Kenaikan Harga BBM Menambah Luka Masyarakat
Sabtu, 24 Sep 2005 08:05 WIB
Jakarta - Dinaikkannya harga BBM pada 1 Oktober mendatang, menambah ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintah. Apalagi pemerintah belum menunjukkan 'prestasi' yang baik terhadap persoalan-persoalan yang ada. Tidak heran, gejolak semakin meningkat, dengan banyaknya elemen-elemen masyarakat yang menolak kenaikan harga BBM."Meski kenaikan harga BBM sulit dielakkan, namun kebijakan pemerintah harus bersifat holistik. Hal itu mesti diimbangi dengan agenda-agenda lain yang dapat mengobati luka masyarakat," kata pengamat politik Syamsuddin Haris ketika dihubungi detikcom, Jumat (23/9/2005).Menurut Syamsuddin, kenaikan harga BBM harus diimbangi dengan instrumen kebijakan yang lain. Di antaranya adalah pemberantasan korupsi, penyaluran dana kompensasi BBM yang jelas, spekulan BBM, dan membongkar penyelundupan BBM. "Tetapi sayangnya semua permasalahan itu tidak pernah terselesaikan," tandasnya.Dengan melihat kondisi APBN, menurut Syamsuddin, sulit untuk tidak menaikkan harga BBM. Meski begitu, bisa saja pemerintah tidak menaikkan harga BBM. Caranya adalah mengintensifkan instrumen kebijakan lain, misalnya intensifikasi pajak dan pengembalian dana korupsi."Itu pun tidak ada yang selesai. Intinya pemerintah bukan hanya menaikkan BBM, tapi juga membuat luka masyarakat karena betul-betul tidak berpihak pada komitmen untuk memperbaiki situasi," jelasnya.
(ahm/)











































