DetikNews
Rabu 20 Maret 2019, 16:43 WIB

CT Bicara Tantangan Makin Berat di Tengah Kemajuan Teknologi

Eva Safitri - detikNews
CT Bicara Tantangan Makin Berat di Tengah Kemajuan Teknologi Founder & Chairman of CT Corp Chairul Tanjung (Foto: Muhammad Ridho)
Jakarta - Founder & Chairman of CT Corp Chairul Tanjung (CT) berbicara mengenai tantangan yang akan dihadapi masyarakat di tengah perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. CT mengatakan dunia berubah begitu cepat seiring dengan inovasi teknologi digital.

CT menyampaikan pernyataan tersebut saat menjadi pembicara seminar dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Ikatan Hakim Indonesia (HUT IKAHI) ke-66 di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Rabu (20/3/2019). Seminar mengangkat topik 'Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen dan Pelaku dalam Transaksi Elektronik di Era Teknologi Digital'.

"Segala sesuatu sebenarnya perubahan itu sudah terjadi dari zaman dahulu kala cuma kita tidak merasakan luar biasa," kata CT mengawali paparannya.



Menurut CT, perubahan sebenarnya tak hanya terjadi di era saat ini tapi juga di masa lampau. Namun, CT melanjutkan, perubahan yang terjadi saat ini lebih berbahaya dan cepat sebab inovatornya lebih banyak dan berdampak luas bagi seluruh elemen masyarakat.

"Perubahan yang terjadi sekarang ini ternyata lebih berbahaya, kenapa? Karena dia lebih cepat, lebih sering dan berdampak lebih besar. Kenapa bisa begitu? Karena inovatornya, penemunya makin lama makin banyak," ujarnya.


Founder & Chairman of CT Corp Chairul Tanjung Founder & Chairman of CT Corp Chairul Tanjung Foto: Eva Safitri/detikcom


Perubahan Teknologi

Mantan Menko Perekonomian era Presiden SBY itu mengatakan setidaknya ada dua pemicu terjadinya perubahan yang luar biasa saat ini. Menurut CT, perubahan dunia yang begitu cepat disebabkan oleh perkembangan yang massif di bidang teknologi dan bidang demografi.

"Pertama perubahan di bidang teknologi dan kedua di bidang demografi. Kalau kita lihat sekarang di teknologi kita tau teknologi itu sekarang sudah masuk dalam era revolusi 4.0 dimulai dari ditemukannya mesin uap, listrik, komputer, dan sekarang masuk dalam revolusi keempat yang banyak disebut dengan internet. Era segala sesuatunya itu dilakukan melalui internet," urai CT.

Dia menyebut dunia saat ini masuk dalam masa yang disebut sebagai era internet of things. Era tersebut bergerak menuju era yang memanfaatkan robot untuk menggantikan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh manusia.

Salah satu ciri lain, menurut CT, yang mewarnai perubahan saat ini adalah dunia yang akan dikelola dengan berbasis data. CT meramal bakal ada perubahan-perubahan signifikan dalam kehidupan manusia yang sebelumnya sama sekali tak terbayangkan.

"Segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan di dunia ini nanti dikelola dengan berbasis data. Dan data itu tidak perlu disimpan di komputer karena sudah ada sistem komputasi awan tanpa menggunakan komputer," kata CT.

"Lalu muncul era 3D printing, dimana sekarang printer itu kan keluar berwarna, nanti sebentar lagi dan sekarang sudah ada namanya 3D printing. Hampir semua perusahaan konstruksi ternama di dunia memakai 3D printing. Bahkan nanti dunia kedokteran pun memakai 3D printing. Nanti nggak perlu kuatir kalau Punya sakit ginjal nggak usah cari donor karena nanti sudah dapat diproduksi dimana nanti DNA-nya dikonek di komputer dan dibuat dengan bahan yang tidak ditolak oleh tubuh kemudian dicangkok," lanjut dia.



Selain itu, CT memaparkan dunia akan menghadapi era artificial intelligence. Di era ini, kecerdasan tak lagi dilakukan oleh otak manusia tetapi semuanya dilakukan oleh internet berdasarkan kegiatan analytic dan algorism tertentu.

"Nah akibat dari ini muncul namanya raksasa baru. 7 dari 10 perusahan paling besar di dunia dari segi kekayaannya atau marketnya dikuasai oleh perusahaan ekosistem," ujar CT.

Perubahan-perubahan inilah, kata CT, akan menyebabkan perubahan yang cukup drastis terhadap struktur. CT mencontohkan jika dulunya bangunan, pabrik dan hotel merupakan sebuah aset maka ke depan data adalah aset terpenting dari masyarakat.

Perubahan Demografi

Menurut CT, perubahan kedua yang akan dialami oleh dunia adalah perubahan demografi. CT kemudian menyitir laporan dari Majalah Times yang terkait perubahan generasi tersebut.

"Sekarang kita masuk ada perubahan demografi. Majalah Times menyebut saat ini muncul perubahan generasi me me me, generasi saya, generasi gue. Sekarang muncul the me generation. Dan Indonesia masuk ke generasi itu, karena 64 persen populasi Indonesia tahun 2020 didominasi oleh generasi milenial," ujarnya.



Perubahan generasi juga ini akan dialami oleh Indonesia. CT memprediksi beberapa tahun ke depan Indonesia didominasi oleh generasi milenial yang karakternya tergantung kepada smartphone dan sosial media.

"Karakter generasi milenial ini semuanya tergantung pada smartphone. Karena segala sesuatu hidupnya tergantung smartphone dan sosial media. Generasi mereka kerja, bermain, happy happy itu harus sama sama. Buat mereka punya uang itu dibelanjakan. Uang datang bulan depan, belanjanya sekarang," paparnya.

CT mengatakan perubahan teknologi dan perubahan demografi ini menyebabkan perubahan gaya hidup. Salah satu contoh yang paling simpel adalah orang yang awalnya belanja ke toko atau pasar tradisional, kini bisa belanja online.

"Tadinya baca koran sekarang baca detik. Jadi oplah koran turun terus pembaca detiknya makin naik," kata CT memberi contoh lain mengenai dampak perubahan tersebut.



Kedua perubahan ini, menurut CT, tentu memberikan dampak positif bagi perkembangan masyarakat. Harga barang dan jasa menjadi lebih murah dan akses informasi yang bisa didapat masyarakat menjadi tidak terbatas.

"Ini semua merubah gaya hidup, gaya hidup ini tentu ada dampak positifnya. Dampak positifnya harga barang dan jasa menjadi murah. Kenapa supaya dapat konsumennya. Memulai udah sekarang lebih mudah, akses informasi jadi tidak terbatas. Makanya sekarang murid lebih pintar, karena gurunya. Bekerja lebih produktif dan efisien," ujar CT.

Namun, CT melanjutkan, kedua perubahan tersebut bisa juga menjadi sebuah tantangan bagi kehidupan manusia. Menurut CT, bukan tidak mungkin ke depan robot akan menggantikan manusia untuk bekerja di sebuah perusahaan dan pabrik.

"Saya kasih gambarannya, upah buruh di Karawang sekarang hampir RP 4 juta. 10 tahun lagi dengan aturan yg berlaku saat ini maka buruh di Karawang sudah lebih dari Rp 15 juta per orang. Kalau itu terjadi pasti pabrik di Karawang akan mengganti buruhnya dengan robot. Kenapa? Karena teknologi makin murah dan orang menjadi semakin malam. Itu tantangan SDM ke depan," ujar dia.

Tantangan lain yang bakal dihadapi masyarakat dunia adalah fenomena the winner takes all atau pemenang mengambil semuanya. Hal ini sudah terjadi pada beberapa perusahaan dunia karena kalah bersaing dengan perusahaan lain.

"Kedua, dalam era digitalisasi ini ada fenomena yang disebut the winner takes all. Jadi pemenang ambil semuanya dan itu terjadi, ada cerita dulu kita pakai Yahoo. Kemana Yahoo sekarang? Down karena kalah bersaing. Amazon itu menjadi pemenang dari e-commerce di Amerika, saat ini Amazon telah menguasai 49 persen pasar di Amerika dan sebentar lagi pasti akan di atas 50 atau 60," ujarnya.

Fenomena tersebut, menurut CT berpotensi menyebabkan persaingan tidak sehat. Kata CT, perusahaan kecil dan menengah akan tergerus oleh perusahaan yang lebih besar dengan adanya fenomena tersebut.

"Nah kalau ini terjadi maka ada fenomena yg akan terjadi. Yang paling tidak inginkan adalah potensi persaingan tidak sehat akan meningkat. Dan yang berat buat kita begitu banyak perusahaan kelas menengah dan kecil, tidak bisa bersaing. Dan yang besar sekalipun akan kalah. Ini akan terjadi yang namanya fenomena the winner takes all.

Tak hanya itu, CT menerangkan masih banyak lagi tantangan yang bakal dihadapi masyarakat di tengah perkembangan teknologi digital ini. Masalah-masalah yang akan muncul pun akan semakin kompleks.

"Ini adalah tantangan yang akan kita hadapi. Belum lagi masalah perpajakan, perpajakan di digital ini menjadi isu yang luar biasa, tahun lalu kita ribut Google karena mendaftarkan perusahaannya di luar negeri tidak di Indonesia. Lalu perusahaan e-commerce perpajakannya baru mau digunakan oleh Kemenkeu ramenya luar biasa. Jadi masalah ini adalah masalah tantangan kita ke depan," bebernya.



(knv/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed