detikNews
Jumat 15 Maret 2019, 02:30 WIB

Cerita Kapolres Jakbar Temukan Konten Porno di Aplikasi Ponsel ABG

Jefrie Nandy - detikNews
Cerita Kapolres Jakbar Temukan Konten Porno di Aplikasi Ponsel ABG Kapolres Jakarta Barat Kombes Hengki Haryadi (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta - Media sosial tidak hanya memberikan dampak positif, tetapi juga pengaruh negatif bagi anak-anak. Para ABG kini tidak hanya menggunakan media sosial untuk memperluas pergaulan, tetapi sebagai sarana melakukan kejahatan.

Hal ini diungkap oleh Kapolres Jakarta Barat Kombes Hengki Haryadi dalam 'Silaturahmi Forum Komunikasi Pimpinan Kota Jakarta Barat' yang digelar di kantor Wali Kota Jakarta Barat di Kembangan, Jakbar, Kamis (14/3/2019). Acara ini dihadiri oleh Wali Kota Jakbar Rustam Effendi dan Dandim Jakbar Letkol Jatmiko Adi.

Hengki mencontohkan para ABG yang terlibat geng motor yang pernah diungkap oleh Polres Jakarta Barat beberapa waktu lalu. Para ABG ini menggunakan medsos sebagai sarana untuk janjian melakukan tawuran.

"Dia live di medsos. Menunjukkan aktualisasi dirinya, menunjukkan eksistensi dirinya, sehingga 'dianggap' kelompoknya," kata Hengki.

Mirisnya, para ABG ini tidak merasa jera setelah ditangkap polisi. Tetapi justru mereka merasa bangga menjadi 'jagoan'.

"Ternyata, begitu keluar, justru dia jadi jagoan, istilahnya itu adalah tank. Tank itu dia yang paling kuat, bawa senjata yang paling besar," sambungnya.

Polisi juga sempat membongkar ponsel para ABG ini. Dari situ Hengki mengetahui para ABG ini pernah melakukan sejumlah kejahatan.

"Kami baca medsos (mereka), bongkar semua, setelah melakukan perampokan, membunuh orang, nggak ada sama sekali penyesalan," ungkapnya.

Polisi juga membongkar aplikasi percakapan WhatsApp kelompok geng motor ini. Percakapan para ABG WhatsApp itu sudah tidak mencerminkan perilaku anak di bawah umur.

"Yang terjadi adalah mencari wanita, anak-anak kecil tawar-tawaran, 'Eh, lo harganya berapa lo?'," tuturnya.

Hengki juga menceritakan pengalamannya membongkar prostitusi online. Dalam kasus ini polisi menangkap lima orang admin prostitusi online.

"Melalui patroli cyber, kami membuka lima admin Tinder. Kemudian member grupnya itu ada 1.333 orang, yang di bawah umur 739 orang," katanya.


Hengki melanjutkan akun tersebut menyediakan layanan dengan konten yang mengandung unsur pornografi.

"Dalam akun ini. Apa layanan yang disediakan, yang pertama adalah phone seks, kemudian video call seks," katanya.

Para ABG yang menjadi member di akun tersebut juga sudah paham dengan istilah-istilah percakapan di grup tersebut.

"Jadi ada istilahnya 'telen', 'telen' ini telanjang bulat, kemudian di-shooting. Semuanya melihat dengan membayar per bulannya Rp 200 ribu. Jumlah 'telen' wanita 30 orang dan 10 di antaranya adalah siswa SMA, siswi SMA, anak-anak kita," tuturnya.
(mei/nvl)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com