DetikNews
Jumat 22 Maret 2019, 23:51 WIB

Kesultanan Bacan Melintasi Zaman: Kami Tak Pernah Dijajah Belanda

Danu Damarjati - detikNews
Kesultanan Bacan Melintasi Zaman: Kami Tak Pernah Dijajah Belanda Peta 'Moluccae Insulae Celeberrimae' karya Willem Janszoon Blaeu tahun 1630 (Wikimedia Commons)
Labuha - Di untaian Kepulauan Rempah-rempah, ada Kesultanan Bacan yang melintasi zaman sejak abad-abad silam. Aroma cengkih membuat bangsa-bangsa asing bernafsu menaklukkan kerajaan ini. Namun Kesultanan menegaskan, Belanda tak pernah berhasil menjajah Bacan.

"Bacan ini paling anti-Belanda. Di Bacan ini tidak ada penjajahan," kata Jogogu/ Perdana Menteri Kesultanan Bacan, Datuk Alolong Harmain Iskandar Alam, di Keraton Kesultanan Bacan, Halmahera Selatan, Maluku Utara, Senin (4/3/2019).

Di keraton ini, foto dan lukisan para Sultan dipajang. Potret hitam putih dari puluhan tahun silam hanyalah sedikit kenangan yang bisa menggambarkan perjalanan Kesultanan Bacan. Pangkal sejarah Bacan jauh lebih tua dari foto-foto ini, yakni bermula dari Abad ke-14, era sejarah dan mitos berkelindan.



Dikisahkan, Bacan merupakan keturunan kerajaan tertua dari Moloku Kie Raha (Persatuan Empat Kerajaan), yakni Makian, Jailolo, Ternate, dan Tidore. Kerajaan di Makian berpindah ke Pulau Kasiruta karena letusan Gunung Kie Besi. Dari Pulau Kasiruta yang kini dikenal karena batu bacan Doko itu, pusat pemerintahan berpindah ke Pulau Bacan yang sekarang, pulau yang kini punya luas 2.053 km persegi.

Kesultanan Bacan Melintasi Zaman: Kami Tak Pernah Dijajah BelandaKeraton Kesultanan Bacan (Agung Pambudhy/detikcom)

Keraton di pinggir jalan kawasan Labuha ini juga bukanlah keraton yang pertama, karena keraton lama telah dibom sekutu pada paruh awal Abad 20. Sekilas, keraton ini lebih mirip rumah kuno. Bangunan yang sekarang menjadi cagar budaya ini dibangun pada 1937. Harmain ada di sini, sementara Sultan Bacan Alhajj Abdurrahim Muhammad Gary Dino Ridwan Syah mengontrol dari Negeri Paman Sam karena bekerja dalam bidang teknologi informasi di sana.

Harmain yang berbaju koko putih dan berpeci hitam ini menjelaskan, Kesultanan Bacan berhasil berdaulat atas wilayahnya, sekalipun usaha itu tidak mudah. Sultan Iskandar Alam bahkan sampai diasingkan Belanda dari Bacan ke Batavia dan dilanjut ke Ceylon (Sri Lanka) pada 1788, karena Sang Sultan ogah bermanis-manis sikap ke pihak kolonial.

"Kami lah keturunan Sultan Iskandar Alam," kata Harmain.



Kedaulatan Kesultanan terhadap Belanda juga dibuktikan dengan kerja sama yang mensyaratkan kesetaraan kedua belah pihak. Kerja sama itu dalam bentuk perdagangan dan penyewaan lahan ke Belanda. Ini mirip sebuah negara yang mengundang investor asing untuk mengeksplorasi kekayaan alam negerinya.

"Tidak ada Belanda jajah di Bacan, cuma kerja sama saja," kata Harmain.

Kesultanan Bacan Melintasi Zaman: Kami Tak Pernah Dijajah BelandaFoto mata uang perkebunan Belanda di Kesultanan Bacan peninggalan seabad silam. (Agung Pambudhy/detikcom)

Dia memperlihatkan gambar koin yang menurutnya melambangkan kesetaraan kedudukan antara Kesultanan Bacan dengan Belanda. Koin itu bertuliskan 'Roterdam-Batjan Cultuur Maatschapij: 1 Gulden'. Kata dia, ini adalah koin yang beredar pada masa Kesultanan mengizinkan pihak Belanda membuat perkebunan bernama Baatjan Archipel Maatschappij (BAM), tahun 1881. Komoditas yang ditanam adalah kopi, kakao, karet, tembakau, dan kelapa. Kerja sama dengan pihak Belanda ini dijaga Sultan agar tidak sampai pada taraf menindas masyarakat setempat.

"Bayangkan saja, Sultan pada zaman dulu menjamin lewat klausul kontrak sewa lahan terhadap Belanda: bila ada rakyat saya yang menggembalakan ternak atau bercocok tanam, maka tidak boleh dilarang. Kalau zaman sekarang kan tidak bisa. Kalau sudah dikontrakkan sama orang asing, boro-boro warga mau masuk menggembala ternak, baru ada di sekelilingnya saja sudah diusir oleh yang mengontrak lahan," kata Harmain.

