DetikNews
Kamis 21 Maret 2019, 21:05 WIB

Cara Ramah Lingkungan Orang Bajo Mendapat Ikan: Memanah dan Menombak

Danu Damarjati - detikNews
Cara Ramah Lingkungan Orang Bajo Mendapat Ikan: Memanah dan Menombak Anjo (17), orang Bajo dari Pulau Papagarang menombak ikan. (Dikhy Sasra/detikcom)
Labuan Bajo - Nama Labuan Bajo seolah menjadi bukti kuatnya tradisi maritim suku yang terkenal sebagai pengembara lautan ini. Berbekal panah dan tombak, mereka mempertahankan tradisi mencari ikan yang ramah lingkungan.

Hujan Rabu (27/2/2019) sore mengguyur Desa Pasir Putih Pulau Messah, berjarak sekitar sejam dari Labuan Bajo. Angin kencang menggoyangkan poster-poster caleg yang semakin banyak saja jelang Pemilu tahun ini. Kapal-kapal yang sandar di dermaga berguncang di atas gejolak air laut.

Kondisi ini tak membuat seorang Nasir Muis (35) takut melaut. Sebagaimana orang Bajo, Nasir memang terlahir untuk hidup dari lautan, atau lebih tepatnya hidup bersama lautan. Dia bersiap menjemput rezeki dengan mempersiapkan dua pucuk panah ikan, ada yang sepanjang hampir 2 meter, ada pula yang lebih pendek sepanjang kurang dari 1 meter. Panah ini akan dibawanya menyelam di kedalaman samudera.

"Saya bisa menyelam sampai 40 meter," kata Nasir.



Pemuda beranak empat ini juga menyiapkan masker renang supaya lebih jelas melihat di air. Namun bila sudah sampai 40 meter, siapapun bakal sulit melihat sekitar. "Di dalam laut itu hening. Menyelam ke dalam harus pelan-pelan supaya napas tidak habis," kata Nasir memberi secuil tips supaya bisa lebih lama berada di air.

Kiat menghemat napas itu tak membuat saya yakin bisa menyamai kemampuan orang Bajo dalam hal menyelam. Penelitian ahli genetik Melissa Ilardo seolah sudah mengukuhkan orang seperti Nasir ini sebagai jagoan. Disebut dalam penelitian yang terbit di jurnal Cell, orang Bajo punya 'gen rahasia' yang membuatnya mampu bertahan di kedalaman laut, sementara aktivitas serupa bisa membuat tewas orang lain. Gen dalam DNA orang Bajo bernama PDE10A membuat limpa mereka lebih besar 50 persen ketimbang suku lain. Keistimewaan gen BDKRB2 orang Bajo memungkinkan pembuluh darah mereka mampu berkontraksi lebih efektif. Dengan karunia itu, mereka mampu bertahan di air lebih lama.

Memanah ikan

Nasir mempersiapkan anak panah mengkilatnya, batang besi berujung tajam ini terhubung dengan tali dan karet di busur berlaras mirip senapan. Begitu karet busur dilepas, anak panah akan melesat dari larasnya dan menembus badan ikan. Ada satu lagi anak panah bertali yang diikatkan ke perahu untuk menggantungkan ikan-ikan tangkapan, supaya bisa ditinggal lanjut mencari ikan. Ikan-ikan yang digantungkan itu sebenarnya juga tak terlalu aman untuk ditinggal jauh.

Cara Ramah Lingkungan Orang Bajo Mendapat Ikan: Memanah dan MenombakPeralatan panah ikan, khas Suku Bajo. (Moch Prima Fauzi/detikcom)

"Ikan-ikan yang digantung itu bisa disambar hiu. Kalau disambar ya hilang semua, cari lagi. Sering juga ketemu hiu," kata Halakim, pemanah ikan yang lebih senior. Usianya sudah 49 tahun namun kemampuan menyelamnya masih cukup dalam, yakni sekitar 6 depa atau 11 meter. Ada yang lebih diwaspadai ketimbang hiu, yakni ikan barakuda. Dengan gigi-gigi tajamnya, ikan barakuda yang membabi-buta bisa membahayakan tubuh penyelam.

Nasir, Halakim, dan pria-pria Bajo lainnya juga biasa menghadapi problem akibat berada di kedalaman air. Orang-orang yang sehat di sini bisa menyelam sampai 20 depa atau sekitar 36,5 meter. Di kedalaman, tekanan air membuat gendang telinga pecah.



"Kalau sakit telinga ya tekan udara dari hidung saja. Gendang telinga ini juga pernah keluar darah," kata Halakim. Gangguan telinga inilah yang menyebabkan gaya bicara nelayan seperti orang marah-marah. Padahal mereka bicara keras agar telinga yang sudah tidak normal bisa tetap mendengar. Apalagi suara mereka juga harus beradu dengan bising mesin tempel di kapal. Meski gaya bicaranya keras, tapi emosi mereka baik-baik saja.

