TNI Kejar Egianus Kogoya cs: Kami Tak Gentar, Tangkap Hidup atau Mati

Herianto Batubara - detikNews
Jumat, 08 Mar 2019 13:09 WIB
Ilustrasi Prajurit TNI (Foto: Dok. Puspen TNI)
Jakarta - Kelompok Egianus Kogoya jadi dalang dalam kasus penyerangan di Distrik Mugi, Nduga, Papua, yang membuat 3 prajurit TNI gugur. Kodam XVII/Cenderawasih meminta Egianus cs segera menyerah atau ditangkap hidup atau mati.

"Tidak ada batas waktu pengejaran, batas waktunya adalah tertangkap hidup atau mati. Atau dia dengan sukarela menyerahkan diri, menyatakan setia kepada NKRI, kita ampuni. Kalau melakukan perlawanan, risiko tentunya kita hadapi sama-sama. Target kita mereka tertangkap hidup atau mati," kata Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi saat dihubungi, Jumat (8/3/2019).


Kolonel Aidi menyatakan TNI tidak akan menoleransi kelompok apa pun yang mencoba-coba merongrong kedaulatan NKRI, termasuk kelompok Egianus Kogoya.

"Apalagi mereka mengangkat senjata dan mempersenjatai diri secara ilegal. Tidak akan ada negara mana pun di dunia ini yang mentolerir terhadap pemberontakan kedaulatan," tegasnya.

Kelompok Egianus jadi dalang penyerangan pekerja proyek Trans Papua pada awal Desember 2018. Mulanya disebut ada 31 pekerja yang tewas. Namun Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebut korban tewas sebanyak 20 orang. Sebanyak 19 orang merupakan pekerja proyek dan 1 orang adalah prajurit TNI.

Saat itu, juru bicara kelompok yang menamakan diri Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), Sebby Sambom, membenarkan Egianus Kogoya cs jadi dalang penyerangan tersebut. Menurut Sebby, jauh sebelum penembakan, mereka telah memperingatkan agar pembangunan jalan Trans Papua tidak dilanjutkan.


Kolonel Aidi menegaskan saat ini sudah ada 600 personel TNI yang diterjunkan untuk pengamanan dan melanjutkan pembangunan jembatan. TNI akan bertindak tegas jika ada pihak mana pun yang mengganggu pembangunan.

"Mereka (Egianus Kogoya cs, red) sudah mengultimatum tidak menerima pembangunan karena menurut mereka pembangunan akan mempersempit ruang gerak mereka. Sementara kalau kita berpikir ini untuk menjaga keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sampai ke pedalaman tersentuh pembangunan," ujar Kolonel Aidi.

"Kita bisa bayangkan Kabupaten Nduga yang terdiri dari 32 distrik atau kecamatan, seluruh kecamatan hanya bisa ditempuh pesawat perintis. Artinya, ini daerah-daerah sangat terisolasi. Inilah yang TNI lakukan, untuk membuka keterisolasian," sambungnya.


Saksikan juga video 'Baku Tembak Kelompok Bersenjata Kembali Terjadi di Nduga Papua':

[Gambas:Video 20detik]

(hri/fjp)