Tangani Flu Burung, Pemerintah Jangan Bak Kebakaran Jenggot

Tangani Flu Burung, Pemerintah Jangan Bak Kebakaran Jenggot

- detikNews
Kamis, 22 Sep 2005 08:22 WIB
Jakarta - Maraknya kasus flu burung membuat banyak pihak prihatin. Meski demikian, pemerintah diminta menangani penyakit Avian Influenza (AI) ini secara wajar dan arif."Sudah saatnya para pejabat tidak bertindak seperti orang kebakaran jenggot dan saling menyalahkan," kata pakar kesehatan hewan dari IPB, drh Heru Setijanto, saat dihubungi detikcom pertelepon, Kamis (22/9/2005) pagi.Ia menyontohkan langkah pemerintah yang berlebihan seperti penutupan Kebun Binatang Ragunan. Seharusnya, tambah Heru, pemerintah menjelaskan ke publik apa arti hewan yang positif mengidap virus AI. "Positif itu apanya, apakah dia terkena penyakit flu burung atau sekadar ditemukan virus flu burung," tegas Dekan Fakultas Kedokteran Hewan-IPB ini.Menurutnya, hewan-hewan di Ragunan belum ada yang menunjukkan tanda-tanda sakit, meski mengidap virus AI. "Tapi kok malah ditanggapi dengan menutup Ragunan. Ini kan aneh," aku Heru.Ia menilai kasus flu burung di Indonesia memang fenomenal. Biasanya, maraknya wabah dugaan flu burung pada manusia ditandai dengan meningkatnya angka kematian hewan akibat virus ini. "Tapi yang terjadi di kita, angka kematian hewan tidak melonjak tapi kasus yang menimpa manusia terus bertambah," ujarnya.Secara teoritis, virus flu burung sulit tertular ke manusia. Sebab, ada perbedaan reseptor virus yang terdapat di tubuh unggas dengan manusia. "Penularan virus AI itu closed contact dan tidak semua hewan peka terhadap virus," jelasnya.Heru tidak menampik adanya kemungkinan faktor lain yang muncul. Atau memang ada jenis unggas yang bisa menyebarkan virus AI dalam jumlah yang sangat besar. "Bisa saja faktor genetis manusia yang memang terlalu peka. Tapi ini harus diteliti lebih mendalam," tandasnya.Langkah Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari yang menerapkan status KLB untuk flu burung dinilai sebagai bentuk tindakan tergesa-gesa. Seharusnya, Depkes melakukan penyelidikan lebih mendalam untuk kasus flu burung yang diidap manusia."Status KLB ini bukti ada inkoordinasi antara Depkes dan Deptan dalam menangani kasus flu burung mulai dari kasus Iwan Siswara," tuturnya. Ia mengusulkan agar Depkes dan Deptan melakukan pembenahan sistem koordinasi dalam menangani flu burung. "Jangan-jangan cause of death-nya bukan karena virus flu burung tapi yang lain. Ini yang harus diungkap dan jangan ditutup-tutupi," pinta Heru. (ton/)


Berita Terkait