilayah dan waktu penentuan sampling yang berbeda akan menghasilkan responden yang berbeda," ujar peneliti Alvara Research Center Hasanuddin Ali, dalam diskusi bertajuk 'Analisis Hasil Survei: Mengapa Bisa Beda?', di Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat, Selasa (26/3/2019).



Ali melanjutkan perbedaan itu juga dipengaruhi tim survei yang bergerak di lapangan. Tim survei, kata Ali, belum tentu memahami makna pertanyaan yang diberikan. Jadi tidak semua responden menjawab dengan benar.

"Kemudian, tergantung manajemen project saat kita melakukan survei, apakah tenaga lapangan kita memahami seratus persen apa yang dimaksud dalam pertanyaan sehingga responden bisa menjawab dengan benar," katanya.



Sementara itu, peneliti LSI Denny JA, Ikrama Masloman, mengatakan hasil survei memang seharusnya berbeda. Perbedaan itu, menurut Ikrama, disebabkan ada dinamika politik yang bergerak sejak survei di lapangan hingga pemaparan hasilnya.

"Emang hasil survei itu harus beda-beda, orang yang sama, lembaga yang sama, melakukan survei yang sama juga, diulang sampelnya, itu pun hasilnya beda," ujarnya.



Ikrama kemudian memberikan contoh hasil survei sebelum masa Pilkada Jawa Barat 2018. Sebelum pilkada, menurutnya, hampir semua lembaga survei menempatkan elektabilitas pasangan nomor urut 3 Sudrajat-Syaikhu di urutan ketiga. Angkanya hampir seragam di bawah 10 persen.

Ia memaknai hasil survei itu bukan merupakan hasil jangka panjang. Hasil survei yang diumumkan, menurutnya, hanya berlaku di satu waktu, yaitu waktu-waktu saat pengambilan sampel.

"Kurang dari 1 bulan, instalasi dukungan pasangan Sudrajat itu memiliki kenaikan luar biasa. Artinya, survei tidak bisa dibaca dalam jangka waktu yang lama. Jika dilakukan bulan Maret, maka datanya hanya berlaku pada bulan Maret," paparnya.
(eva/knv)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed