Pertamina Pekanbaru Bantah Kurangi Pasokan Solar ke SPBU

Pertamina Pekanbaru Bantah Kurangi Pasokan Solar ke SPBU

- detikNews
Sabtu, 24 Sep 2005 05:15 WIB
Pekanbaru - Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar masih terus terjadi di Provinsi Riau. Akibat kelangkaan ini, di SPBU pun terjadi antrean saat pengisian BBM. Malah sejumah kapal angkutan antar pulau enggan melaut. Alasannya jatah minyak mereka dibatasi. Sejumlah SPBU juga mengaku dikurangi pasokan solar dari Pertaminta Unit Pemasaran I Pekanbaru. Tapi pihak Pertamina membantah ada pengurangan pasokan BBM jenis solar tersebut.Lantas apa persoalan yang terjadi sehingga terjadi kelangkaan BBM jenis solar dan apa langkah yang akan dilakukan pertimina mengatasi kondisi tersebut? Berikut wawancara detikcom dengan Kepala Pertamina Cabang Pekanbaru Gandhi Sriwidodo, di kantornya, Jalan Sisingamaraja, Pekanbaru, Jumat (23/09/2005).Sudah sepekan seluruh SPBU di Riau terjadi kelangkaan BBM jenis solar. Apa sebenarnya yang terjadi dengan kondisi saat ini?Kelangkaan ini terjadi karena pemerintah sejak Agustus 2005, menaikan harga solar khusus untuk industri dengan harga Rp 5.350 per liternya. Sedangkan harga solar di SPBU yang disubsidi pemerintah hanya Rp 2.100 per liter. Selisih harga inilah, yang memicu kendaraan milik industri dilepas untuk mendapatkan solar bersubsidi.Apa indikasi adanya pelepasan angkutan kendaraan industri dilepas untuk mengisi solar ke SPBU tadi?Sekarang saya mau buka-bukaan sajalah. Di Riau banyak perusahaan besar baik bidang hutan tanaman industri, Plywood, pabrik kertas dan perminyakan. Antara lain, PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) dibawa naungan Raja Garuda Mas, PT Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP) Sinar Mas Grup, PT Caltex dan perusahaan lainnya.Kondisi sekarang, perusahaan ini mengurangi pasokan solar dari Pertamina. Pengurangan pembelian minyak solar ini, terkait karena harga solar yang kita jual kepada mereka sesuai dengan harga standar internasional yaitu Rp 5. 350 per liter. Kita perkirakan, sejak dinaikan harga untuk industri ini, sejumlah perusahaan mengurangi jatah solarnya. Kita perkirakan 20 persen terjadi penuruan kepada industri. Itu artinya, angkutan mobil di industri dilepas untuk mengisi solar ke SPBU yang disubsidi pemerintah.Bisakah Pertamina mengindentifikasi kendaraan milik perusahaan tadi?Wah... di Riau ini banyak jumlah kendaraan. Mana mungkin kita bisa mengidentifikasi mobil-mobil milik perusahaan tadi. Paling yang bisa kita pantau kalau itu mobil milik industri hanya jenis truk molen (truk khusus mengaduk semen), atau alat berat. Selebihnya sangat sulit kita indetifikasi.Anda menyebut, mengetahui adanya truk industri yang dilelas untuk mengisi solar bersubsidi, lantas apa tindakan Pertamina?Kita hanya sebatas mengimbau pihak perusahaan untuk tidak melepas angkutannya mengisi solar di SPBU. Himbauan ini akan segera kita layangkan ke pihak perusahaan di Riau ini. Tapi kita hanya sebatas itu saja, tidak bisa melakukan tindakan jauh lebih dari itu. Kita minta kesadaran pihak pengusaha, kiranya tidak menyedot solar bersubsidi.Sejumlah SPBU mengaku kebutuhan solarnya dikurangi pihak Pertamina?Itukan cuma alasan SPBU saja. Kita tidak pernah mengurangi jatah pasokan solar di seluruh SPBU yang ada di Riau ini. Sebab, kita memberikan jatah itu sesuai dengan kebutuhan mereka selama ini dari bulan Januari hingga Juli 2005.Nah, baru bulan ini saja kan, SPBU merasa permintaan solar meningkat dari sebelumnya. Lantas mereka mau sesuka hatinya meminta pasokan tambahan dari kita. Jelas kita tidak melayani keinginan SPBU tadi. Soalnya, solar yang kita pasok ke mereka itu bersubsidi. Jadi kita juga harus kendalikan mereka. Jangan cuma memikirkan keuntungan sepihak. Semakin banyak kita salurkan solar bersubsidi, tentunya semakin besar tanggungan pemerintah.Angkutan kapal juga mengeluh banyak persyaratan untuk mendapatkan solar?Sebenarnya yang kita berlakukan sekarang ini merupakan ketentuan umum. Pemilik kapal harus mengurus surat banker dari pihak syahbandar. Setiap kali mereka berlayar harus mendapat surat izin berlayar dari syahbandar termasuk tujuan mereka berlayar. Tanpa itu, kita memang tidak akan melayani mereka.Kalau ada pihak kapal yang mengeluh, itu hak mereka. Sebab, mereka mau enaknya sendiri dalam mengisi solar. Kalau dulu mereka boleh bawa stok BMM di dalam kapalnya, sekarang jelas kita larang. Siapa yang bisa menjamin di tengah laut mereka tidak menjual solar itu ke nelayan atau penadah BBM dari negera lain. (ahm/)


Berita Terkait