detikNews
Senin 11 Maret 2019, 22:07 WIB

LIPI Lakukan Digitalisasi Tesis yang Sudah Tak Relevan

Indra Komara - detikNews
LIPI Lakukan Digitalisasi Tesis yang Sudah Tak Relevan Gedung LIPI (Foto: Dok Instagram @lipiindonesia)
Jakarta - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Dokumentasi dan Data Ilmiah (PDDI) melakukan digitalisasi terhadap dokumen-dokumen yang sudah lama. LIPI mengatakan digitalisasi ini untuk meningkatkan layanan PDDI dengan melakukan proses weeding atau penyiangan koleksi yang sudah tidak relevan dengan kebutuhan zaman serta secara fisik sudah rusak parah.

"Mekanisme ini adalah mekanisme yang seharusnya berjalan rutin setiap tahun. Yang terakhir kali kami lakukan pada 2015," ujar Pelaksana Tugas Kepala PDDI LIPI Hendro Subagyo dalam keterangan tertulisnya, Senin (11/3/2019).



Hendro mengatakan proses digitalisasi ini disalahartikan sebagai penghapusan koleksi disertasi dan tesis dengan menjual koleksi tersebut. Dia menegaskan digitalisasi dokumen lama LIPI tidak berkaitan dengan reorganisasi.

"Mekanisme weeding adalah proses normal di dunia perpustakaan untuk memeriksa koleksi perpustakaan, judul per judul, untuk penarikan permanen berdasarkan kriteria penyiangan, terutama kondisi fisik dari koleksi tersebut," paparnya.

PDII-LIPI pada tahun 2018 menetapkan kebijakan penyiangan koleksi dengan memfokuskan penyiangan untuk koleksi tercetak yang jarang digunakan oleh pengguna, seperti majalah Catu (jurnal internasional) yang dilanggan tahun 1991-1998, jurnal nasional, tesis/disertasi, dan laporan penelitian (hibah). Adapun kriteria dalam pelaksanaan penyiangan koleksi tersebut, yaitu: (1) umur dan fisik koleksi; (2) efektivitas dan efisiensi pemanfaatan ruang perpustakaan; (3) pemanfaatan koleksi tercetak; (4) relevansi substansi koleksi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.



Hendro menambahkan Revolusi Industri 4.0 memungkinkan pertukaran informasi antarlembaga dapat dilakukan secara digital. Ditambah lagi, perkembangan teknologi informasi saat ini telah mendisrupsi perilaku pencarian informasi perpustakaan dan proses penerbitan literatur.

"Pencarian informasi saat ini dimudahkan oleh jaringan internet yang menyediakan akses kepada jurnal online dan buku digital yang bisa di-download dari aplikasi yang dimiliki perpustakaan," tutur Hendro.

"Penerbitan jurnal khususnya di Indonesia sudah diarahkan untuk diterbitkan secara online dengan tujuan memperluas jangkauan pembaca. Berdasarkan data dari ISJD Neo (www.isjd.pdii.lipi.go.id) terdapat 14.801 judul jurnal yang dapat diakses secara online. Kemudian penerbitan buku juga sudah mulai bergeser ke dalam bentuk digital," sambungnya.

Hendro mengatakan hal tersebutlah yang mendorong PDDI mengalihkan layanan jurnal nasional ke layanan digital dan online melalui sistem ISJD (pengguna harus registrasi dan tidak dikenakan biaya untuk akses artikel full text jurnal).

"Saat ini, koleksi-koleksi fisik dari majalah dan jurnal internasional sudah diganti dengan akses langganan versi digital. Sedangkan koleksi majalah dan jurnal dalam negeri termasuk yang dipertahankan koleksi fisiknya. Koleksi-koleksi penting dan bersejarah juga tetap kami simpan. Meskipun ada digitalisasi, fisiknya tetap kami pertahankan," pungkas Hendro.



Sementara itu, untuk koleksi tesis dan disertasi yang masuk dalam literatur kelabu (grey literature), Hendro menjelaskan, tidak dipertahankan dalam bentuk cetak karena koleksi yang disimpan di PDDI adalah salinan tesis dan disertasi untuk dokumentasi metadata. Pengelolaan digital yang dilakukan LIPI juga sudah berdasarkan atas keputusan Menristekdikti.

"Berdasarkan Keputusan Menristekdikti No 44/M/Kp/VII/2000, setiap lembaga pemerintah wajib menyampaikan tiga salinan literatur kelabu yang berkaitan dengan iptek. Satu rangkap untuk dijadikan sebagai bahan analisis dalam pembuatan kebijakan di Kemenristekdikti dan dua rangkap diserahkan ke PDDI untuk didokumentasikan dan diinformasikan ke masyarakat luas," papar Hendro.

Dirinya menjelaskan, sebelum dilakukan penyiangan atau bahkan digitalisasi, PDDI memastikan tesis dan disertasi aslinya masih tersimpan di perguruan tinggi asal. Saat ini pihaknya melakukan analisis sampai 60 artikel dan dokumentasi digital sampai 200 artikel setiap hari.

"Lewat program Repositori-Depositori Ilmiah, kami memfokuskan ke preservasi data primer hasil penelitian dan kekayaan intelektual. Kami mulai melakukan proses digitalisasi aset-aset koleksi bersejarah agar tetap awet serta lebih mudah diakses masyarakat tanpa harus datang langsung ke PDDI LIPI," ujar Hendro.

"Kami juga melakukan stock opname rutin sehingga rak-rak koleksi tersebut saat ini dalam kondisi kosong. Kami jadwalkan proses tersebut akan selesai pada bulan Mei," tambahnya.
(idn/knv)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com