Pulau Tidung, Pelabuhan Terakhir Sang Raja ke-13 Melawan Penjajah

Pulau Tidung, Pelabuhan Terakhir Sang Raja ke-13 Melawan Penjajah

Danu Damarjati - detikNews
Rabu, 13 Mar 2019 16:00 WIB
Makam Raja Tidung XIII, yakni Raja Pandita, di Pulau Tidung Besar. (Danu Damarjati/detikcom)
Makam Raja Tidung XIII, yakni Raja Pandita, di Pulau Tidung Besar. (Danu Damarjati/detikcom)
Jakarta - Sebelumnya, tak ada yang tahu bahwa makam di pojok barat pulau ini merupakan makam raja pemberani. Semua berubah hingga ada mahasiswi Jepang yang datang membawa pesan dari tanah Kalimantan.

Ini adalah kisah dari Pulau Tidung Besar, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Nama pulau ini berhubungan langsung dengan daerah asal Raja Pandita pemimpin Kerajaan Tidung, saat ini berlokasi di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Makam Sang Raja ada di pulau yang terkenal dengan pariwisatanya ini.

Saat detikcom mengunjungi pulau wisata ini dengan Teras BRI Kapal Bahtera Seva I, Kamis (21/2/2019), kami bertemu Muhammad Nafsir (61), keturunan sekaligus juru kunci makam Raja Pandita.

Dia menjelaskan, Raja Pandita bernama Aji Muhammad Sapu dengan nama kecil Kaca. Dia lahir di Malinau, 20 Juli 1817.

"Raja Pandita adalah orang yang paling keras terhadap Belanda," kata Nafsir.

Tertulis jelas di prasasti pembangunan makam, 'Di lokasi ini dibangun makam Raja Pandita, tokoh dan Raja Tidung dari Kabupaten Malinau, yang diasingkan pada tahun 1892 karena menentang penjajahan kolonial Belanda.' Prasasti itu ditandatangani oleh Bupati Malinau dan Bupati Kepulauan Seribu. Karena sikap keras Raja Pandita, dia diasingkan Belanda dari rakyatnya.

Pulau Tidung, Pelabuhan Terakhir Sang Raja ke-13 Melawan PenjajahFoto: Makam Raja Tidung XIII, yakni Raja Pandita, di Pulau Tidung Besar. (Danu Damarjati/detikcom)

Cerita bermula dari perseteruan Kerajaan Tidung dan Kerajaan Bulungan yang sebenarnya masih berkerabat. Kerajaan Bulungan yang dipimpin Sultan Maulana Mohammad Kaharudin mengklaim telah menguasai Kerajaan Tidung dan berhak atas hasil penjualan komoditas hutan. Klaim Kerajaan Bulungan atas Kerajaan Tidung diteken pula oleh pemerintah kolonial Belanda, tahun 1878. Klaim ini dibuat sepihak tanpa melibatkan Raja Pandita.

Sang Raja Tidung XIII itu merasa tetap berdaulat. Karena merasa sudah tua, dia menyerahkan kekuasaannya ke cucunya bernama Sayid Abdurrahman/Syarif Panamban. Namun ternyata Sultan Bulungan tidak terima dengan penyerahan kekuasaan tanpa sepengetahuan dirinya. Sultan Bulungan merasa dirinya berhak atas politik dan pajak dari Kerajaan Tidung. Belanda bermain. Raja Pandita dipaksa meneken kesepakatan dan sumpah yang menguntungkan Sultan Bulungan.

"Tapi Raja Pandita tidak mau, sehingga diasingkan ke Banjarmasin (Kalimantan Selatan). Dari Banjarmasin, dia mendapat istri bernama Teah. Selanjutnya, Raja Pandita dilempar lagi ke Batavia," kata Nafsir.

Pulau Tidung, Pelabuhan Terakhir Sang Raja ke-13 Melawan PenjajahMuhammad Nafsir, juru kunci Makam sekaligus keturunan Raja Tidung XIII yakni Raja Pandita. (Danu Damarjati/detikcom)

Dari daratan Batavia, Raja Pandita dan istrinya melarikan diri. Di tanah pengasingan, tak ada yang tahu bahwa orang yang berlayar ke Kepulauan Seribu adalah seorang Raja. Perahunya berlabuh di Pulau Air, dia menggunakan nama Aji Muhammad Sapu di tanah baru. Satu hal yang dia tinggalkan sebagai penanda, dia menamai Pulau Air sebagai Pulau Tidung, supaya ingatan tentang Kerajaan Tidung terjaga. Dia punya anak bernama Hamidun yang kelak akan melahirkan keturunan di pulau ini.

Perempuan Jepang datang bawa pesan

Raja Pandita mangkat dan dikebumikan di Pulau Tidung Besar pada 1898. Hingga seabad kemudian, tak ada yang tahu bahwa makam di sini adalah makam raja yang pemberani melawan penjajahan. Nafsir masih ingat, orang tuanya hanya menyebut makam tua itu sebagai makam kakek.

"Kami sering berziarah ke sana, mengaji. Keluarga saya menyebutnya bukan raja," kata Nafsir.

Pulau Tidung, Pelabuhan Terakhir Sang Raja ke-13 Melawan PenjajahFoto: Makam Raja Tidung XIII, yakni Raja Pandita, di Pulau Tidung Besar. (Danu Damarjati/detikcom)

Hingga pada 2011 silam, datanglah perempuan Jepang ke kantor Kelurahan. Dia adalah satu orang yang mengikuti program pertukaran mahasiswa Indonesia-Jepang. Dia datang membawa pesan dari Tanah Malinau, Kalimantan Utara, tempat asal Kerajaan Tidung.

"Orang Jepang itu diarahkan untuk bertemu uwak (paman) saya, Haji Ja'far yang kini sudah almarhum," kata Nafsir. Jeriken minyak bertuliskan huruf Jepang di rumah Haji Ja'far membuat mahasiswi itu berani memulai percakapan menggunakan bahasa Negeri Sakura. Haji Ja'far bisa berkomunikasi dengan lancar, karena dia dan banyak penduduk sezamannya mengenyam pendidikan kolonial Jepang.

"Mahasiswi Jepang itu datang ke sini membawa pesan dari Malinau Kalimantan sana. Dia diarahkan untuk mencari lokasi bernama Tidung di Jakarta. Sampailah dia di pulau ini. Baru setelah itu, dia memberikan nomor telepon seseorang dari Malinau," kata Nafsir. Mahasiswi itu berpesan agar pihak Pulau Tidung menghubungi pihak Malinau. Maka komunikasi antarpulau dimulai. Diberitahulah keluarga Nafsir oleh pihak dari Malinau, bahwa makam yang selama ini disebut sebagai pusara kakek adalah makam Raja Pandita dari Kerajaan Tidung. Sejarah yang terpendam selama seabad akhirnya muncul kembali.

Berdasarkan hasil rapat pihak Pulau Tidung dan pihak keluarga di Malinau, pemindahan makam dilakukan tahun 2011. Makam dipindahkan dari sudut barat ke tengah perkampungan, karena lahan di sudut barat sudah dibeli oleh "bos-bos Jakarta", demikian Nafsir menyebutnya. Nafsir sendiri menjadi Ketua Penggalian Makam. Makam istri dan anak Raja, yani Haji Hamidun yang tak lain adalah kakek Nafsir, juga turut dipindahkan.

Baca berita lainnya mengenai Teras BRI Kapal Bahtera Seva di Ekspedisi Bahtera Seva.


(dnu/fjp)