Kesultanan Bacan Melintasi Zaman: Kami Tak Pernah Dijajah BelandaJogogu/Perdana Menteri Kesultanan Bacan, Datuk Alolong Harmain Iskandar Alam (Agung Pambudhy/detikcom)


Kesultanan di Las Ilhas de Cravo

Las Ilhas de Cravo atau Kepulauan Rempah-rempah, begitu orang Portugis menyebutnya, adalah julukan kuno untuk Maluku Utara (Bacan, Jailolo, Tidore, Ternate) di Abad Pertengahan. Kesultanan Bacan ada di bagian paling selatan, komoditas cengkih membuat bangsa-bangsa asing berdatangan.

Diceritakan oleh M Adnan Amal lewat bukunya, "Kepulauan Rempah-rempah", pedagang Cina adalah pihak luar yang lebih dulu tahu bahwa kawasan Maluku adalah pusatnya cengkih. Mereka berhasil menjaga rahasia selama berabad-abad supaya Maluku tak diakses oleh bangsa-bangsa lain. Adnan Amal menyebut pedagang Cina bahkan tahu lebih dulu soal Maluku ketimbang orang Jawa yang baru ke kawasan ini pada Abad 13, menyusul kemudian ada saudagar Arab dan Gujarat pada Abad 14.

Penyebutan 'Las Ilhas de Cravo' oleh orang Eropa Abad Pertengahan sebenarnya dilafalkan dengan penuh ketidaktahuan. Di balik itu terdapat bayangan kabur negeri antah-berantah penghasil cengkih yang pada zaman itu mejadi komoditas mahal di Eropa.

Bayangan kabur itu coba dikejar oleh Laksamana Portugis Alfonso d'Alburquerque di Malaka tahun 1511. Dia mengirim dua orang bawahannya bernama Antonio de Abreiu dan Fransisco Serrao untuk mencari Pulau Rempah-rempah, sampai ketemu. Soalnya, Pulau Rempah-rempah semakin sering dibicarakan orang di pasar dunia.

Tome Pires pada tahun 1515 mendeskirpsikan Kesultanan Bacan sebagai kerajaan dengan banyak tanah dan perahu. Rakyat Kesultanan Bacan berjumlah lebih banyak ketimbang wilayah-wilayah di sekitarnya. Pires bahkan menyebut Bacan sebagai penghasil cengkih sedangkan pulau lain tidak dapat menumbuhkannya. Tiap tahun, ada 5 ribu bahar cengkih yang dihasilkan Bacan. Bahar adalah satuan panjang dari ujung kaki ke ujung tangan, berat 206 kg. Terlepas dari catatan Pires, cengkih (Eugenia aromatica) sebenarnya adalah tanaman yang berasal dari lima pulau: Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Bacan.



Harga cengkih di Eropa sangat mahal karena pedagang harus melewati tiap pelabuhan dengan membayar pajak. Sebelum orang Portugis mencapai Maluku, cengkih biasa didapat dari saudagar Arab dengan harga sangat mahal. Hanya orang berpunya di Eropa saja yang bisa menikmati masakan bercengkih atau aroma cengkih. Catatan harga cengkih Abad 16 ini bisa menjadi ilustrasi:

-Di pasar lokal Maluku, cengkih 1 bahar (206 kg) berharga 1 sampai 2 Ducat (uang emas atau perak Eropa sejak Abad Pertengahan).
-Di Malaka,cengkih 1 bahar bisa berharga 10 sampai 14 Ducat.
-Di Kalkuta, 1 bahar cengkih berharga sekitar 500 hingga 600 Fanam (mata uang kawasan India, 1 Fanam = 1 Real), dan untuk cengkih kualitas utama harganya 700 Fanam.

Kesultanan Bacan Melintasi Zaman: Kami Tak Pernah Dijajah BelandaKebun Cengkih dan Pala di Halmahera Selatan (Danu Damarjati/detikcom)

Di Maluku pada tahun 1600, 10 pon cengkih dihargai setengah penny per pon saja. Namun bila dijual di Eropa akan menghasilkan keuntungan sebesar 32.000%.

Saat Portugis mendarat secara besar-besaran di Maluku pada awal Abad 16, Bacan adalah satu dari empat kerajaan besar di Maluku. Ada satu keistimewaan Bacan yang tak dimiliki kerajaan lainnya.



"Ia dapat mempertahankan kedaulatan dan integritasnya ketika kesultanan-kesultanan tetangga menghadapi masalah tersebut. Ketika Spanyol menyerbu Bacan pada 1611, Bacan berhasil mempertahankan diri dari serbuan itu. Ketika Gubernur Portugis Antonio Galvao berencana menyerbunya, Bacan berhasil membawa Galvao ke meja perundingan untuk menandatangani perjanjian perdamaian tanpa pertumpahan darah," tulis Adnan Amal dalam bukunya.

Baca berita lainnya mengenai Teras BRI Kapal Bahtera Seva di Ekspedisi Bahtera Seva.



(dnu/gbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed