Solar Langka di Pekanbaru, Kapal Barang Tidak Melaut

Solar Langka di Pekanbaru, Kapal Barang Tidak Melaut

- detikNews
Kamis, 22 Sep 2005 13:29 WIB
Pekanbaru - Pertamina Wilayah Riau belum mampu mengatasi kelangkaan BBM jenis solar di Pekanbaru. Akibatnya, ratusan kapal angkutan barang antarpulau tak lagi berani melaut. Jatah minyak mereka dikurangi Pertamina.Ratusan kapal barang di pelabuhan rakyat di bantaran sungai Siak, Pekanbaru terlihat sepi dari aktivitas bongkar muat barang. Sudah sepekan ini mereka lebih memilih melepaskan jangkar di tepian sungai Siak. Beberapa orderan untuk mengakut barang antarpulau, mereka tolak. Alasanya, mereka tidak memiliki solar."Sudah sepakan ini kami tidak melayani pengiriman barang antarpulau. Ini semata-mata kami lakukan, karena tidak tersedianya solar. Kami tak tahu harus berbuat apa lagi dengan kelangkaan solar ini," kata Edi Ombak pemilik tiga kapal angkutan kepada detikcom, Kamis (22/09/2005) di pelabuhan rakyat Pekanbaru.Ombak, bapak dari empat orang ini menceritakan, dengan terjadinya kelangkaan solar ini, pihaknya diwajibkan mengurus banker (surat pengisian minyak dari Pertamina) dari agen BBM. Selain surat itu, pihak kapal juga diminta mengurus surat izin berlayar (SIB) dari pihak Bea dan Cukai. "Untuk mengurus surat banker saja, kita sudah dikenai pungutan tak resmi dari pihak agen BBM Rp 400 ribu per kapal," kata Ombak.Selain itu, setiap kapal yang berelayar diwajibkan untuk membawa kembali cap dari Bea dan Cukai (BC) sesuai dengan tujuan berlayar. Misalnya saja, kapal angkutan barang dari Pekanbaru dengan tujuan Batam, maka sekembalinya dari Batam, SIB itu harus dicap stempel dari BC Batam. "Bila tidak ada cap stempel itu, kami tidak diperkenankan melakukan pengisian bahan bakar," kata Edi.Yang menjadi persoalan, lanjut dia, bila kapal mereka dicarter mengangkut barang ke sebuah pulau yang tidak tersedia kantor BC. Itu artinya, SIB yang mereka kantongi bakal tidak mendapat cap dan stempel dari BC. Kondisi seperti itu membuat pemilik kapal kewalahan untuk mengisi ulang solar mereka."Kita kesulitan bila tujuan mengantar barang ini tidak tersedia kantor BC. Itu artinya, hilanglah kesempatan kita untuk melakukan pengisian solar. Sebab, untuk mengisi solar, harus ada surat rekomendasi dari BC sesuai dengan tujuan kita berlayar," kata Ombak yang memiliki kapal KM Sumber Jaya dengan bobot 30 ton tersebut.Kesulitan lainnya yang dihadapi para pemilik kapal angkutan barang ini, adanya pembatasan pengisian solar. Menurut Buyung (45), pemilik kapal Lasumli dengan bobot 150 ton, kapal-kapal mereka dalam sepekan juga tidak berani melaut. Alasannya, Pertamina Riau membatasi pengisian solar.Misalnya saja, kapal Lasumli dari Pekanbaru tujuan Batam dengan menempuh waktu 35 jam itu, membutuhkan 1.600 liter untuk pulang pergi. Namun, saat ini para pemilik kapal hanya diberi jatah 700 liter. Kondisi ini sangat tidak memungkinkan mereka berani untuk berlayar. "Kalau cuma 700 liter, kita bisa kehabisan minyak di tengah laut. Daripada menanggung risiko terombang-ambing di tengah laut, lebih baik kapal kita sandarkan saja di dermaga. Sudah sepakan ini, empat kapal saya tidak berlayar," kata Ujang. (asy/)


Berita Terkait