DetikNews
Rabu 20 Maret 2019, 20:44 WIB

BPN Klaim Survei Kompas Mirip Survei Internal, LSI Bicara Bandwagon Effect

Yulida Medistiara - detikNews
BPN Klaim Survei Kompas Mirip Survei Internal, LSI Bicara Bandwagon Effect Diskusi 'Mengukur Berbagai Hasil Survei' (Yulida Medistiara/detikcom)
Jakarta - Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menilai hasil survei Litbang Kompas turut mengkonfirmasi survei internal BPN yang menunjukkan elektabilitas capres petahana Joko Widodo (Jokowi) sudah di bawah 50 persen. LSI menyampaikan analisis mengenai sikap BPN tersebut.

"Saya kira psikologi kontestan politik adalah tidak boleh menunjukkan kepada pemilih bahwa mereka lemah, dan itu sah-sah saja bagi para kontestan. Nggak mungkin mereka mengakui hasil survei yang mereka lemah," kata peneliti LSI, Ikrama M, di Gado-Gado Boplo, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (20/3/2019).



Ikrama mengatakan hasil survei yang ada selama ini pasti dijadikan evaluasi bagi tim internal. Dia kemudian menyinggung validitas survei internal BPN, yang menunjukkan Prabowo unggul atas Jokowi.

"Misalnya hasil survei yang disampaikan Andre Rosiade itu harus diuji validasinya, terus siapa yang melakukan survei? Kalau di kita validasinya ada kita terasosiasi, di asosiasi survei dan metodenya dipertanggungjawabkan. Kalau kami salah salah, kami akan di-judge oleh publik dan asosiasi. Artinya butuh lembaga independen sehingga suatu survei itu bisa dinilai oleh masyarakat," kata Ikrama.



Ikrama juga menilai BPN inkonsisten dalam menyikapi sejumlah survei. Menurut Ikrama, BPN Prabowo sedang berupaya mengejar selisih elektabilitas dari Jokowi dan menjaga basis pemilih mereka.

"Inkonsistensinya begini, itu seperti buah simalakama. Di satu sisi mereka melihat hasil survei yang mengatakan kalau calon mereka jauh tertinggal dan mereka akan menggunakan untuk mengejar agar kampanye lebih masif, tetapi di satu sisi lainnya mereka harus menjaga basis pemilih mereka," kata Ikrama.



Ikrama kemudian berbicara tentang bandwagon effect terkait pengakuan BPN terhadap hasil survei. "Sebab, ada bandwagon effect atau pemilih yang ikut-ikutan. Jadi ketika ada kandidat yang kuat, mereka merasa akan memilih yang kuat, sehingga para kandidat berhati-hati dalam mengakui survei kalau mereka lemah," ungkapnya.

Pernyataan itu senada dengan pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Ujang Komarudin. Menurutnya, hasil survei itu penting karena dapat mempengaruhi psikologi pemilih.

"Kenapa survei itu menjadi sesuatu yang menarik dalam politik, karena survei sangat menentukan persepsi dan psikologi masyarakat. Oleh karena itu, kalau kita bicara hari ini akurasi lembaga survei 80 persen kredibel," ungkap Ujang.

Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menilai hasil survei Litbang Kompas turut mengkonfirmasi survei internal BPN yang menunjukkan elektabilitas capres petahana Joko Widodo (Jokowi) sudah di bawah 50 persen. BPN menganggap Jokowi tidak mungkin menang.

"Tapi Litbang Kompas memastikan Jokowi decline dan sudah di bawah 50 (persen). Kalau di bawah 50 (persen), sudah nggak mungkin menang ya. Karena gini, ini tren berarti Pak Jokowi sudah tren turun terus, Pak Prabowo naik terus," kata juru bicara BPN Andre Rosiade di Media Center Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (20/3).

Hal yang sama diungkapkan oleh anggota Litbang BPN Harryadin Mahardika. Harryadin mengatakan survei Kompas sama dengan survei internal BPN 4 bulan lalu.

"Sebenarnya kalau survei dari Kompas itu mungkin kira-kira sama dengan survei kita 4 bulan lalu. Hasilnya seperti itu. Sekarang jauh sudah lebih ini, sudah lebih tipis," kata Harryadin di Media Center Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
(yld/knv)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed