Sidang Karen, Saksi Cerita Proses Teken Proyek Akusisi Blok BMG

Zunita Putri - detikNews
Kamis, 14 Mar 2019 13:21 WIB
Sidang Karen Agustiawan di PN Tipikor Jakarta (Zunita/detikcom)
Jakarta - Eks Dirut Pertamina Karen Agustiawan disebut menandatangani perjanjian proyek akuisisi Blok BMG. Karen juga disebut yang memutuskan berinvestasi 10 persen atau senilai USD 30 juta di proyek Blok BMG.

Hal ini dikatakan oleh mantan Senior Vice President Business Development Pertamina, R Gunung Sarjono Hadi, saat bersaksi di persidangan Karen di PN Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (14/3/2019).

Awalnya, Gunung menjelaskan soal proses awal sebelum akuisisi dimulai hingga Pertamina mengakuisisi proyek Blok BMG. Menurutnya, dia awalnya menerima e-mail dari Vice Presiden Keuangan, Budi Himawan, untuk menganalisis lahan yang dimiliki Roc Oil Company Limited (ROC) Australia, kemudian setelah itu dibuatlah tim untuk mengevaluasi email tersebut.


Dia mengatakan, untuk mengevaluasi proyek ini, tidak hanya tim dari Pertamina saja tetapi juga ada evaluasi due diligence. Tujuannya, agar evaluasi lebih komprehensif. Setelah dievaluasi oleh tim dan due diligence, berkas evaluasi itu diserahkan kepada komisaris.

"Pada prisnipnya tidak ada penolakan. Jadi setelah tanggal 17 April nggak ada masalah. Tanggal 22 April kita sampaikan surat, di situ tanggal 30 April dewan komisaris persetujuan untuk melakukan bleeding. Lalu dilanjutkan untuk bid mission pada 1 Mei. Setelah 1 Mei kita sampaikan ke ROC via Citi," kata Gunung di persidangan.

Lalu Gunung mengatakan akhirnya Pertamina memutuskan berinvestasi 10 persen, yaitu USD 30 juta. Dia juga mengatakan saat itu Karen meminta para direksi yang ikut dalam proyek ini agar merahasiakan proyek itu.

"Jadi dibeli?" Tanya hakim ketua Emilia.

"Iya (beli) 10 persen, USD 30 juta," kata Gunung.

"Siapa yang putuskan 10 persen dan harga?" tanya Emilia.

"Ibu Dirut (putuskan investasi 10 persen). Meskipun beliau dapat data-data dari tim. Jadi pada saat itu emang ada aturan tidak boleh semua orang tahu karena ini rahasia sehingga saat kita presentasi semua paham, kemudian tim kerja siapkan over-range kemudian Pak Bayu sebagai ketua tim kerja menjelaskan ini. Akhirnya beliau katakan, 'Bu Karen isi format itu, berapa nilai dari 10 persen'," kata Gunung


Gunung menjelaskan, percenting 10 persen itu sudah tertera di range yang diminta ROC. Saat itu, ROC disebut memberi pilihan Pertamina range, yaitu sekitar 10-40 persen.

"Percenting itu memang sudah ada range dalam ROC. Jadi ini betul-betul menjadi suatu keputusan tertinggi dari perusahaan, dan ini tentunya Bu Karen sudah pertimbangkan semua aspek," imbuhnya.

Sementara itu, ketika ditanya apakah ada masalah dengan Dewan Komisaris PT Pertamina terkait penandatanganan itu, Gunung mengaku tidak tahu-menahu.

"Setelah penandatanganan 10 persen itu nggak ada masalah?" Kata hakim Emilia.

"Nggak ada," ucap Gunung

"Gimana dengan dewan komisaris? Ada masalah?" Lanjut Emilia.

"Pada saat kami menerima, Direktur Hulu yg menyetujui ini untuk bleeding, lalu kami nggak tahu persis komunikasi setelahnya," jawab Gunung.

Sebelumnya, Karen didakwa merugikan negara Rp 568 miliar atas investasi participating interest Blok Basker Manta Gummy (BMG) di Australia. Karen dinilai jaksa mengabaikan prosedur investasi yang berlaku di PT Pertamina.

Perbuatan Karen disebut tidak melakukan pembahasan kajian terlebih dahulu menyetujui participating interest Blok BMG, serta tanpa adanya due diligence, dan analisis risiko. Karen juga disebut menindaklanjuti penandatanganan sale purchase agreement tanpa persetujuan bagian legal dan Dewan Komisaris PT Pertamina sehingga perbuatan itu memperkaya diri, orang lain, atau korporasi. (zap/idh)