Bentrokan di NTB, Serikat Petani Ngadu ke Mabes Polri

Bentrokan di NTB, Serikat Petani Ngadu ke Mabes Polri

- detikNews
Kamis, 22 Sep 2005 14:03 WIB
Jakarta - Sudah hampir satu minggu tragedi bentrokan antara petani dengan polisi di Tanak Awu, Lombok Tengah, NTB, terjadi. Namun belum ada tindak lanjutnya dari pihak-pihak yang berwenang itu.Menyikapi hal itu, Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI) dan Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI), menurut rencana akan mengadukan tindakan kekerasan itu ke Mabes Polri hari ini, Rabu (22/9/2005).hal ini disampaikan Kadiv Bantuan Hukum dan Advokasi PBHI Reinhard Parapat di kantor PBHI, Jl Matraman Raya, Jakarta Timur."Masyarakat telah mengalami kerugian fisik dan psikis akibat perlakuan kekerasan dari aparat. Di samping itu, organisasi juga mengalami kerugian berkaitan dengan acara yang telah mereka persiapkan," kata Reinhard.Dituturkan dia, bentrokan antara petani dengan polisi diawali ketika petani hendak menyelenggarakan acara pertemuan. Acara itu sudah memiliki surat izin dari Mabes Polri, dan tidak ada aksi arak-arakan.Namun saat acara hendak berlangsung, surat izin dicabut. Petani pun protes, namun disambut tindakan keras dari jajaran Polda NTB. Alhasil bentrokan pun terjadi."Entah mengapa Polda NTB dengan alasan ada pihak-pihak tertentu akan mengganggu acara, sehingga ditakutkan akan menimbulkan bentrokan. Lalu polisi membubarkan acara tersebut," ujar Reinhard heran.Mabes Polri, yang kemudian turun tangan menangani masalah ini, mengajukan dasar hukum pembubaran petani, yaitu pasal 510 KUHP tentang tidak adanya izin arak-arakan, serta UU 5/1963 tentang Pemberian Jasa."Itu terlalu dibuat-buat dan tidak berdasar hukum. Ini merupakan kebohongan publik," tegas Reinhard.Sekjen FSPI Henry Saragih menambahkan, justru polisi yang telah membuat acara tidak kondusif dengan mondar-mandir di lokasi acara.Hingga kini, lanjut dia, polisi terus melakukan intimidasi dengan menyebar isu akan menangkap 10 tersangka yang terkait pelaksanaan acara tersebut. "Tapi sampai saat ini belum ada penangkapan. Dan justru telah menimbulkan rasa kekhawatiran dari 7 petani yang terluka parah akibat tembakan. Mereka jadi enggan dirawat di rumah sakit," tandas Henry. (ary/)


Berita Terkait