detikNews
Rabu 20 Maret 2019, 18:15 WIB

Elektabilitas Jokowi-Prabowo Dinilai Stagnan karena Timses Jadi Caleg

Yulida Medistiara - detikNews
Elektabilitas Jokowi-Prabowo Dinilai Stagnan karena Timses Jadi Caleg Emrus Sihombing (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Direktur Eksekutif Emrus Corner, Emrus Sihombing, menilai elektabilitas capres Jokowi dan Prabowo Subianto stagnan. Emrus menduga kondisi tersebut terjadi karena tak sedikit timses yang menjadi calon anggota legislatif (caleg).

Emrus awalnya menyoroti hasil survei Litbang Kompas terbaru yang menyatakan elektabilitas Jokowi-Ma'ruf Amin dengan Prabowo-Sandiaga Uno berselisih 11,8 persen. Emrus menyebut angka margin of error survei tersebut tidak jauh berbeda dari survei sebelumnya.

"Jadi pertanyaan kita mengapa stuck di batas itu. Artinya, elektabilitas mereka tidak berubah dari di batas margin of error, artinya tidak berubah. Mengapa? Saya menduga mesin politik partai belum bekerja maksimal, mesin parpol masing-masing pendukung masih belum bekerja maksimal. Mengapa? boleh jadi saya melihat teman teman di timses itu caleg juga kan di dapil masing masing. Itu seharusnya timses itu bukan caleg," kata Emrus di Gado Gado Boplo, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (20/3/2019).




Emrus menilai para caleg yang juga timses itu akan lebih fokus mengkampanyekan diri sendiri dibandingkan capres-cawapres yang diusung partai. Dia mengusulkan sebaiknya para timses yang caleg itu diganti agar bisa fokus mengkampanyekan capres-cawapres.

Tak hanya itu, Emrus menuding ada pula kader yang tidak serius mengkampanyekan capres-cawapres yang diusung partainya. Hal tersebut, sambung Emrus, juga menyebabkan kurang maksimalnya kerja mesin partai terhadap peningkatan elektabilitas capres-cawapres.

"Adakah fenomena itu? Ada, sehingga kalau dia kemungkinan swing partai dia tidak bekerja maksimal. Yang swing partai itu siapa lagi yang kader-kadernya, partainya mendukung ini dan pribadinya dukung lain lagi. Nah ini jadi masalah," ungkapnya.

Ia menilai seharusnya timses mengkonsolidasikan komitmen untuk pemenangan capres-cawapres yang diusung. Ia mengatakan pentingnya menyolidkan dan meningkatkan militansi kader dan partai koalisi.

"Swing partai itu sama dengan swing voters sudah menentukan pilihan tapi bisa bergeser. Artinya, kalau dia berada swing partai, berarti dia tidak bekerja serius. Karena siapa pun yang menang kan bisa bergeser. Jadi hati hati. Oleh karena itu, perlu konsolidasi paslon parpol dan timses, militansi nggak partainya itu? Benar nggak? Kukuh nggak mereka membela salah satu paslon," ungkapnya.




Sebelumnya, Litbang Kompas merilis hasil survei elektabilitas pasangan capres-cawapres yang berlaga di Pilpres 2019, sebulan sebelum hari pencoblosan. Survei digelar pada 22 Februari-5 Maret 2019 dengan melibatkan 2.000 responden yang dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis bertingkat di 34 provinsi di Indonesia. Margin of error survei ini plus-minus 2,2% dengan tingkat kepercayaan 95%.

Berikut ini hasil survei yang dirilis Litbang Kompas:

Jokowi-Ma'ruf Amin 49,2%
Prabowo Subianto-Sandiaga Uno 37,4%
Rahasia 13,4%
(yld/zak)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed