Dua Kali 'Diusir', Wartawan Boikot Acara Presiden SBY
Kamis, 22 Sep 2005 17:09 WIB
Jakarta - Wartawan juga manusia, punya rasa dan punya hati. Gara-gara dua kali 'diusir' oleh petugas Biro Pers dan Media Sekretariat Presiden, wartawan yang biasanya meliput di Istana Presiden atau biasa disebut wartawan RI-1 memutuskan untuk memboikot acara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.Tindakan pengusiran pertama terjadi tadi pagi pukul 09.00 WIB, Kamis (22/9/2005). Presiden SBY diagendakan untuk menerima Direktur Utama PT Danareksa Lin Che Wei.Wartawan, yang sudah tergesa-gesa datang ke Kantor Presiden, Jl. Medan Merdeka Utara, Jakarta, untuk meliput acara tersebut ternyata dicegat oleh salah seorang petugas Biro Pers Media. Wartawan dilarang masuk ke Kantor Presiden dengan alasan acara bersifat intern.Penolakan ini jelas mengecewakan para wartawan yang sudah terburu-buru datang ke Istana. Pasalnya, jadwal acara RI-1 yang biasanya di-SMS-kan oleh Biro Pers dan Media pada malam sebelumnya, ini baru dikirimkan pada pukul 08.00 WIB atau sekitar satu jam sebelum acara.Sudah begitu, ternyata ketika datang, malah dilarang meliput. Namun, wartawan yang jumlah 50-an orang ini hanya bisa pasrah menerima perlakuan itu dan kembali ke press room yang jaraknya lumayan jauh dari Kantor Presiden. Para wartawan yang berasal dari media elektronik, cetak, radio, serta online ini kemudian melanjutkan aktivitas rutinnya: menunggu.Setelah ditunggu sekitar lima setengah jam, sekitar pukul 14.30 WIB datang dua petugas yang tidak terlalu dikenal wartawan. Keduanya menginformasikan bahwa acara Presiden SBY pada pukul 15.00 WIB adalah menerima Panglima TNI, Menteri Pertahanan, dan tiga kepala staf. Statusnya: bisa diliput.Karena sudah ada lampu hijau, wartawan segera bergegas menuju Kantor Presiden. Namun tiba-tiba, di tengah jalan, rombongan wartawan dihadang oleh Kepala Sub Bagian Foto Biro Media dan Pers yang bernama Karmaya Thahir. Ia mencegat kamerawan stasiun televisi yang hendak mengambil gambar para tamu presiden. "Siapa yang membolehkan kalian ke sini. Tunggu dulu ya, ini kan intern," ujarnya.Thahir kemudian menelepon petugas lain, meminta penjelasan apakah wartawan diperbolehkan meliput acara RI-1. Namun, setelah ditunggu sekitar 20 menit tidak ada kepastian, sementara udara lagi panas-panasnya, wartawan pun kembali ke press room dengan kecewa.Selang beberapa lama kemudian, sekitar pukul 15.10 WIB, Thahir mendatangi wartawan meralat pernyataannya sebelumnya. Menurut Thahir, acara boleh diliput. Thahir kemudian meminta maaf kepada para wartawan.Tapi, wartawan tidak terima dengan sekadar permohonan maaf dari Thahir. Wartawan meminta Kepala Biro Pers dan Media Sekretariat Presiden Garibaldi Sujatmiko Garibaldi datang menemui mereka. Sekitar 45 menit kemudian Garibaldi mendatangi wartawan, dan meminta maaf. Menurut dia, kejadian ini semata-mata karena masalah komunikasi. Yakni karena pihak protokoler ragu-ragu apakah acara boleh diliput wartawan atau tidak. "Ini cuma masalah misscommunication saja," katanya.Wartawan dapat menerima permohonan maaf Garibaldi, namun wartawan tetap menolak untuk meliput acara Presiden SBY menerima Menhan, Panglima TNI, dan tiga kepala staf. Tujuannya, untuk memberikan 'pesan' kepada Biro dan Media Pers agar tidak mempermainkan wartawan dan menghalangi tugas jurnalistik wartawan.Sebagai bentuk boikot, para wartawan elektronik meletakkan microphone di depan press room, wartawan lainnya ada yang meletakkan ID Card Istana Presiden dan beberapa tape recorder.Setelah itu, sebagian wartawan pulang. Sebagian menuju Istana Wapres. Sebagian lagi tetap di press room untuk sekadar duduk-duduk, atau menyusun berita.Loh katanya boikot? Memang. Yang disusun ya berita pemboikotan.
(gtp/)











































