"KPK ini ternyata lebih banyak punya informasi dibandingkan saya. Hanya cocok-cocokkan saja. Cocok semua," kataMahfud diKPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Senin (25/3/2019).Mahfud menyampaikan hal itu ketika disinggung tentang informasi jual-beli jabatan rektor yang pernah disinggungnya. Namun Mahfud mengatakan agar KPK saja yang memprosesnya.
"Isu-isu jabatan itu diperjualbelikan itu namanya informasi. Informasi itu tentu pasti selalu dibantah oleh institusi atau orang yang namanya terseret itu biasa, nggak apa-apa, dan kita nggak pernah nyebut nama orang, nggak pernah nyebut institusinya," kata Mahfud.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mahfud sebelumnya sempat membahas soal pemilihan Rektor UIN Syarif Hidayatullah dalam program ILC TV One bertajuk 'OTT Romy, Ketua Umum PPP: Pukulan bagi Kubu 01?' pada Selasa (19/3). Mahfud menyebut Andi Faisal Bakti yang dua kali menang dalam pemilihan rektor di 2 UIN berbeda tapi tidak dilantik.
"Saya ingin lengkapi kasus-kasus agar selesai ini masalah. Masalah jual-beli jabatan melalui jabatan-jabatan yang tidak wajar, saya akan sebut satu per satu. Untuk UIN, itu ada satu kasus yang sangat luar biasa, itu Profesor Andi Faisal Bakti dua kali menang pemilihan rektor di UIN tidak diangkat," kata Mahfud seperti dilihat detikcom dalam akun YouTube Indonesia Lawyers Club, Kamis (21/3).
"Andi Faisal Bakti masih ada orangnya ini, bahkan sumber yang saya cocokkan dengan Pak Jasin (eks Irjen Kemenag dan eks Wakil Ketua KPK) di sini tadi, Andi Faisal Bakti itu didatangi oleh orang, dimintai Rp 5 miliar kalau mau jadi rektor," imbuhnya.
Namun Rektor UIN Syarif Hidayatullah Amany Lubis menepis anggapan proses tak wajar itu. Amany menegaskan dirinya terpilih sebagai Rektor UIN periode 2019-2023 secara objektif. (dhn/fjp)











