Cara Ramah Lingkungan Orang Bajo Mendapat Ikan: Memanah dan MenombakPeralatan panah ikan, khas Suku Bajo. (Moch Prima Fauzi/detikcom)

Aktivitas mencari ikan dengan panah tetap dilakoni Halakim karena ini lebih murah ketimbang memakai jaring. Penghasilan dari mencari ikan tidak menentu, kadang bisa mendapat 10 kg ikan, kadang 20 kg ikan, kadang juga tidak dapat apa-apa. Mereka juga tetap memikirikan modal melaut berupa solar 20 liter sekitar Rp 180 ribu. Mereka juga perlu menyediakan makanan untuk semua nelayan yang ikut melaut, biasanya ada tiga atau lima orang.


"Penghasilan bersih Rp 100 ribu atau 200 ribu, mungkin juga Rp 50 ribu. Tidak tentu," kata Halakim.



Menombak ikan

Di pulau lain kawasan Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, ada pula warga Bajo yang menangkap ikan dengan alat tombak. Tim detikcom berjumpa salah satu dari mereka di Pulau Papagarang, yakni pemuda bernama Anjo (17).

Tombak pendek berujung trisula tajam dia siapkan sejak dari rumah. Tombak disebut 'sapah' dalam Bahasa Bajo. Ada pula baterai bertenaga aki yang dia siapkan untuk menyilaukan ikan-ikan di malam hari. Lampu itu dia pasang di moncong sampan.

Bersama seorang kawannya, dia bergegas ke laut. Sesampainya di perairan, byur!!! Dia berenang di malam hari tanpa baju. Tak seperti pencari ikan dengan panah, Anjo tidak menyelam terlalu dalam. Dia harus senantiasa memegangi sampannya dan mengendalikan cahaya lampu di ujung perahu supaya tetap mengarah ke target yang dia hendak tombak.

Cara Ramah Lingkungan Orang Bajo Mendapat Ikan: Memanah dan MenombakAnjo (17) dan rekannya menombak ikan. (Dikhy Sasra/detikcom)

Anjo menyelam menggunakan masker dan snorkel. Suara nafasnya terdengar sampai permukaan. Di atas, bintang-bintang nampak jelas di kawasan yang relatif minim polusi cahaya ini. Tak sampai satu jam, dia mendapatkan ikan imut mirip penghuni akuarium yang tak bisa dimakan. "Ini ikan tibok, biasanya makan tai orang," kata Anjo sambil tertawa kecil.



Anjo mengatakan, dia mewaspadai ikan pari dan karang di dasar laut. Dua makhluk itu bisa membahayakan dirinya. Dia biasa berangkat selepas isyak dan pulang ke darat pada pagi harinya. Biasanya, dia dapat sebaskom ikan yang akan dijual di Desa Papagarang saja. Aktivitas dilakukan malam hari karena ikan lebih mudah untuk dihunus dengan tombak.

Selain mendapat ikan, dia biasa mendapatkan teripang dengan harga tiga biji seharga Rp 10 ribu. Ikan kerapu jarang dia dapatkan, bila mendapat kerapu dia bakal senang karena harganya mahal. Duit Rp 100 ribu atau Rp 200 ribu biasa dia kantongi dari mencari ikan semalaman. Dia tak perlu risau esok hari harus berangkat sekolah.

"Saya dari kelas 6 SD sudah tidak sekolah, karena membantu orang tua dengan cari ikan seperti ini," kata dia.



Cara menangkap ikan ramah lingkungan

Cara menangkap ikan dengan panah atau tombak lebih ramah lingkungan ketimbang memakai jaring. Soalnya, mereka bisa memilih jenis ikan yang hendak diburu.

Halakim dari Pulau Messah biasa mencari ikan dari sore hingga pagi hari, saat ikan-ikan mengendurkan kewaspadaan. Ikan ketambak, ikan kerapu, lobster, udang, atau teripang bisa dia dapatkan dengan sengaja. Lain bila menggunakan jaring.

"Kalau pakai jaring kan pokoknya ikan apa saja yang masuk dia tangkap semua. Kalau pakai panah kan kita pilih-pilih ikannya, siapa tahu ada ikan yang dilarang untuk diambil ya kita tidak akan ambil," kata Halakim. "Ikan napoleon misalnya, itu dilarang ditangkap."


Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melarang penangkapan ikan napoleon karena ikan bernama ilmiah Cheilinus undulatus itu terancam punah. Perdagangan ilegal ikan napoleon ke Hongkong pernah membuat Menteri Susi Pudjiastuti geram pada 2014 lampau.

Cara Ramah Lingkungan Orang Bajo Mendapat Ikan: Memanah dan MenombakFoto: Ikan napoleon (Jene0001/Wikimedia Commons)

Penangkapan ikan dengan cara memanah dan menombak ini juga bisa menyelamatkan ikan-ikan yang belum dewasa untuk tetap hidup berkembang biak. Yohanes Kristiawan Artanto dalam jurnal Sabda tahun 2017 menyebutkan Suku Bajo memiliki kearifan lokal menjaga laut. Ada prinsip Bapongka yakni larangan membuang limbah ke laut dan larangan menangkap ikan yang belum berukuran layak tangkap atau belum dewasa.

Baca berita lainnya mengenai Teras BRI Kapal Bahtera Seva di Ekspedisi Bahtera Seva.




(dnu/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed